
"Gani.!!"
Seketika anak laki-laki itu menoleh kearah Bayu.
"Kak Bayu?" jawabnya.
Lalu Bayu mendekati Gani yang duduk dipinggir teras Masjid. "Kamu mau Sholat, juga.?"
"Iya, Kak."
"Kakak juga mau Sholat. Ayo kita berjamaah," ajak Bayu.
Kemudian mereka berdua ambil air wudhu kemudian masuk kedalam Masjid. Bayu menjadi imamnya, Gani mengikuti dibelakangnya. Setelah sekitar lima belas menit mereka selesai Sholat dan berdoa. Bayu mengajak Gani duduk dulu di teras Masjid untuk ngobrol-ngobrol.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Bayu.
"Kebetulan sudah, Kak. Tadi sebelum kesini Gani sudah makan."
"Oh ya sudah kalau gitu. Terus, habis ini kamu mau kemana?" tanya Bayu.
"Aku mau ke tempat teman-teman anak jalanan" jawabnya.
Bayu sejenak terdiam disaat Gani bilang mau ke tempat anak-anak jalanan. Apa yang dimaksud Gani itu sama yang tadi dia jumpai. Batinnya.
"Dimana itu, ayo Kakak antarkan!" ucap Bayu.
"Memangnya Kakak mau ketempat seperti itu?" tanya Gani lagi.
"Kenapa nggak mau. Kakak nggak peduli tempat apa itu yang penting kan nggak merugikan orang lain" jawab Bayu.
"Baiklah, ayo berangkat sekarang, Kak!" ajak Gani.
Bayu seketika berdiri lalu menuju mobilnya. Gani melihat mobil Bayu jadi takut untuk masuk. Mobilnya bagus mungkin dia takut kalau nanti kotor.
"Ayo masuk,! kenapa kamu masih berdiri disitu?" ucap Bayu.
"Oh iya, Kak. Maaf, aku belum pernah naik mobil sebagus ini." jawabnya.
"Apaan sih kamu ini. Makanya, kamu biar tahu gimana rasanya naik mobil seperti ini, lekas masuk jangan bengong.!" ucap Bayu.
"Iya, Kak."
Kemudian mereka pun masuk kedalam mobil, lalu pergi meninggalkan pelataran Masjid. Gani masih takjub dengan keindahan mobil Bayu. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh dalam mobil. Bayu yang mendapati sikap Gani yang seperti itu langsung tersenyum.
"Gani, senang naik mobil Kakak?" tanya Bayu tiba-tiba.
"Senang, Kak."
"Kalau senang naik mobil, Kakak. Mau ikut tinggal dirumah sama Kakak. Nanti Kakak biayain sekolah kamu, biar nanti kamu bisa lulus sekolah dasar." ucap Bayu.
"Apa, Kak. Bayu nggak salah dengar?" seru Gani.
"Iya, Kakak serius!" jawab Bayu nggak kalah serius.
"Tapi, kalau Gani tinggal dirumah Kak Bayu, terus Nenek tinggal sama siapa, dong?" tanya Gani.
"Astaghfirlloh.,! iya, Kakak lupa kalau kamu tinggal sama Nenek kamu." jawab Bayu.
"Iya, Kak. Nenek sudah tua. Dan sering sakit-sakitan." jawab Gani.
"Emm, ya sudah kalau gitu kamu lanjutin saja sekolah kamu. Kakak akan biayain tapi kamu nggak usah tinggal sama Kakak nggak apa-apa. Biar kamu juga bisa urus Nenek kamu." jawab Bayu.
"Iya, Kak. Gani mau. Makasih, ya Kak?" ucap Gani tersenyum.
__ADS_1
Jalan yang ini kan menuju tempat anak jalanan yang aku datangi tadi. Batin Bayu.
"Kak, depan itu belok kiri."
"Baik.!"
Sesampainya ditempat anak jalanan kumpul, benar dugaan Bayu. Memang ini tempat yang dia datangi tadi. Berarti Gani adalah teman-teman mereka juga, Batinnya lagi.
"Ayo ikut turun, Kak!" ajak Gani.
"Gani, tadi Kakak habis dari sini. Itu kan yang namanya Nisa dan Ganes?" ucap Bayu dalam mobil.
"Lho, yang benar, Kak!" jawab Gani nggak percaya.
"Iya, Kakak memang berniat jalan-jalan melepas penat. Lalu Kakak melewati anak-anak itu, kok kayaknya seru. Akhirnya Kakak berhenti melihati mereka." jelas Bayu.
"Itu teman-teman aku semua, Kak."
Akhirnya keduanya turun dari mobil dan mendekati mereka yang lagi asyik membaca. "Kak Aulia,!" panggil Gani.
Seketika perempuan yang bersama dengan anak-anak itu menoleh dengan senyuman yang manis. Dia berdiri dan mendekati Gani. Kemudian dia menoleh kearah Bayu yang berdiri disamping Gani.
"Gani, kamu dari mana saja, kok baru sampai?" tanya Aulia.
"Tadi Gani Sholat dulu, Kak."
"Terus, kamu kesini naik apa?" tanya Aulia sembari melirik kearah Bayu.
"Maaf, Mbak. Dia kesini sama saya" sahut Bayu.
"Iya, Kak. Aku sama Kak Bayu. Oh iya, kenalin. Dia Kak Bayu, teman Gani juga." jawab Gani.
Aulia tersenyum sembari merapatkan kedua telapak tangannya tanda memberi salam. "Aulia," ucap perempuan itu.
"Mari, silahkan duduk, maaf Mas tempatnya seperti ini." ucap Aulia sambil menata tikar yang hendak dibuat duduk.
Akhirnya mereka semua bergabung dengan yang lainnya. Gani langsung ebaur dengan teman-temannya. Kini Bayu dan Aulia duduk berdampingan sambil melihat mereka yang lagi belajar membaca.
"Maaf, Mbak ini kan yang tempo hari mau ditabrak mobil didepan toko buku itu?" ucap Bayu mulai obrolan.
"Iya, Mas. Saya kerja ditoko buku itu" jawab Aulia.
"Oh, kalau rumah saya depannya toko buku itu, cuma seberang jalannya" jawab Bayu.
Tak lama kemudian ponsel Bayu berdering. Dilihatnya Mamanya menelpon.
["Assalamualaikum, Nak?"]
["Waalaikumsalam, Ma. Ada apa?"]
["Kamu dimana? bisa pulang sekarang."]
["Ini Bayu sama teman, iya Ma. Bayu pulang sekarang."]
["Ya sudah, ati-ati, ya sayang. Assalamualaikum."]
["Waalaikumsalam,"]
Bayu kembali menutup ponselnya. Aulia hanya melirik Bayu. Kemudian Bayu bergegas dan pamitan sama mereka.
"Maaf, saya harus pulang dulu. Mama kayaknya ada perlu" ucap Bayu.
"Iya, silahkan Mas. Hati-hati."
__ADS_1
"Adik-adik, Kak Bayu pulang dulu, ya."
"Iya, Kak. Jangan lupa besok kesini lagi, ya?" jawab mereka serentak.
"InsyaAllah, ya. Gani, Kakak pulang dulu, ya?" ucap Bayu.
"Iya, Kak. Hati-hati,!"
Akhirnya Bayu meninggalkan tempat mereka dan menuju mobilnya. Dia melajukan mobilnya menuju rumahnya. Dalam perjalanan ke rumah Bayu masih penasaran kenapa Mamanya tiba-tiba menyuruhnya pulang.
Setibanya dirumah, dia langsung memarkirkan mobilnya dihalaman. Lalu dia masuk rumah. Mama dan Papanya sudah menunggu diruang tengah.
"Assalamualaikum.,"
"Waalaikumsalam.,"
"Ada apa, Ma. Kok tiba-tiba menyuruh Bayu pulang" tanya Bayu sembari mendaratkan tubuhnya dikursi.
"Tadi itu kok kamu sudah pergi nyetir mobil sendiri, sih.!"
"Oalah, Ma. Kirain ada apa. Bayu bosan, Ma. Pingin keluar tapi motornya masih di bengkel. Jadi, Bayu pakai mobil saja." jawab Bayu.
"Ya ampun, Nak. Mama kawatir. Kamu kan baru sembuh." ucap Bu Santy.
"Nggak apa-apa, Ma. Bayu sudah nggak apa-apa, kok." jawab Bayu.
"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat aja dulu." sahut Papanya.
Bayu akhirnya masuk kamarnya untuk sekedar melepas lelah. Direbahkannya tubuhnya keatas tempat tidurnya. Dia teringat gadis yang membantu belajar anak-anak jalanan tadi. Sosoknya anggun, ramah dan keibuan. Dia seperti menemukan sosok Dini dalam diri Aulia.
"Aaarggh,! Dini, kenapa bayanganmu selalu menghantuiku. Kamu sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Tapi, aku masih bisa merasakan hangatnya dirimu didekatku. Aku akan selalu mencintaimu dan mengenangmu sepanjang hidupku," ucap Bayu dalam hati.
.
.
.
Ditempat yang berbeda, tepatnya rumah Dini. Bu Heny dan Pak Arman lagi ngobrol-ngobrol diteras rumahnya.
"Bu, Ayah kok merasa kalau melihat Bayu itu seperti melihat Dini. Jadi setiap ada Bayu dirumah ini, Hati Bapak rasanya senang banget, kayak rindu Bapak sama Dini terobati." ucap Pak Arman.
"Iya, Yah. Ibu juga begitu. Ibu menganggap Bayu itu seperti gantinya Dini," sahut Bu Heny.
"Bu, gimana kalau Bayu kita jodohkan dengan Dinda. Kan biar anak kita tetap dua seperti dulu." ucap Pak Arman.
"Boleh juga, Yah. Tapi, kira-kira Bayu setuju, nggak ya?" tanya Bu Heny.
"Pasti setuju, secara wajah Dinda kan nggak jauh beda sama Dini. Pasti dia mau" jawab Pak Arman.
"Baiklah, Pak. Ibu setuju saja." ucap Bu Heny.
Tak lama kemudian Dinda datang. Dia baru pulang dari kerja. Dia bekerja disebuah Bank swasta di Surabaya kota. Dia lalu menyalami kedua orang tuanya kemudian masuk kedalam. Tapi, baru saja dia melangkah masuk, Ayahnya memanggilnya.
"Din, duduk sebentar. Ayah mau bicara." ucap Pak Arman.
"Ada apa, Yah?" tanya Dinda.
"Gini, ini tadi Ayah sama Ibu ngobrol-ngobrol soal kamu. Emm, kira-kira kamu mau nggak melanjutkan rencana pernikahan Kakakmu dan Bayu. Maksud Ayah, kamu yang akan menggantikan posisi Kakakmu untuk menikah dengan Bayu.?" ucapan Ayahnya membuat Dinda kaget dan terdiam.
--------------------------------
Next.....
__ADS_1