
Setelah semuanya di beri tahu bahwa Aulia sedang hamil termasuk Ibunya Aulia dan keluarga, kini semuanya ikut senang karena Aulia sedang hamil.
Setelah berunding satu keluarga, akhirnya keluarga memutuskan untuk tidak mengijinkan Aulia ikut tinggal di Semarang. Bu santy tidak mengijinkan karena disana jauh dari keluarga, dan klau Aulia disini kan sekali-kali bisa dijenguk oleh Ibunya.
Semenjak Aulia hamil, Bayu sangat protektif sama Aulia. Semua apa yang dilalukan Aulia selalu dipantu sama Bayu dan bahkan makanannya pun dia sendiri yang mengaturnya sampai Bu Santy dibuat heran dengan sikap anaknya ini.
"Bayu, kamu jangan keras sama Aulia sayang. Wanita hamil itu perasaannya pasti sensitif, kalau Aulia bisa menerima sikap kamu yang terlalu memproteknya, kalau tidak bisa jadi salah faham, Nak," ucap Bu santy saat mereka duduk berdua malam-malam.
"Iya Ma, Bayu hanya nggak ingin kenapa-napa sama kehamilan Aulia," jawab Bayu.
"Iya sayang, Mama mengerti akan hal itu. Tapi, jika kamu terlalu protektif juga nggak baik, jadi jangan begitu lagi, ya,?" ucap Bu Santy sembari memegang tangan Bayu.
Bayu mengangguk pelan sembari melempar senyum kepada Mamanya. Kini dia sangat senang sekali karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang Ayah. Bu Santy tersenyum melihat anaknya yang menikmati hari-harinya sebagai calon Ayah.
(***)
Beberapa hari kemudian, tepatnya di kota Semarang, Bayu menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Di kantor dia semakin semangat dalam bekerja. seperti kali ini dia memimpin meeting dengan lancar.
"Oke, saya rasa meeting hari ini sampai disini saja. Semuanya sudah jelas dengan jobdisk nya masing-masing, kan? Kalau gitu saya ucapkan terima kasih dan semuanya bisa kembali ke tempatnya masing-masing," ucap Bayu dengan tegas dan jelas.
Semuanya akhirnya meninggalkan tempat meeting tidak dengan Windy. Dia masih sibuk membereskan laptop serta berkas-berkas yang masih berantakan. Bayu menoleh ke arah Windy sebentar kemuan dia tersenyum.
"Oh iya Bu Windy, saya ada kabar baik.!"
"Hmmm., kabar baik apa, Pak,?" Windy mengernyitkan alisnya.
"Istri saya sekarang hamil dan sudah satu bulan. Doakan semoga sehat-sehat semuanya, ya Bu,?" ucap Bayu dengan wajah sumringah.
"Oh iya, selamat ya Pak Bayu. Saya ikut senang mendengarnya. Pak Bayu sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah," jawab Windy tak kalah senangnya.
"Iya Bu, makasih."
__ADS_1
"Tapi, sekarang istri Bapak tinggal disini, kan.?"
Bayu tersenyum kecil, "Enggak Bu. Dia di Surabaya. Soalnya kalau ikut tinggal disini nggak ada temannya kalau saya tinggal ke kantor. Jadi keluarga sepakat dia di Surabaya saja. Nanti tinggal saya saja yang tiap minggu ngalah untuk ke Surabaya," jelas Bayu.
"Oh gitu, benar juga Pak. Sekali lagi selamat Pak Bayu," ucap Windy sambil melempar senyum.
"Iya Bu. Sama-sama."
Akhirnya Windy berdiri dan meninggalkan Bayu yang masih diam di tempat duduknya. Kini Bayu sedang duduk sendiri di ruangan meeting. Dia senyum-senyum sendiri karena nggak menyangka kalau sebentar lagi dia bakal jadi seorang Ayah.
Tanpa dia sadari kalau ada seseorang masuk ke ruangan tersebut. Laki-laki itu tak lain adalah Pak Adrian atasan di kantor tersebut.
"Selamat siang Pak Bayu,?" sapa Pak Adrian.
Bayu yang kaget dengan kedatangan bosnya itu langsung berdiri dengan wajah yang gugup campur kaget.
"Eh Pak Adrian. Selamat siang, Pak,!?" jawab Bayu.
Bayu kaget kenapa tiba-tiba bosnya itu ingin bicara dengannya. Apa ada yang salah selama dia memimpin meeting barusan. Berkecamuk sudah pikiran Bayu.
"Oh iya ada apa, Pak.?"
"Begini Pak Bayu, setelah saya menghadiri pertemuan semua kepala cabang di seluruh Indonesia. Ada satu tawaran untuk menempati satu posisi kepala cabang di Surabaya, tapi dengan mengikuti persyaratan serta pelatihan khusus. Dan untuk itu saya mengajukan Pak Bayu sebagai salah satu kandidat pimpinan di Surabaya. Alasan saya mengajukan Pak Bayu adalah selain Pak Bayu asli orang Surabaya, Pak Bayu adalah orang yang sangat berkompeten dalam hal ini. Lagian Pak Bayu kan sudah hafal orang-orang di Surabaya secara Pak Bayu sebelumnya di kantor tersebut. Saya harap Pak Bayu mau menerima tawaran ini," jelas Pak Adrian dengan seksama.
"Apa! Saya diangkat sebagai kepala di kantor cabang Surabaya,?" tanya Bayu kaget.
"Ya sepertinya begitu, tapi Pak Bayu tetap mengikuti persyaratannya yaitu mengikuti pelatihan selama tiga bulan di Jakarta,!" jawab Pak Adrian.
"Di Jakarta,!" seru Bayu kaget.
"Iya Pak. Kenapa memang,?" tanya Pak Adrian balik.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Pak. Cuma kaget aja, kok jauh ya pelatihannya," jawab Bayu sedikit pelan.
"Tapi, Pak Bayu nggak keberatan kan, secara ini bagus buat jenjang karir Pak Bayu sendiri," ucap Pak Adrian.
"Iya Pak, tapi saat ini istri saya lagi hamil muda, dan pastinya butuh waktu lama buat sama saya. Tapi, nanti saya bicarakan lagi sama istri saya," jawab Bayu.
"Iya Pak Bayu, sebaiknya ini di pertimbangkan sekali lagi. Ini demi karir sekaligus masa depan Bapak dan sekeluarga," ucap Pak Adrian.
"Iya Pak. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya."
"Iya sama-sama, Pak. Kalau gitu saya permisi dulu dan sekali lagi saya ingatkan agar cepat memberi jawaban," ucap Pak Adrian seraya berdiri dari tempat duduknya dan keluar ruangan.
Bayu masih duduk dan pikirannya jadi kemana-mana. Dia bingung dan dilema untuk masalah satu ini. Jika ditolak, pasti kesempatan seperti ini lagi nggak akan datang, dan sesuai impian serta cita-citanya dulu, dia harus bisa sukses dalam pekerjaannya. Tapi jika diterima, gimana dia harus meniggalkan Aulia selama tiga bulan itu. Padahal Aulia lagi hamil muda dan pasti ingin dimanja oleh dirinya.
"Ya Allah, berikan petunjukMu untuk masalah ini. Bagaimana jalan keluarnya jika hambaMu ini mengambil kesempatan emas seperti yang ditawarkan Pak Adrian," ucap Bayu pelan.
Bayu masih tenggelam dalam pikirannya saat ini. Hampir tiga puluh menit dia masih di dalam ruangan meeting tersebut. Tak lama terdengar suara pintu diketuk.
"Tok..tok..,!"
"Masuk,!"
"Maaf Pak Bayu, apa Pak Bayu sudah makan siang? Kalau belum, ini anak-anak pada pesan nasi uduk. Apa Pak Bayu dipesankan sekalian,?" tanya Windy.
"Oh iya Bu Windy, sepertinya saya nggak makan siang. Soalnya lagi nggak selera," jawab Bayu pelan.
"Ada apa dengan Pak Bayu? Padahal sebelumnya dia senang sekali menceritakan soal kehamilan istrinya," ucap Windy dalam hati.
--------------------------------
Next*...
__ADS_1