
"Mas Bayu,!" seru Aulia terkejut.
"Hay Lia, gimana keadaan kamu, sudah baikan,?" tanya Bayu.
"Alhamdulilah sudah Mas," ucap Aulia.
"Kak Bayu tadi minta antar aku kesini, Kak. Nggak apa-apa kan,?" ucap Gani polos.
"Ya nggak apa-apa, Gan."
"Bentar saya tinggal ke belakang dulu buatin minuman, ya Mbak,?" ucap Bi Lastri.
"Oh iya Bi, saya bantu buatin minuman, ya,?" sahut Gani sambil mengikuti Bi Lastri masuk ke dalam.
Kini tinggal Bayu dan Aulia berdua yang berada di ruang tamu itu. Mereka terdiam karena merasa kikuk satu sama lain. Sesekali Bayu melirik kearah Aulia yang masih menundukan wajahnya.
Aulia mencoba membetulkan letak duduknya sambil melirik kearah Bayu. Kemudian dia tersenyum sambil menatap Bayu.
"Kamu apa kabarnya Mas,?" ucap Aulia membuka perbincangan.
"Alhamduliah aku sehat, Lia. Oh iya aku turut berduka cita atas meninggalnya Fatih. Kamu sudah baikan, kan,?" jawab Bayu.
"Iya Mas, Alhamdulilah aku juga baik. Makasih Mas. Oh iya untung kecelakaan itu nggak begitu parah. Aku bersyukur sekali karena masih diberi kesempatan hidup," jawab Aulia.
"Kamu sebenarnya dari mana saat kecelakaan itu,?" tanya Bayu.
"Aku dari rumah temanku, saat di dekat rumah makan langganan Mama kamu itu ada mobil pick-up yang keluar dari arah kiri, dan akhirnya nabrak aku. Untung mobil itu tidak kencang, jadinya nggak begitu keras nabraknya," jelas Aulia.
"Suyukurlah Lia, tapi pengemudi mobol itu gimana,?" tanya Bayu.
"Ada yang patah dan katanya juga sudah dioperasi. Kemarin istrinya ke sini mau kasih uang tapi aku nggak mau," jawab Aulia.
__ADS_1
"Iya, yang penting dua-duanya selamat. Soal yang lainnya dikesampingkan dulu."
"Iya Mas. Oh iya, gimana proses kenaikan jabatan kamu waktu itu, Mas. Selamat ya, aku ikut senang mendengarnya," kata Aulia dengan senyumnya yang manis.
"Alhamdulilah lancar, makasih ya."
"Mas, maafin aku ya karena telah menerima tawaran Mas Fatih, misal saat itu kamu melarangnya aku pasti menolaknya. Tapi, kamu mengijinkan makanya aku terima," ucap Aulia dengan mata yang mulai mengembun.
"Iya nggak apa-apa, Lia. Aku sendiri saat itu juga bingung. Dengan segenap hati dan keikhlasan aku ijinkan kamu menerima Fatih," jawab Bayu.
"Sekarang aku sudah menjadi janda, Mas. Dan tidak seperti itu lagi," ucap Aulia sambil meneteskan air matanya.
Bayu sejenak mendekatkan dirinya ke Aulia. Tangannya menyentuh pundak perempuan yang sangat di cintainya itu, kemudian perlahan mengusap air mata yang menetes.
"Ssstt, sudahlah jangan berpikiran yang macem-macem dulu. Yang lalu biarlah berlalu. Bagiku kamu tetap Aulia yang kukenal," jawab Bayu.
Tak lama kemudian Gani keluar mengantarkan minuman ke ruang tamu. Kali ini Bi Lastri membuatkan jus buat mereka berdua.
"Oh iya ini jusnya Kak. Bi Lastri bilang ini kesukaan Kak Aulia. Jus jambu merah. Lalu yang alpukat ini buat Kak Bayu," jelas Gani.
"Wuuah kenapa Bibi repot-repot, jadi nggak enak saya. Kayak sama orang lain saja," seru Bayu.
"Enggak repot kok. Kebetulan tadi Mbak Aulia memang minta dibuatkan camilan. Bibi itu kurang sreg kalau beli jajanan di luar, takutnya nggak bersih. Makanya saya buatin ini," jelas Bi Lastri.
"Bi Lastri ini berasa Ibu kedua bagi aku Mas. Aku beruntung bisa bertemu orang seperti Bi Lastri ini, orangnya baik, ramah serta bisa jadi teman ngobrol aku," ucap Aulia sambil melirik ke arah Bi Lastri.
"Aah.., Mbak Aulia ini berlebihan. Saya kan jadi malu," jawab Bi Lastri.
"Saya senang Aulia bisa tinggal sama orang seperti Bi Lastri. Dia bakal aman," sahut Bayu.
"Iya Mas. Orang-orang disini sangat baik-baik sekali, aku juga senang tinggal sama mereka," ucap Aulia.
__ADS_1
Seketika Bayu menatap Aulia dengan wajah yang sedikit murung. Ucapan Aulia barusan membuat hati Bayu teriris. Sedangkan Aulia tidak menyadari bahwasanya ucapannya itu sedikit membuat Bayu tidak nyaman.
Aulia melihat Bayu sedikit muram jadi bertanya-tanya. Bi Lastri faham kenapa Bayu tiba-tiba pasang muka sedih gitu.
"Mas Bayu ini pasti kecewa dengan ucapan Mbak Aulia barusan yang menyebutkan bahwa dia senang tinggal bersama orang-orang di rumah ini," ucap Bi Lastri dalam hati.
"Oh iya, Mas. Mbak Aulia pernah cerita sama saya kalau Mas Bayu itu orangnya baik, ramah, sholeh dan pintar," ucap Bi Lastri asal.
Aulia kaget padahal dia tidak pernah bercerita seperti itu sama Bi Lastri. Sontak Aulia menoleh ke arah Bi Lastri karena dia merasa aneh dengan sikap Bi Lastri.
Bayu hanya tersenyum malu-malu saja mendengarkan apa yang barusan dikatakan Bi Lastri. Dia jadi tersanjung dan nggak enak, bagaimanapun juga dia bukan manusia sempurna.
"Bi Lastri bisa saja, saya juga sama yang lainnya, jangan berlebihan gitulah," jawab Bayu sambil senyum-senyum.
"Nggak apa-apa, Mas. Setidaknya kan kita bisa berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik, benar begitu Mas,?" ucap Bi Lastri.
"Iya juga Bi, semua orang pasti ingin menjadi yang lebih baik " jawab Bayu.
"Mas Bayu, nanti makan siang disini, ya? Nanti biar Bi Lastri yang masakin."
"Emm, gimana ya. Tapi aku nggak enak sama tetangga, aku bakal sampai nanti siang, dong,?" jawab Bayu.
"Mas, ini sudah jam sebelas. Sebentar lagi juga dhuhur. Kan pas waktunya makan siang," jawab Aulia.
"Iya juga sih, tapi nggak apa-apa aku disini,?" tanya Bayu.
"Nggak apa-apa, Mas Bayu. Ada saya dan Pak Karim dan juga Gani. Apalagi sebentar lagi Pak Bardi juga datang dari Bank, kan banyak orang. Kenapa Mas Bayu mesti kawatir," jelas Bi Lastri.
Bayu terdiam sambil menoleh kearah Aulia. Perempuan yang sangat dicintainya ini tersenyum kearahnya dan menganggukan kepalanya.
"Baiklah Bi, saya mau makan siang disini. Dan makasih sudah mengundang saya makan siang disini," jawab Bayu.
__ADS_1
---------------------------
Next....