MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 89 (Kesepakatan)


__ADS_3

Obrolan antara Sonya dan Aulia semakin panas. Pak Bardi diluar sudah geram mendengar perkataan Sonya. Tapi untung saja Aulia tidak termakan omongannya Sonya.


"Begini saja Bu Sonya, tolong kasih tahu Bank mana yang Mas Fatih harus bayar," tanya Aulia.


"Nggak usah kamu yang bayar ke Bank, biar saya saja yang ke Bank kamu tinggal transfer ke saya," jawab Sonya.


"Kok bisa gitu? Kalau memang hutang-hutang itu memang harus Mas Fatih yang bayar, biarkan asistennya yang urus. Jadi Anda tidak susah-susah ke Bank," jelas Aulia.


"Nggak bisa Mbak, karena saya sudah biasa yang bayar."


Aulia faham apa yang diinginkan Sonya. Berarti ini memang murni akal-akalan Sonya saja. Aulia terdiam sejenak, dia mencoba cari akal supaya Sonya tidak memerasnya.


"Berarti ini saya harus membayarnya ke Anda.?"


"Iya Mbak Aulia, secara ini termasuk hutang suami Anda," jawab Sonya.


"Pak Bardi, coba kesini sebentar,!" seru Aulia dari dalam.


Seketika Pak Bardi langsung masuk ke dalam menemui Aulia. "Ada apa, Bu.?"


"Pak, tolong ambilkan tas warna hitam biasanya di kamar saya," titah Aulia.


"Baik Bu."


Tak lama kemudian Pak Bardi kembali sambil membawa tas mirip dengan koper tapi ukurannya lebih kecil. Kemudian menyerahkannya pada Aulia.


"Makasih Pak."


"Sama-sama, Bu. Ada yang lain,?" tqnya Pak Bardi.


"Oh sementara tidak, silakan kembali ke depan dulu, ya.?"


"Baik Bu."

__ADS_1


Aulia mengeluarkan cek dari dalam tas tersebut. Lalu dia menuliskan angka yang lumayan. Setelah itu kertas tersebut di serahkan kepada Sonya.


"Ini cek seratus juta, anggap saja ini untuk menebus sisa hutang Mas Fatih selama dua tahun ke Bank. Saya juga nggak tahu berapa nominal sebenarnya karena Anda juga tidak transparan sama saya. Tapi dengan satu syarat, jangan ganggu saya dan keluarga saya dan bahkan jangan ganggu penghuni semua yang tinggal di rumah ini, gimana Bu Sonya,!" ucap Aulia dengan melirik kearah Sonya tanpa kedip.


Sonya seketika wajahnya ceria setelah melihat angka yang tertulis di lembar kertas cek tersebut. Dia tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil mendapatkan uang dari janda mantan suaminya.


"Baiklah Mbak Aulia, saya rasa ini sudah cukup untuk menutup hutang Mas Fatih. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kerja samanya," ucap Sonya.


"Iya sama-sama, tapi ingat kata-kata saya, jangan ganggu lagi keluarga saya disini. Dan jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silakan tinggalkan rumah ini karena saya mau istirahat," ucap Aulia.


"Iya Mbak, maafan jika saya mengganggu istirahat Anda. Sekali lagi saya janji tidak akan datang kesini lagi," jawab Sonya.


"Iya Bu."


"Saya permisi dulu. Terima kasih," jawabnya sambil meninggalkan rumah tersebut.


Tak lama kemudian Pak Bardi masuk dan mendekati Aulia yang masih duduk di kursi, tak ketinggalan Bu Dewi dan Bi Lastri juga keluar menemui Aulia.


"Sudahlah nggak apa-apa, Pak. Saya tahu itu memang hanya akal-akalan Sonya saja, tapi kalau saya tidak melakukan itu dia pasti akan ganggu kita," jawab Aulia.


"Lia, apa kamu sudah memikirkan akibatnya ini, Nak,?" kini Bu Dewi ikut menimpali.


"Nggak apa-apa, Bu. Biarkan saja. Mungkin Bu Sonya lebih membutuhkan, makanya dia melakukan ini," jawab Aulia bijak.


"Masha Allah Mbak Lia, hati Mbak ini sungguh mulia sekali. Padahal Mbak sebenarnya juga membutuhkan untuk keperluan anak-anak jalanan itu," sahut Bi Lastri.


"Iya juga sih Bi, tapi biarlah nggak apa-apa."


"Baiklah kalau begitu, saya mau ke kamar dulu," ucap Aulia.


Akhirnya Aulia masuk kamar dengan dibantu Bi Lastri dan Ibunya. Lalu Pak Bardi kembali ke depan.


.

__ADS_1


.


.


Sedangkan di tempat berbeda, Sonya tersenyum kegirangan karena dia sudah mendapatkan uang dari Aulia.


"Akhirnya aku bisa menikmati uang Mas Fatih, meskipun saat perceraian aku sudah mendapatkan harta gono gini," ucap Sonya pelan saat dia berjalan menuju taksi yang sudah di pesannya.


Tak lama kemudian Sonya masuk taksi tersebut dan meninggalkan rumah Aulia. Doa masih senyum-senyum sendiri di dalam taksi. Tak lama kemudian dia mengeluarkan ponselnya. Dia terlihat sedang menghubungi seseorang.


["Hallo, Tin. Aku sudah dapat uangnya Ternyata gampang sekali mendapatkan uang dari jandanya Mas Fatih yang polos itu."]


["Masa sih, Mbak. Ternyata Mbak Sonya berhasil membohongi dia."]


["Iya, aku seneng banget. Kita ketemu di Mall ya, kita shopping dengan uang yang baru saja Mbak dapat."]


["Siap Mbak."]


Sonya kembali menutup ponselnya dan kini dia kembali senyum-senyum sendiri sambil mengibas-ngibaskan cek yang sudah ada di tangannya.


"Aulia, kamu memang gadis polos yang bisa aku manfaatkan. Tenang saja, sayang. Setelah ini bakal ada kejutan-kejutan dalam hidup kamu," ucap Sonya pelan.


"Maaf Bu, jadi turun mana ini,?" tanya sopir taksi itu.


"Tolong antarkan saya ke Bank XXX."


"Baik Bu."


Akhirnya Sonya diantarkan sopir taksi itu menuju sebuah salah satu Bank swasta di kota Surabaya.


-----------------------------


Next..

__ADS_1


__ADS_2