MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 19 (Pembicaraan antar keluarga)


__ADS_3

Setelah berbicara lewat telpon dengan orang tua Dinda, kini Pak Ridwan hendak ke rumahnya Dinda untuk membicarakan perjodohan tersebut. Pulang kerja Bayu mengantarkan orang tuanya ke rumah Dinda.


Dengan mengendarai mobilnya sendiri Bayu yang mengemudikan mobilnya itu menyusuri jalan raya. Dalam perjalanan menuju rumah Dinda, hatinya kembali bergejolak karena memang itu semua tak terpikirkan sebelumnya.


Dia juga nggak ada pilihan lain, karena dia juga akan mencoba untuk membuka lembaran baru. Meskipun ini juga tidak terlintas sedikitpun dibenaknya. Demi membuat yang lain bahagia, dia akan mencoba melakukannya.


Akhirnya sampai juga di rumah Dinda, Bayu memarkirkan di halaman.Kudian mereka bertiga turun dari mobil satu persatu. Bayu berjalan belakangan sedangkan kedua orang tuanya sudah berjalan di depan.


"Silakan masuk, Pak Ridwan" ucap Pak Arman.


"Iya, terima kasih Pak." jawab Pak Ridwan.


"Oh iya, ada apa ini kok tumben-tumbennya datang barengan gini. Ada apa.?" tanya Bu Heny.


"Iya, begini Pak, Bu. Saya kesini mewakili Bayu untuk melanjutkan rencana perjodohan antara Dinda dan Bayu." ucap Pak Ridwan.


Pak Arman dan Bu Heny sangat kaget dengan pernyataan Pak Ridwan barusan. Mereka nggak menyangka kalau akhirnya keluarga Bayu mau membahas hal ini.


"Kami sangat tersanjung sekali Pak, Bu atas respon positif ini. Memang kami berdua terutama Ibunya Dini sangat menginginkan kalau pernikahan Bayu tetap dilanjutkan, dan Dinda lah yang menggantikan posisi kakaknya Almarhumah Dini." jawab Pak Arman.


"Kami sebagai orang tua sangatlah senang jika anaknya mau melangsungkan pernikahan, karena menikah adalah melakukan separuh agama. Selain itu kami orang tua hanya merestui dan mendukung apa yang menjadi keputusan anaknya selama itu keputusan benar." jelas Pak Ridwan.


"Iya, Pak. Memang benar. Tapi, kenapa Dinda kok nggak pernah bilang soal itu. Kami mengiranya kalau mereka berdua memang kurang setuju dengan perjodohan ini. Makanya kami berdua juga menunggu perkembangan selanjutnya." jelas Pak Arman.


Pak Ridwan dan Bu Santy saling pandang, kemudian mereka berdua menoleh ke arah Bayu. Mereka bertiga menjadi bingung dengan apa yang Pak Arman katakan barusan. Lalu, Dinda bilang kalau kedua orang tuanya telah menekannya terutama Ibunya.


"Maaf, Yah. Dindanya mana.?" tanya Bayu.


"Oh iya, Dinda ada di kamarnya. Biar dipanggilkan Ibumu." jawab Pak Arman.

__ADS_1


Tak lama kemudian Dinda keluar bersama Bu Heny. Dia kaget karena kedatangan mereka tidak pernah dia duga. Kini dia duduk disebelah Ibunya. Pak Arman memandang anaknya yang kini duduk disebelah istrinya.


"Nak, Ini kedua orang tua Bayu mau membicarakan tentang perjodohan kalian. Katanya mereka setuju dan mau melanjutkan perjodohan ini." ucap Bu Heny.


Dinda tertunduk dan nggak berani menatap wajah orang-orang di dekatnya ini. Dia sangat malu kalau memang sebenarnya dialah yang memang menginginkan perjodohan ini dilanjutkan. Dia memakai alasan orang tuanya supaya Bayu menyetujui.


"Din, Mas Bayu mau tanya sama kamu. Tolong kamu jawab jujur.!" ucap Bayu sedikit serius.


"Iya Mas, tanya apa.?" jawab Dinda pelan.


"Din, soal perjodohan kita itu sebenarnya yang bersikeras untuk tetap dilanjutkan itu sebenarnya siapa. Ayah dan Ibu apa kamu sendiri.?" tanya Bayu.


Pak Arman dan Bu Heny saling pandang, mereka semakin nggak ngerti dengan pertanyaan Bayu. Sedangkan Dinda tidak berani menjawab. Dia menundukan kepalanya karena takutdan malu.


"Dinda, tolong jawab pertanyaanku, apa ini memang kemauan kamu.?" tanya Bayu lagi.


"Dinda, jadi kamu bilang apa sama Nak Bayu.?" tanya Bu Heny.


"Iya, Din. Sebenarnya ini ada apa.?" tanya Pak Arman bingung.


"Pak Arman, kemarin Dinda datang ke rumah sambil nangis, dia bilang soal perjodohannya dengan Bayu. Katanya dia merasa nggak tenang karena Ibunya sangat menginginkan perjodohan ini terjadi, dengan kata lain Anda berdua masih menginginkan Bayu menjadi menantu Bapak dan Ibu." jelas Bu Santy.


"Ya ampun Dinda, kamu kenapa nikin malu Ayah dan Ibu, Hah.,!" bentak Pak Arman.


"Nak, Ibu memang sangat meninginkan Bayu jadi menantu Ibu, makanya Ibu menawarkan perjodohan kalian. Tapi, Ibu nggak memaksa kalian, dan jika Bayu nggak setuju juga nggak apa-apa, Nak." ucap Bu Heny.


"Maafin Dinda, Bu. Dinda nggak bermaksud mempermalukan Ayah dan Ibu. Dinda bingung, Bu. Jujur saja karena selama ini Dinda sangat mencintai Mas Bayu. Hiks..hiks..!" jawab Dinda dengan tangisnya yang semakin pecah.


"Ya ampun, Din. Kenapa bisa jadi seperti ini. Ayah dan Ibu bingung harus ngapain kalau begini, Nak.!" ucap Ayahnya.

__ADS_1


"Dinda-Dinda.. kok bisa seperti ini, sih.!" ucap Bu Heny sambil ikut menangis.


"Dinda suka sama Mas Bayu sejak Dinda dan Mbak Dini pertama kenal Mas Bayu. Kami ketemu di Mall, setelah kami berdua kenal, ternyata Mas Bayu lebih mencintai Mbak Dini. Dinda hanya mampu diam saja. Lalu saat setelah Mbak Dini meninggal terus Ayah dan Ibu mau menjodohkan kami, disitu hati Dinda senang sekali dan berharap kalau itu memang terjadi." jelas Dinda sambil menangis.


Semua yang hadir ikut trenyuh dengan penjelasan Dinda barusan. Mereka kasihan dengan Dinda yang selama ini dia hanya bisa memendam perasaan lantaran laki-laki yang dia suka justru mencintai Kakaknya.


Sementara Bayu hanya menutup wajahnya dengan menunduk. Dia nggak habis pikir kenapa Dinda kok bisa tiba-tiba berubah pikiran seperti ini. Pas ketemu di makam katanya dia nggak mau egois untuk memaksakan perasaan itu.


Kini Bayu menegakan duduknya dan menghadap kepada orang-orang disitu. Dinda nggak berani menatap wajah Bayu yang kini seperti mau marah. Lalu dia berdiri dan mendekati Dinda serta menarik tangannya dan mengajaknya meninggalkan tempat itu.


"Ikut aku bentar.,!" tukas Bayu sambil menarik tangannya Dinda keluar.


Dinda kaget karena Bayu pasti marah besar. Dia ikuti saja apa yang Bayu lakukan. Bayu mengajaknya kedalam lalu masuk ke kamar Dini dan menutup pintunya lalu menguncinya.


Dinda kaget karena tiba-tiba Bayu jadi begini. Bayu melemparkan Dinda di tempat tidur Dini. Sementara Dinda hanya memangis karena dia nggak tahu mau diapakan sama Bayu.


"Sekarang dikamar ini tinggal kita berdua, lakukan apa yang ingin kau lakukan terhadapku. Atau kamu ingin aku yang melakukannya, hah.,!" suara Bayu meninggi.


Dinda semakin ketakutan karena kini Bayu sudah mendekati dirinya yang masih tergeletak diatas tempat tidur, sememtara itu Bayu terus mendekat dan tubuhnya kini sudah hampir menindih tubuh Dinda.


Dinda terdiam dan menatap wajah Bayu yang semakin lama semakin dekat dengan wajahnya. Hangatnya hembusan nafas Bayu pun kini bisa dia rasakan. Wajah Bayu memerah karena memahan marah kini semakin geram.


"Mas, apa yang akan kamu lakukan sama aku. Aku minta maaf karena melakukan ini semua." ucap Dinda sambil menangis.


"Aku akan melakukan yang kamu inginkan. Ini kan kita sudah berduaan saja, jadi sekarang kamu bisa miliki aku sepuas kamu.!" jawab Bayu.


-------------------------------


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2