MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 79 (Kecewa)


__ADS_3

Bayu masih tak berkutik di depan orang tuanya karena pertanyaan Papanya barusan. Dia mengakui kalau tindakannya ini memang salah. Keputusannya untuk melepaskan Aulia untuk menikahi Fatih adalah keputusan yang fatal.


"Bayu,! Kenapa diam saja? Ada apa,?" suara Pak Ridwan mulai meninggi.


"Maaf Pa, Ma. Mungkin ini saatnya Bayu cerita sama Mama dan Papa soal Aulia," jawab Bayu dengan muka sedih.


"Memang ada yang kamu sembunyiin dari Mama dan Papa," kini Bu Santy yang bertanya.


"Ma, Pa. Saat Bayu cuti lalu pagi-pagi pamit ke rumah Aulia itu, sebenarnya Bayu mau bicarakan soal penempatan Bayu yang disini. Tapi, di rumahnya ada asistennya Fatih mantan tunangannya dulu. Dia diminta untuk datang karena Fatih sedang sakit keras. Awalnya saya ditawari Aulia untuk ikut, tapi kata asistennya Aulia harus pergi sendirian. Disitu Bayu mulai emosi dan marah, kami sempat debat. Kemudian Bayu pulang dan meninggalkan Aulia sama orang itu," jelas Bayu.


"Kamu nggak tanya ada urisan apa dia menjemput Aulia," pak Ridwan berkata.


"Sudah, tapi jawabnya nggak tahu. Ini hanya perintah Fatih. Gitu jawabnya," ucap Bayu.


"Kamu kok nggak cerita sama Mama, terakhir kamu bilang kalau Aulia sibuk bantu Ibunya di warung. Kemudian kamu tiba-tiba balik ke Semarang ada acara," sahut Bu Santy.


"Iya Ma, lalu keesokan harinya saat Bayu di Semarang, Aulia telpon Bayu menceritakan kalau Fatih kesehatannya menurun dan harus menjalankan amanah wasiat Ayahnya."


"Memang apa isi wasiatnya,?" tanya Pak Ridwan.


"Fatih harus menikahi Aulia sesuai dengan keinginan Almarhum Ayahnya. Karena kondisi Fatih tidak memungkinkan untuk menunggu, akhirnya dia minta Bayu melepaskan Aulia sementara buat membantu Fatih melanjalankan wasiat tersebut," jawab Bayu pelan.


"Apa,!" seru Bu Santy.


"Kamu nggak main-main, Bay,?" kini Pak Ridwan ikut terkejut.


"Iya Pa, Ma. Maafkan Bayu karena tidak membicarakan ini dengan Mama dan Papa. Keadaannya sangat mendesak. Saat itu pengacara Fatih juga sempat ikut bicara lewat telpon sama Bayu, dia juga memohon agar mengijinkan Aulia untuk membantu Fatih menjalankan wasiat Ayahnya, karena pengacaranya itu bilang kalau umur Fatih sudah tidak lama lagi, dan seminggu kemudian akhirnya Fatih meninggal," jelas Bayu dengan mata yang mulai mengembun.


"Innalilahiwainailahirojiun.," ucap Pak Ridwan barengan dengan Bu Santy.


"Kasihan Aulia, dia hanya dibuat sebagai alat saja. Keterlaluan keluarga Fatih itu," ucap Bu Santy.


"Ma, tolong jangan bicara seperti itu sama orang yang sudah meninggal. Bagaimanapun juga keluarga Fatih telah berjasa karena semua harta kekayaannya Almarhum akan disumbangkan ke anak-anak jalanan guna dibangunkan sebuah tempat tinggal buat mereka," jelas Bayu lagi.


"Kok bisa gitu,?" tanya Bu Santy.


"Iya Ma, isi wasiatnya itu Fatih bisa menggunakan harta Almarhum yang di bank untuk disumbangkan asalkan Aulia menjadi istrinya."

__ADS_1


"Kok pamrih gitu.?"


"Mungkin bukan pamrih, karena dari dulu ternyata Almarhum Ayah Fatih itu ingin menjadikan Aulia menantunya," jawab Bayu lagi.


Bu Santy dan Pak Ridwan saling pandang. Mereka akhirnya mulai mengerti apa tujuan Fatih menikahi Aulia. Memang kalau dipikir sangat tidak adil buat Aulia dan Bayu. Tapi, mungkin mereka ingin membantu supaya Fatih bisa lega sebelum pergi untuk selamanya.


"Kamu sudah hubungi Aulia,?" tanya Mamanya.


"Bayu sudah minta tolong sama Juno anak showroom untuk minta nomornya Aulia. Karena nomornya yang lama keblokir," jawab Bayu.


Bu Santy hanya terdiam dan masang wajah yang kecewa. Bagaimanapun juga Bayu anak semata wayangnya harus gagal menikah untuk kedua kalinya.


"Bay, apa kamu berniat melanjutkan hubungan kalian berdua yang sempat ada masalah untuk ke jenjang yang lebih serius,?" kini Pak Ridwan bertanya.


"Belum tahu, Pa."


"Kalau bisa jangan Bay,!" sahut Bu Santy tiba-tiba.


Bayu langsung menoleh kearah Mamanya. Bu Santy tiba-tiba menyaut dan memasang muka nggak senang. Pak Ridwan juga bingung, padahal dulu justru Bu Santy yang mendukung hubungan Bayu dan Aulia.


"Mama kok gitu,?" tanya Pak Ridwan.


"Mama,! Jangan bicara seperti itu dong. Jangan memandang sebelah seorang janda. Itu kan hanya status saja," jawab Pak Ridwan.


"Mama sangat kecewa sekali sama Aulia. Harusnya dia menolak karena dia sudah punya tunangan. Ini kok malah menerima tawaran orang lain untuk menikahinya," jawab Bu Santy dengan nada tinggi.


"Sssttt, Mama jangan keras-keras. Malu ada Bu Sumi," tukas Bayu.


"Iya Mama kok jadi bar-bar gini. Ini tempat orang bukan rumah sendiri,!" seru Pak Ridwan.


Tiba-tiba Bu Santy menurunkan emosinya dan masuk ke dalam kamar. Kini di ruang tengah tinggal Bayu dan Papanya saja. Pak Ridwan menatap anak laki-lakinya dengan tatapan iba.


"Bay, Papa ngerti perasaan kamu seperti apa saat ini. Tapi, Papa bangga sama kamu karena dengan berjiwa besar telah mengalah demi menolong orang lain yang lagi melawan penyakitnya," ucap Pak Ridwan sambil menepuk pundak Bayu.


"Makasih, ya Pa. Karena Papa bisa ngertiin Bayu," ucap Bayu sambil tersenyum.


"Iya Bay, sama-sama. Papa mau istirahat dulu ya. Besok pagi kan mau balik Surabaya," tukas Papanya.

__ADS_1


"Oke Pa."


Pak Ridwan meninggalkan Bayu yang duduk sendirian di kursi ruang tengah. Bayu hanya bisa menghela nafas panjang karena kenapa justru semuanya harus terbongkar disaat dia sedang bahagia atas prestasi di kerjaannya.


Semua yang terjadi pada dirinya dan Aulia memang tak lepas dari suratan takdirnya. Dia harus sadar dan berbesar hati untuk menerima serta menjalani semua ini.


Ujian demi ujian yang menimpa dirinya tersebut sudah dianggap Bayu sebagai motivasi dan pemicu dirinya untuk terus bersyukur. Karena dengan bersyukur dirinya merasa semua yang dihadapi terasa ringan.


Hampir setengah jam Bayu duduk-duduk sendiri di tempat itu, lalu dari belakang munculah Bu Sumi yang membereskan bekas syukuran tadi.


"Den Bayu sakit,?" tanya Bu Sumi.


Bayu menggelengkan kepalanya, "Enggak Bu."


"Tapi wajah Den Bayu seperti pucat gitu."


"Enggak apa-apa, Bu. Hanya capek saja."


Perempuan paruh baya itu akhirnya mendekati Bayu dan ikut duduk di sampingnya.


"Den Bayu kenapa? Mama sama Papa Den Bayu kemana,?" tanya Bu Sumi sambil matanya mencari seseorang.


"Mereka lagi istirahat di kamar, Bu."


"Kalau Den Bayu sakit, Ibu buatin teh panas atau bubur,?" ucap Bu Sumi.


"Ya ampun Bu Sumi baik banget, Bayu nggak apa-apa kok. Hanya lagi capel saja."


"Ya sudah kalau gitu, Bu Sumi tinggal lanjutin beres-beres, ya.?"


"Silakan Bu. Makasih sudah peduli sama Bayu."


Bu Sumi tersenyum sambil beranjak dari tempat duduknya semula. Bayu semakin bingung karena saat ini justru Mamanya yang nggak setuju kalau dia balik sama Aulia.


"Ya Allah, cobaan apa lagi yang Engkau berikan. Jika semua itu membuat hamba menjadi manusia yang jauh lebih baik hamba ikhlas," ucap Bayu pelan sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


------------------------------

__ADS_1


Next..


__ADS_2