
Bayu kembali menutup ponselnya dan kini dia melanjutkan pekerjaannya. Bayu memang tergolong karyawan yang aktif dan rajin. Setelah lulus kuliah dia langsung melamar di kantornya yang sekarang menjadi tempat kerjanya.
Sejak kuliah dia memang sering ikut event di perusahaan seluler tersebut. Sampai akhirnya setelah lulus dia langsung melamar ke kantornya itu. Sampai hari ini dia sudah bergabung dengan perusahaan seluler tersebut kurang lebih sudah hampir delapan tahun.
Dengan dia di promosikan naik jabatan mungkin juga karena dia termasuk karyawan teladan. Secara fisik dia juga tidak mengecewakan. Meskipun kulitnya nggak begitu putih tapi dia tergolong cowok yang bersih dan rapi.
Penampilan yang selalu karismatik dan aura yang memancar menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa. Tapi, sayangnya sejak mengenal Dini dia selalu setia meskipun banyak wanita yang ingin mendekatinya.
Akhirnya sampailah kejadian yang menimpanya dan Dini waktu itu, kecelakaan yang sampai membuat hilangnya nyawa tunangannya itu kembali membuat dirinya semakin tertutup dan murung.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan sosok gadis anggun dan sederhana yang mencuri hatinya yang bernama Aulia. Dialah perempuan yang mampu mengembalikan semangat hidup Bayu serta membuat hati Bayu luluh dan memutuskan untuk melamarnya.
Aulia, dialah perempuan berhijab dengan penampilan yang sederhana namun membawa pesona bagi Bayu. Keibuan serta kesederhanaan Aulia yang membuat Bayu akhirnya bertekuk lutut dihadaoan seorang Aulia.
"Tok..tok..,!" suara ketukan pintu membuat dirinya kaget.
"Selamat siang Pak Bayu, sekarang diminta Bu Sandra ke ruangan HRD," ucap salah satu anak buahnya.
"Oh iya, Sen. Bentar lagi saya kesana," jaeab Bayu.
Setelah dia ke ruangan HRD, dia kembali ke ruangannya. Di tengah jalan dia berpapasan dengan Irwan yang juga mau ke ruangannya.
"Bay, denger-denger kamu mau di tugaskan ke Semarang. Kapan berangkatnya,?" tanya Irwan.
"Nanti malam, Ir."
"Terus, apa Aulia tahu tentang hal ini,?" tanya Irwan lagi.
"Iya sudah tahu."
"Lalu gimana reaksinya,?" tanya Iwan menyelidik.
"Dia setuju-setuju saja. Kan ini demi masa depan karierku. Dia selalu mensupport semua kegiatanku."
"Enak ya kamu, Bay. Coba Dinda seperti Aulia. Pasti aku akan bahagia sekali," ucapnya pelan.
__ADS_1
Bayu kaget dengan kalimat Irwan barusan. Ada apa sebenarnya dengan rumah tangga Irwan dan Dinda.
"Sudahlah, Ir. Kamu harus sabar dan bisa membimbing Dinda. Menikahi Dinda adalah keputusanmu sendiri. Jadi, segala resiko dan konsekuensinya kamu harus bisa terima," jelas Bayu.
"Iya Bay, aku memang sangat mencintainya. Dan aku janji tidak akan mengeluh lagi soal Dinda."
"Bagus kalau gitu, ayo kita lanjutkan kembali pekerjaan kita," ajak Bayu sambil merangkul pundak sepupu sekaligus anak buahnya itu.
(***)
Sekitar jam tiga sore Aulia sengaja minta ijin pulang lebih cepat karena dia mau membantu menyiapkan Bayu packing buat berangkat Semarang.
"Bu, saya mau menyiapkan baju-baju Mas Bayu. Tadi dia menelpon saya untuk membantu dia packing," ucap Aulia sesampainya di ruang tengah.
"Iya sayang, kamu langsung keatas saja ke kamarnya. Nanti Ibu nyusul, ini Ibu masih membuatkan Bapak kopi," jawab Bu Santy.
Aulia mengangguk dan dia langsung naik ke atas untuk menuju kamar Bayu. Perlahan dia membuka pintu kamar Bayu. Sebenarnya dia nggak enak kalau masuk kamar Bayu sendirian. Tapi berhubung Bu Santy menyuruhnya naik duluan, maka kini dia harus masuk sendiri.
Dia berjalan mengitari seluruh penjuru kamar Bayu. Tempat tidur ukuran king size terletak di sudut kanan. Ada nakas kecil di sebelah kiri tempat tidur tersebut. Lemari pakaian dengan tiga pintu terpajang sebelah kiri dari nakas tersebut.
Ada meja kerja yang isinya berbagai buku dan sebuah laptop. Ada koleksi beberapa miniatur motor gede dan mobil yang tertata rapi di sebuah rak kecil yang terletak diatas meja tersebut.
Aulia berhenti melihat-lihat, karena pandanganya terhenti pada sebuah pajangan yang menempel di dinding kamar Bayu. Nampak sebuah foto rame-rame di sebuah hotel. Disitu semua memakai seragam kantor dimana Bayu bekerja.
Disitu terlihat Bayu sedang berdiri bersebelahan dengan perempuan berambut pendek nan cantik, nampak Bayu merangkul pundak perempuan itu. Aulia tersenyum melihat gambar tersebut.
"Itu foto kantor Bayu sedang ada event di sebuah hotel," seru Bu Santy dari belakang.
"Eh Bu Santy, maaf saya melihat-lihat foto ini," jawab Aulia.
"Oh tidak apa-apa, Nak."
"Baju mana yang perlu disiapkan, Bu,?" tanya Aulia.
"Itu kamu buka lemarinya, tolong ambilkan kopernya saja dulu. Sementara kamu siapkan seragam kantor dan celananya," jawab Bu Santy.
__ADS_1
"Baik, Bu."
Aulia kemudian membuka lemari dan mengeluarkan koper dari dalam lemari tersebut. Lalu dia mencari deretan seragam kantor Bayu. Dia melihat di gantungan ada tiga kemeja seragam kantor.
Lalu dia mengambil celana yang ada di tumpukan. Kini Aulia sudah mengambil tiga seragam kantor dan tiga celananya. Kemudian dia mengambil beberapa kaos oblong santai dan celana pendek. Bu Santy memperhatikan calon menantunya itu dengan tatapan sumringah.
Dia sangat kagum dengan Aulia, perempuan macam Aulia lah yang di butuhkan anaknya. Dia tidak canggung saat membantu menyiapkan baju dan keperluan Bayu.
Disaat mereka tengah sibuk mempersiapkan semua keperluan Bayu, tiba-tiba Bayu datang dan langsung masuk ke kamarnya. Dia tersenyum saat melihat kedua wanita hebatnya membantu menyiapkan semua keperluannya.
"Kalian berdua memang kedua wanita terhebatku. Aku sangat beruntung sekali karena di anugerahi dua wanita hebat dalam hidupku," ucapnya tiba-tiba saat di depan pintu.
Sontak Bu Santy dan Aulia kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Kemudian Bu Santy tersenyum karena mendapati anak semata wayangnya telah datang.
"Bayu, kamu pulang agak cepat,?" tanya Bu Santy.
"Iya, Ma. Bayu diberi dispensasi untuk pulang cepat supaya bisa menyiapkan keperluan Bayu," jawab Bayu sambil menyalami tangan Mamanya.
Kemudian Aulia mendekati Bayu dan mencium punggung tangan calon suaminya. Bu Santy tersenyum melihat pemandangan indah dihadapannya kali ini.
"Semuanya sudah cukup, Mas,?" tanya Aulia.
"Kalau baju sudah, sayang. Tinggal sepatu dan perlengkapan mandi saja."
"Dimana peralatan mandinya, Mas. Biar aku siapkan sekalian," ucap Aulia.
"Semuanya ada di kamar mandi, tapi nggak usahlah. Nanti aku beli yang baru aja biar nggak susah-susah bawa dari sini," jawab Bayu.
"Masa semuanya harus beli baru, Mas. Kalau memang masih ada mendingan dibawa saja, nanti kalau habis tinggal beli disana," jawab Aulia.
"Iya Bay, benar apa kata Aulia. Kayak shampo dan facial foam yang masih ada mendingan dibawa saja. Kalau yang sudah habis baru beli disana," sahut BuSanty.
"Iya juga ya. Baiklah kalau begitu. Kalian memang wanita terhebatku. Bisa mengingatkan jika aku keliru," ucap Bayu sambil merangkul pundak Aulia dan Mamanya.
Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama. Tak terasa sudah hampir satu jam mereka menyiapkan keperluan Bayu.
__ADS_1
-------------------------------
Next...