
Gani berlari sambil nafasnya tersengal-sengal. Dia memberitahukan kepada Bu Santy dan Pak Ridwan kalau Aulia sedang kena musibah.
"Apa,!" seru Bu Santy.
"Sakit apa dia, Gan,?" kini Pak Ridwan menimpali.
"Kak Aulia baru saja mengalami kecelakaan. Sekarang dia dibawa ke rumah sakit," jawab Gani.
"Kamu tahu dari siapa, Nak,?" tanya Bu Santy memastikan.
"Tadi Gani habis main ke rumah Kak Aulia, kata pembantunya dia mengalami kecelakaan," jawab Gani.
"Ya Allah Pa, gimana ini. Pasti tadi itu benar Aulia," ucap Bu Santy dengan menatap suaminya panik.
"Tenang dulu Ma, kita cari info soal rumah sakit mana. Nanti kalau ada waktu kita jenguk kesana," jawab Pak Ridwan.
"Bayu dikasih tahu apa enggak.?"
"Jangan dulu, biar nggak kepikiran."
"Tapi dia jelas menunggu kabar dari kita, Pa," ucap Bu Santy.
"Oh iya Bu, Pak. Gani ke kamar dulu. Nanti sore Gani mau lihat Kak Aulia sama anak-anak rumah singgah," ucap Gani.
"Oh iya sayang, Ibu sama Bapak nanti kalau sudah longgar jadwalnya."
"Baik Bu."
***
SEMARANG
Bayu kelihatan tidak tenang saat di kantor. Sesekali dia melihat ponselnya untuk memastikan ada kabar dari Mamanya tentang Aulia apa belum.
Tok..tok...,! Terdengar ketukan dari luar ruangannya.
"Silakan masuk,!" jawabnya dari dalam.
Pintupun terbuka dan masuklah seseorang sambil membawakan makanan buat dia.
"Maaf Pak Bayu, ini makanan yang Bapak pesan"
"Oh iya makasih, ya Bud," jawab Bayu.
"Iya Pak, kembaliamnya saya taruh dalam" ucap Budi sambil melangkah pergi.
__ADS_1
"Bidi, tunggu sebentar."
Bayu mengeluarkan kembalian yang ada di dalam bungkusan tersebut. Kemudian dia memberikannya pada cleaning service tersebut.
"Ini buat kamu, belikan buat makan siang kamu."
"Tapi saya sudah makan, Pak. Istri saya selalu membuatkan bekal buat saya," jawab Budi.
"Bud, ini saya berikan buat kamu. Ya terserah kamu buat apa. Kalau memang kamu sudah makan, ya buat yang lain," ucap Bayu meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu, Pak. Ini saya terima, ya. Semoga rejeki Pak Bayu selalu lancar dan barokah," sahut Budi.
"Amiin., Semoga rejeki kita semua lancar dan barokah."
Tak lama kemudian Budi melangkah meninggalkan ruangan Bayu. Kini Bayu makan membuka nasi yang dipesannya tadi. Piring serta sendok dan garpu sudah disediakan oleh Budi sebelumnya.
Bayu sangat senang sekali karena bisa merasakan nasi campur khas Semarang. Nasi campur yang tak jauh beda dengan nasi campur di Surabaya. Dengan lahapnya Bayu menyantap makanan tersebut.
Triing...triing...
Ponsel Bayu berdering, dia menaruh sendoknya dan melihat siapa yang mengirim pesan.
"Mama," gumamnya.
"Bay, Aulia kecelakaan dan masuk rumah sakit."
Bayu sontak berhenti mengunyah dan matanya masih tertuju pada isi pesan dari Mamanya. Tangannya gemetar karena membaca pesan tersebut.
Matanya mulai berembun dan tak lama kemudian air matanya jatuh menetes melewati pipinya. Dia nggak habis pikir kenapa hubungannya dengan Aulia selalu mengalami ujian.
Dia tidak melanjutkan makan siangnya lagi karena sudah nggak nafsu makan. Kini dia bingung mau mengatur jadwal buat pulang ke Surabaya untuk melihat keadaan Aulia.
Sore harinya saat mau pulang Bayu berpapasan dengan Pak Adrian di depan meja resepsionis.
"Oh iya Pak Bayu. Lusa siap-siap berangkat ke Bali sama saya, ya? Ada gathering sama semua kantor cabang se Indonesia," tukas Pak Adrian.
"Oh iya Pak. Saya siap," jawab Bayu.
"Baik. Saya pulang duluan, ya."
"Silakan Pak. Hati-hati," jawab Bayu.
Bayu tertegun dengan kejadian barusan. Begitu padatnya jadwal kerjaannya saat ini. Sebagai menejer baru dia tidak berani melawan atau mangkir dari tugas apapun. Semakin sedikit kesempatan dirinya untuk ketemu dengan Aulia.
"Pak Bayu mau pulang,?" sapa seseorang dari belakang.
__ADS_1
"Eh Bu Windy, iya ini mau pulang," jawab Bayu.
"Saya perhatikan dari jauh kayaknya Pak Bayu lagi memikirkan sesuatu," ucap Windy.
"Oh nggak apa-apa, kok. Tadi Pak Adrian bilang lusa saya pergi ke Bali untuk gathering," jawab Bayu.
"Oh yang itu, saya tadi juga sudah dikasih tahu sama Pak Adrian. Kita bertiga yang berangkat, Pak," ucap Windy.
"Oh jadi Bu Windy ikut juga, seneng dong rame-rame," jawab Bayu.
"Iya Pak. Saya selaku staf Pak Bayu selalu ikut setiap kegiatan yang yang Pak Bayu ikuti. Dulu sebelum Pak Bayu menjadi menejer di kantor ini, saya selalu ikut setiap Pak Galih ada kegiatan di luar," jelas Windy.
"Bu Windy bawa mobil,?" tanya Bayu.
"Kebetulan saya tadi nggak bawa."
"Pulang sama saya, kebetulan saya tadi bawa mobil," ajak Bayu.
"Baiklah Pak."
"Oh iya Bu Windy, ikut saya ke Apotik sebentar, ya,?" ucap Bayu saat perjalanan pulang.
"Oh iya Pak."
"Ini vitamin saya kebetulan habis, mumpung lagi di jalan sekalian saja beli," ucap Bayu sambil menyetir.
"Iya Pak. Kesehatan itu penting, apalagi saat ini musim lagi nggak jelas, kadang panas kadang dingin. Jadi kita harus pintar-pintar jaga imun kita," jelas Windy.
"Betul Bu, kita harus menjaga kesehatan agar tetap bisa melakukan aktivitas kita."
Bayu fokus menyetir dan di sampingnya duduk wanita cantik, sedangkan pikiranya kali ini masih tertuju pada Aulia yang lagi mengalami musibah. Windy mendapati Bayu yang sedikit melamun langsung menegurnya karena ini bahaya buat mereka.
"Pak Bayu melamun, kalau Pak Bayu capek biar saya yang gantiin nyetirnya," tawar Windy.
"Oh nggak usah Bu, ini saya tadi baru dapat kabar kalau Aulia kecalakaan dan masuk rumah sakit. Jadi ya sedikit nggak fokus.
"Aulia tunangan Bapak.?"
"Mantan tunangan, Bu."
"Kok mantan tunangan,?" tanya Windy.
"Iya, karena dia sudah menikah dengan orang lain,!" jawab Bayu tanpa menoleh kearah Windy.
"Apa.!"
__ADS_1
-----------------------------
Next...