MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 99 (Windy mulai gelisah)


__ADS_3

Windy kaget karena dia telah bertabrakan dengan Pak Adrian atasannya. Pak Adrian masih melihati Windy karena heran melihat Windy yang keluar dari ruangan Bayu dengan senyum-senyum.


"Maaf Pak, saya nggak sengaja," ucapnya panik.


"Nggak apa-apa Bu Windy, mungkin itu karena Bu Windy saking senangnya sehingga nggak melihat kalau ada saya lewat," jawab Pak Adrian.


"Oh Bapak biaa aja. Ya sudah saya mau ke ruangan saya dulu," ucap Windy.


"Silakan Bu," jawab Pak Adrian.


Laki-laki itu tersenyum melihat karyawannya yang satu itu. Windy memang sudah lama kerja di kantornya ini jadi dia sudah kenal baik dengan wanita yang sampai sekarang betah menjomblo.


"Pak Adrian," ucap Bayu ketika dia keluar ruangannya.


"Kebetulan saya ketemu Pak Bayu di sini, tadinya saya mau ke ruangan Anda," ucap Pak Adrian.


"Kalau begitu kita masuk saja, Pak," ajak Bayu.


"Nggak usah, saya hanya mau ucapin selamat ulang tahun buat Pak Bayu. Saya dengar hari ini Anda ulang tahun,?" ucap Pak Adrian sambil menyalami Bayu


"Oh iya makasih Pak. Baru kali ini lho bos nyamperin anak buahnya hanya untuk sekedar ucapin ulang tahun. Saya merasa tersanjung sekali," jawab Bayu sambil membalas uluran tangan Pak Adrian.


"Oh itu sudah biasa Pak Bayu. Ya sudah saya mau ke ruangan HRD dulu," tukas Pak Adrian.


"Iya Pak. Silakan," jawab Bayu.


(***)


"Eh Mbak Windy, mau di makan sini apa di bungkus,?" tanya Pak Samad.


"Makan sini saja, Pak."


"Dua ya, seperti biasa.?"


"Iya Pak."


Pak Samad langsung membuatkan dua porsi soto daging buat Bayu dan Windy. Mereka sudah langganan jadi Pak Samad sudah mengerti apa yang biasanya Windi dan Bayu pesan.


"Bu Windy, tadi Pak Adrian nyamperin saya dan mengucapakan ulang tahun buat saya," ucap Bayu di selang waktu menunggu pesanan sotonya.


"Oh iya, Pak Adrian memang low profile Pak. Kalau beliau tahu karyawannya ada yang ulang tahun, pasti di sempatkan untuk mengucapkan ulang tahun," jelas Windy.


"Oh pantesan tadi orangnya seperti sudah biasa gitu," jawab Bayu.

__ADS_1


"Ini Mbak, Mas pesanannya. Silakan dinikmati, kalau ada yang kurang panggil saya saja," tukas Pak Samad.


"Oh iya makasih Pak. Ini sudah cukup, kok," jawab Windy.


Mereka berdua melanjutkan makan soto dengan lahapnya. Sekitar lima belas menit kemudian mereka terlihat sudah hampir selesai makannya.


Tak selang lama Pak Samad menghampiri Bayu dan Windy dan ikut gabung karena pengunjung pun nggak begitu ramai.


"Maaf Mas, saya mau bilang sama Mas Bayu soal KTP nya Bu Retno waktu itu, dia nitip salam buat Mas Bayu," ucap Pak Samad.


"Oh iya Pak Samad, saya sampe lupa soal itu. Salam balik buat Bu Retno, ya Pak. Maaf saya belum bisa mampir ke rumahnya," jawab Bayu.


"Iya Mas, kapan-kapan saya ajak mampir ke rumah Bu Retno," ucap Pak Samad.


"Iya Pak makasih," jawab Bayu.


Disaat mereka lagi ngobrol-ngobrol, ponsel Windy tiba-tiba berdering.


"Brian,!" ucap Windy pelan. Kemudian dia membuka pesannya.


"Win, aku tunggu kamu di rumah. Sekarang aku sudah di depan rumah kamu."


Bayu seketika menoleh ke Windy, sebaliknya Windy pun juga ucap Bayu. "Ada apa Bu.?"


"Ya sudah kalau gitu, sebaiknya saya antar Bu Windy pulang sekarang," jawab Bayu.


"Tapi Pak, sebaiknya saya pulang sendiri saja, kalau Pak Bayu masih ingin ngobrol sama Pak Samad, silakan,!" tukas Windy.


"Nggak usah, saya bisa lain kali ngobrolnya. Tapi, sekarang saya harus tanggung jawab untuk mengantar Bu Windy pulang, karena sayalah yang mengajak Bu Windy ke tempat ini," jelas Bayu dengan bijak.


"Baiklah kalau begitu" jawab Windy.


"Pak Bayu, kamu sangat baik sekali. Andaikan Brian bisa sedewasa Pak Bayu, aku tidak akan susah-susah untuk menghindar seperti saat ini," ucap Windy dalam hati.


Dalam perjalanan pulang, Windy tampak murung dan gelisah. Sepertinya dia nggak suka kalau Brian kembali mengganggu hidupnya kembali. Sementara Bayu melihat ada yang beda dengan sikap Windy saat ini.


"Kenapa Bu? Ada masalah,?" tanya Bayu.


"Oh nggak apa-apa, Pak."


"Oh ya sudah kalau begitu," jawab Bayu pelan.


"Bu Windy, saya tahu kalau sebenarnya Bu Windy lagi memikirkan sesuatu. Tapi, kalau memang saat ini Bu Windy masih belum bisa cerita nggak apa-apa," ucap Bayu dalam hati.

__ADS_1


Sekitar tiga pulih menit kemudian akhirnya mereka sudah sampai di rumah Windy. Mobil berhenti di depan pagar rumah Windy karena di sity sudah ada mobil Brian.


Windy turun dari mobil dan diikuti oleh Bayu di belakangnya. Brian tersenyum sinis karena lagi-lagi bertemu dengan Bayu.


"Baiklah Bu Windy, saya langsung permisi pulang saja, ya,?" ucap Bayu datar.


"Iya Pak, makasih banyak telah mengantar saya pulang," jawab Windy sambil melirik ke Brian.


Bayu tersenyum kearah Windy, kemudian dia menoleh kearah Brian dan menganggukan kepalanya lalu meninggalkan tempat tersebut.


Bayu perlahan menuju mobilnya dan masuk ke dalam. Sedangkan di luar Windy dan Brian terlihat sedang bicara serius. Bayu tidak langsung melajukan mobilnya melainkan masih melihat mereka berdua karena Brian terlihat sedikit memaksa.


Sedangkan di luar Windy masih saja berdebat kecil dengan Brian. "Win, ciba kasih aku kesempatan sekali saja," ucap Brian sambil mengejar Windy masuk ke dalam.


"Aku sudah bilang ke kamu, aku tidak bisa Bri, aku sudah nggak ada rasa buat kamu,!" jawab Windy keras.


"Tapi aku cinta dan sayang sama kamu,!" kini suara Brian nggak kalah keras.


Ketika Windy membuka kunci pintu rumahnya dan setelah pintu terbuka tiba-tiba Brian memeluk Windy dari belakang dengan paksa. Sontak Windy kaget dan mencoba melepaskan pelukan Brian. Tapi Brian masih dengan kuat memegang tangannya yang memeluk tubuh Windy.


"Brian, lepaskan aku,!" ucap Windy dengan wajah yang sudah mulai ketakutan.


"Kamu tidak akan aku lepaskan sebelum kamu menerima cintaku lagi,!" jawab Brian.


"Tolong Brian, lepasin aku. Please lepasin aku,!" teriak Windy.


Brian semakin nekad dan semakin mempererat pelukannya terhadap Windy. Sedangkan Windy semakin takut dan sudah mulai menangis.


"Kamu mau minta tolong siapa, sedangakan disini hanya ada kita berdua. Jadi kamu harus nurut sama aku dan dengerin aku,!" ucap Brian lagi.


"Lepaskan aku Brian,! Tolooong.. Toloooong...,!" teriak Windy.


"Teriak saja sampai suara kamu habis. Tidak akan ada yang mau menolong kamu,!" jawab Brian.


"Brian., aku mohon lepasin aku, hiks..!" Windy nangisnya semakin menjadi.


"Sayang., kalau kamu nurut tidak akan seperti ini. Jadi, aku juga mohon sama kamu. Untuk kali ini kamu nurut sama aku," ucap Brian sambil mengelus pipi Windy.


Windy semakin ketakutan karena sikap Brian sudah kelewat batas. Dia seakan kesetanan dan brutal. Sedangkan Windy meronta mencoba melepaskan dirinya dari pelukan tangan Brian.


"Lepaskan dia, Brian.,!!"


---------------------------

__ADS_1


Next..


__ADS_2