MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 69 (Toko sepatu)


__ADS_3

Tinggal satu hari Bayu di Surabaya setelah itu dia balik ke Semarang. Hari ini dia sudah nggak ke kantor lagi karena urusannya sudah selesai, jadi hari ini dia mau melihat showroom sepatu dan sandalnya yang telah lama dia abaikan semenjak ditinggal ke Semarang.


"Ma, Bayu berangkat ke showroom dulu, ya."


"Hati-hati ya Bay, jangan lupa makan siangnya. Habis sakit gitu, jadi harus dijaga kesehatannya," tukas Mamanya.


"Siap Ma.,!" serunya sambil berlalu.


Bayu melangkah menuju garasi untuk mengambil mobilnya, setelah itu dia menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumahnya.


Dalam perjalanan menuju showroomnya dia bersenandung karena senang sekali karena bisa menghirup udara kota kelahirannya yaitu Surabaya.


"Pagi Han, gimana kabarnya,?" tanya Bayu sesampainya di showroom.


"Eh Pak Bayu, saya baik. Oh iya Pak, ini uangnya hasil penjualan sepatu sudah kumpul lama. Soalnya Mbak Aulia sudah jarang kesini. Apa Pak Bayu bawa sekalian saja," tukas Hana.


"Gini Han, saya kesini memang sengaja membicarakan itu. Begini, habis ini saya kan ditugaskan di Jogja sampai dengan waktu yang belum bisa ditentukan. Jadi, mulai sekarang showroom ini saya serahkan sama kamu untuk kamu kelolah. Saya percaya sama kamu jadi kamu yang bertanggung jawab atas showroom ini," jelas Bayu.


"Tapi Pak, saya nggak berani. Nanti kalau ada apa-apa gimana," jawab Hana takut.


"Sudahlah kamu nggak usah takut gitu, anggap saja ini milik kamu, jadi kamu akan menjaga dan merawatnya seperti milik kamu sendiri. Soal keuangannya nanti bisa kamu transfer saja. Biasanya kan saya atau Mbak Aulia yang ambi. Tapi mulai sekarang di transfer saja. Nanti kamu tak kasih nomor rekening saya," jelas Bayu.


"Terus soal laporannya serta repeat ordernya gimana,?" tanya Hana.


"Kalau laporannya tetap kamu kerjakan seperti biasa, soal repeat ordernya nanti saya yang akan hubungi teman saya. Kamu kan sudah kenal sama teman saya itu, kan,?" tanya Bayu.


"Iya Pak, saya kenal."


"Ya sudah kalau gitu kamu bisa order sesuai dengan yang dibutuhkan. Saya serahkan sama kamu pokoknya."


"Tapi Pa--" belum selesai Hana menyelesaikan kalimatnya, Bayu sudah memotongnya.


"Sudahlah, nggak pakai tapi-tapian. Sekarang saya akan ambil yang penjualan bulan kemarin. Setelah itu selanjutnya di transfer saja. Jadi, sekali lagi saya tegaskan kalau showroom ini kamu yang kelolah, saya percaya sama kamu. Dan yang penting jaga kepercayaan saya, ya Han," ucap Bayu panjang lebar.


"Baiklah kalau begitu Pak, saya akan berusaha semampu saya untuk mengelolah showroom ini. Terima kasih karena Pak Bayu sudah mempercayakan sama saya," jawab Hana dengan wajah yang senang.


Akhirnya mereka melanjutkan aktivitas di showroom tersebut. Bayu berjalan mengelilingi showroom itu dan semuanya terlihat rapi. Tak sia-sia Bayu mempercayakan showroom ini sama dia.


"Hana, menurur kamu apa perlu tambahan karyawan,?" tanya Bayu.


"Untuk saat ini masih belum Pak. Nanti semisal saya butuh, saya akan hubungi Pak Bayu."


"Sip.,!"

__ADS_1


"Maaf Pak Bayu, ini ada yang perlu ditanda tangani," ucap Hana sambil menyodorkan selembar kertas.


"Apa ini, Han.?"


"Ini laporan pembukuan untuk bulan kemarin yang uangnya Bapak ambil hari ini," jawab Hana.


"Oh iya."


"Terima kasih Pak, oh iya silakan diminum sudah saya belikan minuman, saya taruh di meja kerja," jawab Hana.


"Oh iya Han, terima kasih."


Bayu menuju ruang kerja dimana Hana tadi menaruh minuman. Disitu dia menikmati minuman sambil melihat pembukuan.


.


.


.


Hampir seharian Bayu ada di showroomnya. Dia juga sempat ikut menjadi bagian dalam transaksi tersebut. Dia sangat senang sekali karena usahanya ini tidak begitu mengecewakan.


Bayu tersenyum sendiri melihat aktivitas karyawannya serta customer yang dari tadi tak berhenti keluar masuk. Dalam hatinya dia sangat berterima kasih sekali sama Allah karena telah diberi kelancaran dalam berusaha.


Ya mungin benar, saat ini dia sudah menjadi istri orang lain. Sedangkan dia sudah tidak punya hak apa-apa soal Aulia. Mungkin saat ini memang dia belum ada jodoh sama gadis itu, tidak tahu di waktu mendatang. Dia hanya berserah sama Allah.


"Maaf Pak Bayu, ini sudah sore dan waktunya shift pertama pulang. Saya juga akan pulang Pak, nanti yang siang ada Juno, Sandra sama Gio," ucap Hana.


"Oh iya, Han. Saya bentar lagi. Yang siang siapa yang bertugas di kasir,?" tanya Bayu.


"Ada Juno, Pak. Dia anaknya rajin dan jujur, kok. Saya jamin akan hal itu. Selama ini saya banyak dibantu sama dia," jawab Hana.


"Oke baik. Kalau kamu mau pulang silakan. Saya mau ketemu Juno dulu," ucap Bayu.


"Oke Pak, saya duluan. Mari Pak Bayu.." ucap Hana sambil meninggalkan Bayu yang masih duduk di kursi.


Lalu dia keluar ruangan keail yang ada di showroom tersebut. Dia menuju kasir yang dimana sudah dijaga pemuda yang wajahnya lumayan ganteng. Saat Bayu mendekatinya dia langsung berdiri dan menyalaminya.


"Sore Pak Bayu," sapa Juno.


"Sore juga Jun, Bantu Hana dalam mengurus showroom ini, ya.?"


"Iya Pak, saya selalu siap."

__ADS_1


"Bagus., Saya mau pulang. Nanti malam jangan lupa kirim laporan harian seperti biasa, ya. Oh iya, sekarang kalau mau kirim uang hasil penjualan langsung i transfer ke saya saja. Hana tadi sudah saya kasih tahu nomor rekening saya," jelas Bayu.


"Baik Pak, jadi sudah nggak diambil Mbak Aulia lagi, ya Pak.?"


"Enggak, langsung ke saya saja."


"Baiklah kalau begitu, Pak."


"Oke, saya permisi pulang ya. Besok saya sudah harus balik Semarang soalnya. Hati-hati, dan kerja yang baik," ucap Bayu sambil menepuk pundak Juno.


"Iya Pak. Makasih atas kunjungannya," ucap Juno.


Juno masih berdiri mengawasi Bayu yang keluar showroom. Lalu Sandra mendekati Juno yang tengah menatap keluar.


"Juno, kalau tidak salah dengar, tadi Pak Bayu bilang kalau hasil penjualan langsung dikirim ke Pak Bayu langsung. Kan biasanya diambil sama Mbak Aulia,?" tanya Sandra tiba-tiba.


"Aku sendiri juga kurang tahu, San. Mintanya bos seperti itu, ya kita hanya bisa laksankan," jawab Juno sambil kembali duduk di meja kasir.


"Apa jangan-jangan mereka putus,!" celetuk Sandra.


"Huuss,! kamu bisa saja San."


Gio yang sudah tidak melayani customer akhirnya bergabung juga. Dia kemudian nimbrung dalam obrolannya Juno dan Sandra.


"Gimana Gio, yang tadi jadi beli,?" tanya Juno.


"Nggak jadi, Kak Juno. Katanya modelnya terlalu bapak-bapak. Padahal sudah aku jelasin kalau yang itu lagi viral, tapi tetep saja nggak mau," jawab Gio.


"Nggak apa-apa. Yang penting kamu sudah berusaha, soal mereka jadi beli apa tidak memang kita tidak bisa memaksa kalau memang nggak suka," jawab Juno.


"Oh iya, kalau tidak salah Pak Bayu tadi bilang kalau Mbak Aulia sudah nggak bisa mengambil uang penjualan, ya Kak,?" tanya Gio.


"Iya, tapi nggak tahu kenapa,?" jawab Juno.


"Kalau itu aku tahu alasannya, Kak."


Juno dan Sandra sontak saling tatap. Mereka bingung kok justru Gio tahu dari pada mereka.


"Kamu tahu dari mana," tanya Juno.


"Iya, karena Mbak Aulia menikah dengan tetanggaku," jawab Gio datar.


--------------------------

__ADS_1


Next..


__ADS_2