
"Bayu anggara,?" jawab Ibu itu kaget.
"Iya Bu, nama saya Bayu anggara. Ada yang aneh dengan nama saya,?" tanya Bayu sambi melemparkan senyumnya.
"Oh tidak apa-apa, Nak. Nama yang bagus. Kalau Ibu namanya Retno. Lebih lengkapnya Retno maringin," jawab Ibu itu.
"Nama yang bagus Bu," ucap Bayu.
"Iya Nak. Itu yang kasih juga orang tua Ibu."
"Ibu ini mau ke Semarang juga,?" tanya Bayu.
"Iya Nak, Ibu dari Surabaya jenguk anak teman Ibu yang habis melahirkan."
"Oh senang ya kalau mendengar kabar orang melahirkan. Saya juga punya teman yang baru saja melahirkan, tapi saya belum sempat jenguk keburu saya balik Semarang," ucap Bayu menimpali.
"Ibu sama Ayahnya itu sudah teman akrab sejak dulu, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Dulu waktu istrinya melahirkan anak kembarnya, Ibu juga yang menunggui di rumah sakit. Sampai kejadian buruk itu terjadi, kalau Ibu ingat rasanya takut sekali," ucap Ibu Retno sambil mukanya sedih.
"Sudah Bu, kalau nggak ingin cerita mendingan nggak usah di ceritakan," tukas Bayu.
"Nggak apa-apa Nak, cuma yang buat Ibu sedih ketika anak kembarnya itu dipisahkan."
"Maksudnya gimana, Bu. Kok bisa dipisahkan.?"
"Iya nak, ceritanya panjang sekali. Kadang Ibu merasa kalau anak kembarnya itu seperti anak Ibu sendiri," ucapnya pelan.
FLASHBACK ON
(25 tahun yang lalu)
"*Retno, tolong bantuin aku ya,?" ucap seorang laki-laki.
"Ada apa Man, apa yang bisa aku bantu," jawab perempuan yang bernama Retno itu dari ujung telpon.
"Tolong jagain istriku yang lagi melahirkan di rumah sakit Medika. Aku masih ada perlu sama Pak Soleh."
"Baik, aku segera ke rumah sakit."
"Makasih Ret*."
Akhirnya pembicaraan tersebut terhenti dan Arman kembali menutup telponnya. Kemudian dia meninggalkan istrinya yang baru saja melahirkan anak kembarnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, Retno datang juga untuk menunggui istri Pak Arman. Perempuan yang baru saja melahirkan bayi kembar yang cantik-cantik itu masih belum bangun.
__ADS_1
Retno masuk ke kamar perawatan dimana istri Arman baru saja melahirkan. Dia duduk di kursi di sampin tempat tidur tersebut. Tak lama kemudian perempuan itu membuka matanya.
"Mbak Retno, kok bisa disini? Mas Arman dimana,?" tanyanya panik.
"Sssttt..sudah Hen, kamu jangan banyak gerak. Suamimu lagi nemui Pak Soleh," jawab Retno.
"Pak Soleh? Ada apa Mas Arman menemui dia, Mbak. Dia kan terkenal orangnya kejam. Apa Mas Arman berhutang sama dia.?"
"Aku juga nggak begitu faham, Hen. Tadi dia telpin aku suruh aku jagain kamu."
"Aku kawatir kalau Mas Arman berurusan sama dia."
"Sudahlah Hen, kalian jangan kawatir, ya. Aku siap membantu kalian jika memang dibutuhkan," jawab perempuan yang bernama Retno itu.
"Iya Mbak makasih. Kenapa aku takut, tahu sendiri usaha Mas Arman sekarang lagi sepi. Orderan juga menurun. Apalagi ditambah biaya melahirkan saat ini," jelas Heny sambil menangis.
"Sudahlah Hen, jangan dipikir dulu. Kamu istirahat saja."
"Anakku dimana, Mbak?"
"Mungkin masih di ruang perawatan bayi."
"Anakku perempuan, Mbak. Cantik katanya suster."
"Ret, Retno.. Bangun, ada yang mau aku bicarakan,!" seru Arman sambil menepuk pundak Retno.
"Eh kamu, Man. Sudah dari tadi.?"
"Barusan, kok. Aaaah.. capek aku, Ret. Pusing kepalaku," jawab Arman sambil menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu, ada masalah.?"
"Ret, kamu bisa bantuin aku nggak,?" tanya Arman.
"Selama aku bisa dan mampu pasti aku bantu," jawabnya.
"Ret, istriku belum tahu kalau dia melahirkan anak kembar."
"Apa? Jadi anakmu lahir kembar,?" jawab Retno kaget.
"Iya, karena setelah dokter soal biaya operasi kelahiran anakku, aku bingung karena aku dapat uang sebanyak itu dari mana. Aku belum bicara apa-apa sama istriku, langsung aku telpon kamu tadi," jawab Arman.
"Terus kamu tadi dari mana.?"
__ADS_1
"Aku dari rumah Pak Soleh, dia itu seorang pengusaha tempe yang kaya raya di tempat tinggalnya. Tapi dia nggak punya anak. Aku tadi kesana mencoba meminjam uang buat biaya rumah sakit. Dan aku juga tahu resikonya kalau berurusan dengan orang itu.
Dia kejam karena dia terkenal meminjamkan uang dengan bunga besar. Setelah kami berbicara, akhirnya dia bersedia meminjami aku uang tapi dengan syarat salah satu dari anak kembarku dia yang rawat secara sah. Dengan kata lain aku harus memberikan salah satu anakku kepada dia, lalu hutangku dianggap lunas," jelas Arman panjang lebar.
"Apa, Man! Apa kamu sudah memikirkan akibatnya,?" jawab Retno.
"Aku kalut, aku bingung. Dan terdesak. Aku terpaksa menerima tawaran Pak Soleh. Tolong bantu aku, Ret." ucap Arman dengan wajah memohon.
Retno tidak bisa berkata apa-apa. Bagaimanapun juga dia tidak bisa bantu secara materi, mau nggak mau dia membantunya.
"Baiklah aku akan merahasiakan semua ini. Kamu yang sabar, Man" ucap Retno.
FLASHBACK OFF
Bayu hanya terdiam, dia trenyuh dengan cerita Ibu Retno. Setelah itu Bu Retno menangis karena dia juga punya andil karena merahasiakan semua ini. Tapi saat itu dia tidak ada pilihan lain.
"Bu Retno yang sabar. Mungkin memang jalannya seperti itu. Terus sampai sekarang Ibunya bayi kembar itu tidak tahu kalau sebenarnya dia melahirkan anak kembar,?" tanya Bayu.
"Tidak Nak. Sampai sekarang dia tidak tahu."
"Tindakan itu memang sebenarnya keterlaluan karena sudah memisahkan Ibu dan anaknya. Tapi, keadaan yang mengakibatkan Bapak itu mengambil keputusan seperti itu, jadi mau gimana lagi," jawab Bayu.
"Iya Nak. Kadang kalau ingat hati Ibu rasanya menyesal sekali karena telah menutup-nutupi kejadian itu."
Bayu dan Bu Retno tampak akrab dan kini mereka kelelahan dan keduanya tertidur. Sementara di dalam kereta sendiri keadaannya sepi dan jarang penumpangnya.
.
.
.
Ketika kereta berhenti di salah satu stasiun di Semarang, Bayu membuka matanya dia sudah tidak mendapati Bu Retno. Mungkin dia turun di stasiun sebelumnya.
Berarti dia tetidur lama sekali. Memang semalam dia tidurnya malam sekali karena kepikiran Aulia. Bayu melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, berarti satu jam lagi dia sampai di stasiun dimana dia turun.
Dia mulai mengambil tas-tasnya dan diletakan di sebalahnya supaya nanti kalau sudah sampai, dia mudah untuk membawanya. Saat dia menunduk karena mau mengambil barangnya yang terjatuh di bawah kursi, dia melihat ada sebuah kartu identitas yang tergeletak di lantai kereta.
Kemudian Bayu mengambilnya dan saat dia membaca nama pemiliknya, ternyata kartu itu tertera nama Retno maringin. Berarti ini punya Ibu yang tadi bertemu dengan Bayu.
"Bukankah ini milik Ibu yang tadi duduk disini,?" ucap Bayu lirih.
------------------------------
__ADS_1
Next...