
Seketika Bayu dan Gani menoleh kearah sumber suara. Dinda sudah berdiri disamping Bayu dengan wajah yang berseri-seri. Bayu mencoba bergeser agar tidak terlalu mepet karena nggak enak dilihat Gani dan tukang tahu tek.
"Kamu kok sendirian, suami kamu kemana,?" tanya Bayu dengan wajah yang datar.
"Mas Irwan sudah tidur, aku nggak bisa tidur udaranya panas banget. AC kamar mati, akhirnya aku keluar rumah cari angin. Lalu aku lihat Mas Bayu disini terus aku samperin," jawabnya biasa.
"Mendingan kamu masuk, Din. Nanti kalau Irwan mencari kamu, gimana? Lagian udara malam hari tidak baik buat wanita hamil," tykas Bayu dengan wajah kurang suka.
"Kenapa, sih Mas? Aku nggan boleh ya ikut nimbrung disini sama kalian. Aku bosan di rumah, capek tidur mulu," jawabnya sewot.
"Bukannya nggak boleh, tapi ini sudah malam, Din. Nanti kalau Irwan cariin kamu, terus tahu-tahu kamu disini sama kita kan nggak enak,!" jawab Bayu.
"Mas Bayu nggak asik, masa aku ikut gabung nongkrong disini aja nggak boleh,!" sahutnya dengan wajah yang mau marah.
"Terserah kamu saja, aku sama Gani habis ini masuk, karena pesanan kami sudah selesai, dan kami mau makan di dalam rumah saja," jawab Bayu.
Dinda merasa kecewa karena dirinya kini sendiri, sedangkan Bayu dan Gani masuk rumah. Bayu sebenarnya nggak tega melihat Dinda seperti itu, tapi mau gimana lagi dirinya harus menjaga jarak karena Dinda sekarang sudah punya suami.
"Kak, itu Mbak Dinda masih berdiri di depan pagar pinggir jalan raya," ucap Gani setibanya di teras.
"Biarkan saja. Kita masuk dulu," jawab Bayu sembari menutup pintunya.
__ADS_1
Kini Bayu dan Gani masuk ke dalam, sedangkan Dinda masih di pinggir jalan raya. Tak lama kemudian Irwan memanggil-manggil dirinya.
"Din, Dinda,!" seru Irwan dari kejauhan.
"Iya, Mas.!"
"Kamu ngapain disini,?" tanya Irwan sambil menggandeng tangan Dinda.
"Aku tadi pingin makan bakso, tapi tukang baksonya nggak lewat," jawabnya asal.
"Kamu sudah dibilangin kalau mau keluar atau pingin apa-apa bilang sama aku. Biar aku yang keluar carinya," ucap Irwan sambil menggandeng tangan Dinda pulang ke rumahnya.
" Tadi kan Mas Irwan sudah tidur, jadi ya aku keluar sendiri," jawab Dinda.
Kini merela berdua sudah sampai rumah, dan mereka duduk di ruang tengah. Kemudian Irwan pergi ke dapur untuk membuatkan istrinya susu hangat.
Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa segelas susu hangat kearah istrinya. Dinda jadi nggak enak sama Irwan karena telah membuat suaminya itu kepikiran.
"Ini di minum susunya mumpung masih hangat, nanti kalau dingin nggak enak," ucap Irwan sambil kini mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Iya maaf, Mas telah merepotkan. Makasih ya Mas,?" jawab Dinda.
__ADS_1
"Sudahlah, minum saja."
Dinda kemudian meminum susu buatan Irwan. Perlahan susu tersebut habis karena Dinda memnag sedang kelaparan. Ibu hamil memang sering ngemil dan mudah lapar.
"Sekarang kamu mau dibelikan apa lagi, biar aku yang keluar,?" tanya Irwan.
Dinda menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Mas. Sudah malam kita tidur saja."
"Baiklah kalau begitu, kita lansgung tidur saja," ajak Irwan pada istrinya.
Keduanya langsung masuk kamar. Irwan membantu istrinya mengganti baju dengan baju tidur yang nyaman. Dia mengambilkan piyama di lemari, sedangkan Dinda melepaskan pakaiannya sebelumnya.
Irwan melihat perut istrinya yang perlahan sudah mulai kelihatan. Dipandanginya istrinya yang sibuk mengganti pakaian.
Dinda memergoki Irwan yang sedang memandangi dirinya yang hanya tinggal pakaian dalamnya saja. Perlahan Dinda mendekati Irwan kemudian berbisik.
"Mas Irwan menginginkannya malam ini,?" ucapnya pelan.
Irwan menggeleng sambil memegangi tangan Dinda. "Tidak sayang, kamu pasti capek. Kita istirahat saja."
------------------------------
__ADS_1
Next....