
Akhirnya siang hari Bayu dan Bu Windy sampai juga di hotel dimana Gazi dan Gavin menunggu. Mereka berdua disambut hangat oleh pemilik hotel tersebut.
"Selamat siang Pak Bayu, selamat datang di hotel dan resto kami," ucap Gazi sambil bersalaman.
"Siang juga Pak Gazi, terima kasih karena telah menyambut kedatangan kami berdua," jawab Bayu.
Mereka akhirnya diajak masuk ke sebuah ruangan meeting namun tempatnya sangat santai dan bisa langsung melihat pemandangan diluar.
"Ya beginilah tempatnya jika kami ada tamu yang sifatnya pribadi namun tidak terlalu formal. Biar sedikit bisa santai," sahut Gavin.
"Bagus sekali Pak Gavin, tempat ini sungguh indah dan tidak terlalu formil. Cocok kalau dibuat obrolan serius tapi santai seperti saat ini," sahut Bayu.
"Iya memang saya buat seperti ini konsepnya. Biar tidak bosan saat membahas suatu permasalahan bisnis."
"Pak Gavin memang kelihatan sudah ahlinya dalam hal perhotelan," ucap Bu Windy.
"Ah biasa saja Bu, saya justru awalnya dari property. Kemudian usaha Ayah saya yang perhotelan agak terbengkalai maka saya langsung banting setir pegang ini dan sampai sekarang, alhamdulilah semuanya berjalan lancar meskipun ada juga rintangan. Tapi, dengan keyakinan dan usaha saya mampu mengatasinya. Dan akhirnya anak saya ini ikut bergabung untuk mengembangkan usaha ini," jelas Gavin.
"Iya Pak. Saya sempat dikasih tahu Pak Adrian soal hotel ini. Beliau sering pakai hotel ini jika ada event," jawab Bayu.
"Iya Pak Bayu. Pak Adrian sama saya kenal baik. Kapan hari beliau menghubungi saya untuk membicarakan event yang akan Pak Bayu dan Bu Windy selenggarakan," jawab Gavin.
__ADS_1
"Oh iya Pak. Nanti mungkin kami dan team seminggu disini. Ada sepuluh orang termasuk saya dan Pak Bayu. Jadi tolong sekalian diatur buat boking kamarnya," sahut Bu Windy.
"Siap Bu Windy. Itu biar saya yang handle nanti. Kalau soal akomodasi serahkan sama saya. Untuk yang lainnya biar Papa saya yang atur," jawab Gazi.
"Siap Pak Gazi."
Akhirnya mereka berempat mulai pembicaraan bisnisnya. Gavin menjelaskan dari awal sampai akhir bagaimana jika ada suatu event atau acara di hotelnya. Bayu dan Bu Windy dengan seksama mendengarkan setiap penjelasan dari Gavin.
Pembicaraan mereka berlangsung kurang lebih hampir dua jam. Kini mereka sampai di acara makan siang. Gavin dan Gazi mengajak Bayu dan Bu Windy menuju restorannya sekalian makan siang.
Semua makanan sudah tersedia sesuai dengan perintah Gavin. Bayu dan Bu Windy merasa terhormat sekali dengan penyambutan yang dilakukan Gavin dan Gazi. Mereka berdua berasa diorangkan karena memang Gavin dan Gazi begitu ramah menyambutnya.
Sekitar jam dua siang, akhirnya acara meetingpun selesai. Bayu dan Bu Windy pamit untuk kembali ke Semarang. Karena jaraknya yang nggak begitu jauh kurang lebih dua jam an, mereka tidak menginap melainkan langsung balik ke Semarang.
Bayu dan Bu Windy kembali ke mobil yang sudah ditunggu Pak sopir. Akhirnya mereka bertiga kembali melakukan perjalanan menuju Semarang.
Dalam perjalanan Bayu banyak ngobrol dengan Bu Windy, tidak seperti pas berangkat mereka banyak diam. Apa mungkin karena mereka sudah banyak terlibat pembicaraan saat di Jogja.
"Saya suka sekali dengan prinsipnya Pak Gavin, dia type orang pekerja keras dan ulet," ucap Bayu.
"Iya Pak Bayu. Benar apa yang Pak Bayu katakan. Pak Gavin itu memang orangnya ulet," jawab Bu Windy.
__ADS_1
"Oh iya Bu Windy, maaf bukannya saya ikut campur soal pribadi. Apa laki-laki yang memgikuti kita tadi pagi itu mantan pacar Bu Windy,?" tanya Bayu hati-hati.
"Hehe, bukan hanya pacar Pak Bayu, kami sudah mau merencanakan untuk menikah. Gara-gara orang tua dia nggak setuju lantaran kan saya sebatang kara," jawab Bu Windy sambil menundukan kepalanya.
"Kok bisa begitu. Masak hanya gara-gara Bu Windy nggak punya saudara mereka jadi gitu.?"
"Saya juga nggak faham, Pak Bayu. Makanya saya mundur saja, karena Brian juga belum bisa memperjuangkan saya kepada orang tuanya."
"Bu Windy yang semangat ya, nggak usah berkecil hati. Kalau memang Bu Windy masih cinta sama Pak Brian, perjuangkan cinta kalian," ucap Bayu.
"Iya Pak Bayu, makasih supportnya," jawab Bu Windy.
Perlahan Bayu membuka laptopnya lantaran dia tidak ingin melanjutkan obrolan tentang kisah cinta Bu Windy lagi karena dia nggak mau kalau membuat Bu Windy bersedih.
Sementara Bu Windy yang duduk di sebelah Bayu matanya tanpa sengaja menangkap gambar perempuan berambut pendek persis sama dengan dirinya. Dari wajah sampai potongan rambutnya pun hampir sama bahkan nyaris tak ada bedanya sama sekali.
"Maaf Pak Bayu, kalau boleh saya tahu perempuan yang fotonya ada di wallpaper laptop Pak Bayu itu siapa, ya,?" tanya Bu Windy.
--------------------------------
Next....
__ADS_1