MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 38 (Mengantar Aulia pulang)


__ADS_3

Aulia semakin yakin sama Bayu bahwa dia akan membuat dirinya bahagia. Semakin ke sini Bayu menunjukan keseriusannya. Keluarganya juga baik banget dan menerima dirinya apa adanya.


Bayu melirik jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul lima sore, dia mau mengantarkan Aulia pulang karena biar tidak kemalaman.


"Lia, sudah jam lima. Apa kamu diantar pulang sekarang,?" tanya Bayu.


"Iya nggak apa-apa, Mas. Nanti kali aja Ibu menunggu," jawab Aulia.


Bayu mengangguk lalu mereka berdua turun kembali ke ruang tengah dimana semua masih berkumpul.


"Ma, Pa, Aulia mau pamit pulang dulu," ucap Bayu.


"Oh iya, kok buru-buru, sih?" sahut Bu Santy.


"Maaf, Bu. Kali aja Ibu sudah menunggu," jawab Aulia.


"Oh gitu, ya sudah nggak apa-apa. Hati-hati, ya,?" ucap Bu Santy.


Aulia mengangguk lalu menyalami semua yang ada disitu. Kemudian dia melangkah pergi berjalan mengikuti Bayu yang sudah di depan.


"Lia, kelak kalau kita sudah menikah mau punya anak berapa,?" tanya Bayu saat dalam mobil perjalanan pulang.


Aulia sontak terkejut karena Bayu tiba-tiba bertanya soal itu. Dia jadi malu mau menjawabnya.


"Mas Bayu ini ada saja yang ditanyakan," jawab Aulia sambil pipinya memerah nahan malu.


"Kan wajar aku bertanya seperti itu, biasa dalam hubungan sepasang kekasih apalagi mau menikah pasti salah satunya akan menananyakan hal itu," ucap Bayu dengan matanya masih fokus kedepan.


"Iya juga, sih. Kalau aku terserah Allah yang kasih. Yang penting tetap berusaha."


"Mas, aku boleh tanya sesuatu, nggak.?"


"Mau tanya apa, Lia.?"

__ADS_1


"Dulu kamu kenal dengan almarhumah Mbak Dini dimana, Mas.?"


Bayu heran dan menoleh kearah Aulia, "Kamu kenapa bertanya seperti itu.?"


"Ya pingin tahu saja Mas. Kalau memang Mas Bayu tidak berkenan menjawab juga nggak apa-apa."


Bayu terdiam sejenak. Dalam hatinya dia nggak tega jika tidak menjawab pertanyaan Aulia. Kemudian dia menghela nafas panjang lalu tersenyum.


"Baiklah aku akan cerita, tapi janji nggak akan berfikiran macam-macam serelah aku cerita, kan,?" tanya Bayu.


"Siap,!" jawabnya.


"Awalnya aku ketemu Dini itu di sebuah Mall, kantor aku lagi ada event dan aku mengecek disitu. Lalu pas istirahat aku ke foodcourt untuk beli makan. Setelah itu aku melihat ada cewek yang menarik pandanganku lagi duduk di salah satu meja. Aku perhatikan cewek itu lumayan cantik. Mungil wajahnya ayu, rambutnya panjang sebahu.


Lalu di otakku tiba-tiba punya ide untuk menjadikannya salah satu tim marketingku. Kemudian aku deketin dia dan mencoba berkenalan. Setelah kurang lebih sepuluh menitan kami ngobrol, tiba-tiba datang lagi cewek satu. Dia rambutnya pendek dan sedikit tomboy lah. Dan itu adalah Dinda.


Mereka ternyata adik kakak, kebetulan sang kakak yang tak lain adalah Dini itu baru resign dari kerjaannya yang lama karena nggak mau di pindah ke luar pulau. Jadi setelah aku tawari untuk bergabung di kerjaanku langsung mau.


"Kasihan Dinda, ya Mas. Dia memendam cintanya dalam hati," ucap Aulia.


"Tapi kan bukan salah aku, sayang,?" ucap Bayu.


"Hehe., siapa juga yang salahin kamu, Mas. Cinta kan memang tidak harus memiliki," jawab Aulia sambil memegang lengan Bayu.


Akhirnya sampai juga di rumahnya Aulia, Bayu memarkirkan mobilnya di halaman rumah Aulia.


"Mas, ayo masuk dulu," ajak Aulia.


"Iya, Lia."


Saat masuk rumahnya, Bayu langsung duduk di ruang tamu sedangkan Aulia masuk ke dalam. Tak lama kemudian Aulia keluar dengan Ibunya.


Bayu langsung menyalami tangan Ibunya Aulia. Kemudian dia duduk kembali di kursi diikuti oleh Aulia dan Ibunya.

__ADS_1


"Maaf, Nak Bayu. Rumahnya ya begini ini. Berantakan," ucap Ibunya Aulia.


"Nggak apa-apa, Bu. Sama saja."


"Mas, Ibu pernah bilang sama aku, kalau nanti kita menikah, Mas juga boleh kok tinggal disini, tapi itu kalau Mas Bayu mau," ucap Aulia.


"Itu gampang aja, Lia. Nanti kan bisa dibicarakan lagi," jawab Bayu.


"Baiklah Mas, aku sih terserah Mas Bayu saja."


Tak lama kemudian Bayu pamitan pulang karena hari sudah semakin malam. Aulia mengantarkan Bayu sampai halaman rumah. Setelah itu dia balik masuk ke dalam rumah lagi.


"Lia, Nak Bayu itu baik ya. Dia nggak canggung masuk ke rumah kita, secara dia dari keluarga berada," ucap Ibunya.


"Ya begitulah Mas Bayu, orang rendah hati dan tidak sombong."


.


.


.


Malam harinya di rumah Bayu, dia lagi duduk sendiri di balkon kamarnya. Matanya menatap langit yang sudah ditaburi bintang-bintang yang bersinar.


Kehampaan yang selama ini dia rasakan setelah sepeninggalnya Dini kini musnah sudah. Sosok Aulia kini sudah menemani hari-harinya berhasil membuat Bayu lupa akan masa lalunya.


Memang butuh waktu lama untuk memulihkan hatinya untuk menerima wanita lain sebagai pengganti Dini, dan itu hanya bisa dilakukan oleh seorang Aulia, gadis sederhana yang auranya mampu memancarkan sinar asmara kepada Bayu.


"Dini, aku sudah mantap untuk memilih Aulia sebagai istriku, aku mohon doakan aku dan Aulia agar bisa membangun rumah tangga yang bahagia," ucapnya pelan saat menatap langit di malam hari.


-------------------------------


Next...

__ADS_1


__ADS_2