MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 59 (Surat wasiat)


__ADS_3

Bayu kelihatan tidak senang dengan laki-laki tersebut. Sedangkan Aulia semakin bingung gimana menjelaskannya pada Bayu.


"Maaf Mas, saya hanya menjalankan perintah saja. Selebihnya saya tidak tahu menahu," jawab laki-laki itu datar.


"Lia, ada apa ini.!"


"Mas Bayu, apa masih ingat Mas Fatih.?"


"Fatih? Fatih mantan tunangan kamu,?" jawab Bayu kaget.


"Iya Mas, Mas Fatih mantan tunanganku."


"Emang kenapa dengan Fatih,?" jawab Bayu lagi.


"Dia sakit, aku disuruh datang ke rumahnya."


"Loh,! Bukannya kamu sudah pernah jenguk dia di rumah sakit? Lalu kenapa lagi,?" jawab Bayu dengan nada tinggi.


Laki-laki itu sejenak menautkan alisnya ketika melihat Bayu dan Aulia bertengkar. Dia sudah nggak punya waktu banyak lagi. Pesannya tadi disuruh segera.


"Mbak Aulia, ayo kita berangkat. Mas Fatih sudah menunggu,!" ucap laki-laki itu.


Aulia menoleh kearah Bayu lalu memegang lengannya, " Mas, ijinkan aku sebentar saja melihat Mas Fatih. Mungkin ada yang mau dia bicarakan sama aku. Kasihan dia, Mas," ucap Aulia memohon.


Bayu bingung harus gimana. Melarangnya apa mengijinkannya. Dia menatap Aulia dengan tatapan yang kurang suka.


"Aku nggak tahu apa maksudnya ini. Aku datang jauh-jauh dari Semarang menyempatkan waktu cuti aku untuk ketemu sama kamu, tapi justru kamu mau menemui laki-laki lain.!"


"Mas Bayu boleh ikut kok, biar nggak ada salah faham," ucap Aulia.


"Maaf Mbak Aulia, Mas Fatih berpesan agar Mbak Aulia datang sendirian saja. Karena memang mau ada yang dibicarakan sama Mbak.," sahut laki-laki itu lagi.


"Kamu dengar sendiri, kan. Dia meminta kamu datang sendiri.!"


"Pak, kira-kira boleh nggak saya bawa calon suami saya. Tolong bilang sama Mas Fatih, saya mohon," ucap Aulia memelas.


"Maaf Mbak, saya tidak bisa putuskan. Pesannya Mbak Aulia disuruh menemuinya sekarang, penting!" jawabnya.


"Ya sudah, Lia. Kalau gitu aku pulang dulu. Buat apa aku kesini kalau kamu pergi,!" ucap Bayu sambil melangkah meninggalkan rumah Aulia.


"Mas., Mas Bayu.,! Tolong jangan pergi dulu, aku mohon Mas,!" ucap Aulia sambil mengejar Bayu keluar.


Tapi sayang, Bayu sudah meninggalkan pelataran rumah Aulia tanpa menghiraukan panggilan Aulia. Sedangkan Aulia hanya bisa berdiri sambil menatap kepergian Bayu.


Kemudian laki-laki itu mendekati Aulia lagi. "Mbak Aulia, ayo kita berangkat."

__ADS_1


Aulia memang sudah berjanji sama Fatih untuk tetap menjaga silahturahmi. Setelah melihat keadaan Fatih di rumah sakit dulu, Aulia semakin iba dengan Fatih.


"Baiklah Pak, saya ikut untuk melihat Mas Fatih. Tapi, saya bawa motor sendiri saja."


"Jangan Mbak, saya bonceng saja nggak apa-apa, soalnya Mas Fatih berpesan supaya saya menjemput Mbak Aulia."


"Ya sudah baiklah kalau gitu, saya ambil tas dulu."


Setelah Aulia mengambil tas, akhirnya dia naik dibelakang. Dia duduk menyamping karena dia menjaga sopan santun dan biar tidak terlalu dekat dengan laki-laki itu.


.


.


.


Sedangkan diperjalanan, Bayu hanya memasang muka cemberut dan bingung dengan sikap Aulia. Kenapa dia mau disurih menemui Fatih, sedangkan dirumahnya ada calon suaminya.


Bayu semakin penasaran dengan kejadian barusan. Ada apa dengan Aulia dan Fatih saat bertemu di rumah sakit. Kok, Aulia dengan mudahnya mau disuruh menemui Fatih.


"Ciiiiiiiiiittt,!" Suara rem mobil Bayu terdengar jelas.


Dia kaget karena ada kucing nyebrang. Untung saja kecepatan dia tidak begitu cepat, jadi dia masih punya keseimbangan untuk mengerem mobilnya.


"Ya Allah, aku jadi nggak fokus. Hampir saja aku menabrak kucing tadi," ucap Bayu pelan.


"Triiing...triiing...!" ponselnya berbunyi.


Bayu menepikan mobilnya karena dia mau melihat ponselnya. Dia melihat pesan dari Bu Windy.


"Maaf Pak Bayu, kalau saya mengganggu waktu Anda. Saya dikasih tahu sama Pak Adrian, kalau perusahaan kita diundang dalam acara bagi-bagi pulsa gratis dari salah satu provider ternama Indonesia,"


Bayu tidak langsung membalas pesan dari Bu Windy tersebut. Dia masih mencoba mencari jalan keluar supaya dia bisa menghadiri acara tersebut.


Tak lama kemudian dia kembali melajukan mobilnya, setelah mendapati sebuah cafe dia membelokan mobilnya ke cafe tersebut.


"Mbak, pesan capucino hangat satu," ucap Bayu pada salah satu pelayan cafe tersebut.


"Baik Pak, mohon ditunggu."


Bayu kembali melihati ponselnya, dia bingung mau merespon seperti apa, sedangkan dia ke Surabaya memang ada perlu sama Aulia.


Akhirnya dia mencoba menghubungi Bu Windy. Di pencetnya nomor Bu Windy tersebut.


"***Hallo, Bu Windy."

__ADS_1


"Iya Pak Bayu, ada apa?"


"Soal yang Bu Windy kirimkan barusan. Itu acaranya kapan, ya Bu?"


"Oh soal undangan itu. Kata Pak Adrian sabtu malam. Tapi, kan Pak Bayu sedang di Surabaya. Kalau memang nggak bisa datang nggak apa-apa. Tadi saya disuruh Pak Adrian memberitahu Pak Bayu kali aja mau ikut."


"Sabtu berarti besok. Hmm.., nanti saya kabari lagi, ya Bu. Ini saya masih di jalan."


"Oh iya Pak nggak apa-apa."


"Oke, makasih Bu***."


Bayu menutup kembali ponselnya. Dan pesanan minumannya pun juga datang. Dia meminum capucino hangat yang barusan dipesannya.


Setelah dirasa cukup, dia hampir satu jam duduk di cafe itu. Kemudian dia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Mau pergi ke rumah temannya tapi dia nggak bersemangat gara-gara Aulia tadi pagi. Akhirnya dia kembali melajukan mobilnya untuk kembali pulang.


(***)


Sedangkan di tempat Fatih, Aulia bingung dengan tawaran Fatih. Dia masih belum bisa memutuskan apa-apa.


"Gimana, Lia? Apa kamu mau menikah denganku,?" ucap Fatih lagi.


"Maaf Mas, tapi aku sudah dilamar sama Mas Bayu."


"Kan masih dilamar, belum dinikahinya," jawab Fatih pelan.


"Tapi kenapa Mas Fatih memilih aku, sedangkan masih banyak wanita lain diluar sana yang mau Mas Fatih nikahi."


"Lia, aku sangat mencintai kamu. Sedangkan pernikahan ini harus terjadi karena aku punya tujuan, tapi tujuan ini baik dan bukan untuk memanfaatkan kamu," jelas Fatih.


"Apa maksud Mas Fatih,?" jawab Aulia kaget.


"Kamu kan suka mengajar anak-anak jalanan, kan.?"


"Iya Mas, ada apa.?"


"Lia, Harta Ayahku ini banyak. Meskipun dulunya Ayahku seorang rentenir, tapi Ayahku juga punya harta asli dari jerih payahnya sendiri saat punya usaha dan bukan uang hasil riba. Aku mau menyelematkan harta Ayahku yang itu untuk aku sumbangkan sama anak-anak jalanan yang kamu ajar. Aku ingin membangunkan sebuah panti semacam yayasan untuk kamu kelolah dari harta Ayahku yang itu," jelas Fatih.


Mata Aulia berbinar karena dalam satu sisi sifat Fatih ternyata mulia juga. Dia memang dulunya bercita-cita mau membuatkan tempat tinggal yang layak buat anak-anak itu, tapi dia sendiri banyak sekali keterbatasan dalam hal itu.


"Maksud Mas Fatih gimana, kenapa Mas Fatih harus menikah dulu supaya bisa melakukan hal itu.?"


"Iya Lia, harta Ayahku yang itu sekarang ada di Bank. Dalam surat wasiat yang dibuat Ayahku, aku baru boleh memakai atau menggunakan harta tersebut jika aku menikah dengan kamu,!" jawab Fatih sambil melirik kearah Aulia.

__ADS_1


------------------------------


Next....


__ADS_2