MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 43 (Sedikit curiga)


__ADS_3

Bayu hanya terdiam saja setelah Panji membawa Rani pergi dari tempat itu. Dia bingung campur heran kenapa kok tiba-tiba Panji seperti itu.


"Kenapa, Mas. Mana temannya Mas Bayu tadi,?" tanya Aulia.


"Dia pergi, nggak tahu kenapa saat temannya datang langsung dia ajak pergi dari tempat itu," jawab Bayu dengan matanya masih melihat kearah dimana Panji dan temannya tadi pergi.


"Itu kan Panji temannya Mas Bayu yang pernah ketemu kita di Mall,?" tanya Aulia.


"Iya, Lia. Dia Panji. Dan kamu tahu siapa teman wanitanya tadi,?" ucap Bayu sambil memandang Aulia.


Aulia menggeleng, "Nggak tahu, Mas."


"Dia Rani, teman kantor Dinda.!"


"Oh jadi itu temannya Mbak Dinda,?" setu Aulia.


"Iya.!"


"Dunia ini ternyata sempit, ya Mas? Temannya Mbak Dinda ternyata teman Mas Bayu juga."


"Tapi Lia, aku kok curiga sama Panji, ya?" ucap Bayu.


"Curiga kenapa, Mas,?" jawab Aulia heran.


"Disaat sebelum temannya datang, dia kayaknya mau aku ajak gabung dengan kita disini. Tapi, setelah temannya datang dan lagi temannya itu ngerti aku saat hadir di pernikahannya Dinda, Panji langsung kaget dan akhirnya mengajak Rani temannya itu pergi dan pindah dari situ," jelas Bayu.


Aulia masih belum bisa menangkap omongan Bayu. Dia masih bingung apa yang di curigai.


"Mas, maaf aku masih belum faham apa yang Mas Bayu katakan barusan."


"Begini Lia, Kenapa Panji langsung mengajak pergi si Rani kalau dia nggak ada apa-apa. Mungkin dia nggak mau Rani dan aku terlibat pembicaraan. Karena sebenarnya dia adalah Ayah bayi yang ada di kandungan Dinda," jelas Bayu.


"Apa Mas,!" seru Aulia.

__ADS_1


"Ini cuma analisa aku saja. Rani kan teman Dinda yang waktu itu ulang tahun dan akhirnya terjadi kehamilan Dinda itu," jawab Bayu.


"Bisa juga gitu, tapi kita tidak boleh menuduh kalau nggak ada bukti," jawab Aulia.


"Iya juga sih, aku cuma menerka-nerka saja. Ya mudah-mudahan dugaanku salah dan bukan Panji Ayah bayi yang di kandung Dinda," ucap Bayu.


"Ya sudah, kita berdoa saja supaya hal yang baik menimpa Dinda dan anaknya."


"Kamu sudah selesai makannya,?" tanya Bayu.


"Sudah, Mas."


"Ya sudah, kita pulang kalau gitu," ajak Bayu.


Aulia mengangguk, kemudian Bayu mengajak Aulia pergi dari restoran itu. Dalam perjalanan Bayu masih mikir kalau Panjilah Ayah bayi yang ada dalam kandungan Dinda.


"Mas, jangan melamun. Bahaya loh nyetir sambil melamun,!" ucapan Aulia mengagetkan Bayu.


"Iya aku tahu kekawatiran Mas Bayu, tapi jangan sampai membuat Mas Bayu celaka," sahut Aulia.


"Iya sayang, maafin aku, ya?" ucap Bayu.


"Iya, Mas."


Bayu memandangi wajah Aulia dengan tatapan lembut sambil tersenyum. Kedua sejoli itu saling melempar senyum, dan Bayu kembai melajukan mobilnya.


(***)


Beberapa hari kemudian, toko sepatu milik Bayu rencananya mau buka showroom sendiri, dan bukan lagi sewa tempat di Mall, tapi di dalam gedung sendiri.


Bayu mengajak Aulia untuk melihat pemindahan toko sepatu tersebut. Dulu saat masih sewa tempat, dia hanya memperkerjakan satu orang saja. Tapi, kali ini dia memperkerjakan empat orang. Karena penjualannya meningkat dan permintaan semakin banyak, akhirnya Bayu memindahkan tokonya itu.


"Mas, rencananya ini buka dari jam berapa sampai jam berapa,?" tanya Aulia saat di tempat itu.

__ADS_1


"Rencananya jam sembilan pagi, sampai jam delapan malam."


"Dua shift berarti,?" Aulia bertanya kembali.


"Iya, dua shift. Pagi jam sembilan sampai jam lima, yang siang jam dua belas sampai jam delapan," jawab Bayu.


"Oh gitu, jadi satu shift dijaga dua orang,?" tanya Aulia.


"Iya sayang."


Disaat mereka lagi ngobrol-ngobrol, datang anak buahnya yang menjaga tokonya dulu.


"Maaf Pak Bayu, ini semuanya tinggal buka sambil kembali mengecek apa saja yang kurang," ucapnya.


"Kita buka pas hari minggu saja, berarti tinggal dua hari lagi. Kamu persiapkan semua keperluan buat acara grand opening lusa," jawab Bayu.


"Siap, Pak. Karyawan yang sudah lulus seleksi juga siap. Hanya tinggal merapikan sedikit demi sedikit."


"Bagus, aku suka kerja kamu. Aku percayakan showroom ini sama kamu untuk kamu pimpin. Nanti tiap minggu aku atau Mbak Aulia yang akan mengecek laporan keuangannya. Tapi, tiap hari kamu tetap kirim laporan harian seperti biasa," jelas Bayu.


"Iya, Pak. Saya siap laksanakan.!"


"Baiklah, sekarang saya pulang dulu. Kamu lanjutin pekerjaan kamu," jawab Bayu.


"Iya, Pak. Silakan."


Bayu dan Aulia meninggalkan showroom tersebut. Kini mereka berdua menuju mobil yang terparkir di halaman. Tapi, ketika mau masuk, Bayu melihat Dinda dan teman wanitanya keluar mobil.


"Bukannya itu Rani yang kemarin lusa sama Panji,?" ucap Bayu dalam hati.


-------------------------------


Next....

__ADS_1


__ADS_2