MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 25 (Diskusi)


__ADS_3

"Maaf Pa, apa Bayu nggak salah dengar. Papa tega menyuruh menikah dengan perempuan yang sudah mengandung anak dari laki-laki lain.?" jawab Bayu dengan sedikit emosi.


"Bukan begitu, maksud Papa kamu menikah hanya untuk menutupi saja sampai anak itu lahir, setelah itu terserah kamu. Kamu lanjutin pernikahan itu atau kamu pisah." jawab Pak Ridwan.


"Papa,! kamu tega berspekulasi dengan pernikahan anak kamu. Kebahagiaan anak kok dipertaruhkan.?" sahut Bu Santy.


"Ya sudah kalau gitu, Papa tadi kan cuma menawarkan saja." jawab Pak Ridwan sambil meminum kopinya.


Bu Santy heran kenapa suaminya punya pemikiran seperti itu. Sudah tahu kalau Dinda itu sudah hamil malah menyuruh anaknya untuk menikahinya.


"Maaf Pa, untuk kali ini Bayu tidak bisa menuruti apa yang menjadi keinginan Papa. Karena Bayu sudah punya pilihan sendiri." jawab Bayu sambil melirik Mamanya.


"Apa? Kamu sudah punya pilihan sendiri? Pantesan kamu nggak mau dijodohkan sama Dinda.!" jawab Pak Ridwan kaget.


"Bukan karena itu Pa, meskipun Bayu nggak punya pilihan sendiri, Bayu tetap menolak kalau dijodohkan dengan Dinda. Lagian pilihan Bayu ini nggak ada hubungannya dengan penolakan Bayu terhadap Dinda." jawab Bayu.


"Siapa gadis yang sudah berhasil meluluhkan hati kamu.?" tanya Papanya.


"Dia bernama Aulia, gadis berhijab yang kerja di toko buku SEMERU seberang jalan depan rumah ini." jawab Bayu.


Sontak Pak Ridwan membulatkan matanya karena hampir nggak percaya kenapa selera anaknya kali ini diluar ekspetasinya. Hanya penjaga toko buku mampu meluluhkan hati anak semata wayangnya kali ini. Sehebat apakah dia. Batin Pak Ridwan.


"Kerja di toko buku? Apa kamu nggak salah, Bay?" jawab Pak Ridwan.


"Apanya yang salah, Pa.?"


"Iya Papa ini gimana sih, apanya yang salah. Aulia kan perempuan, Bayu laki-laki. Ya wajarlah kalau mereka saling jatuh cinta." sahut Bu Santy.


"Bukan begitu Ma, maksud Papa kan Bayu di kantornya banyak teman perempuan, masak nggak ada yang nyantol satu pun. Kok malah milih gadis penjaga toko buku." jawab Pak Ridwan.


"Maksud Papa apa dengan gadis penjaga toko buku. Apa karena profesinya, atau karena dia anak orang biasa. Lalu apa bedanya dulu dengan Almarhum Dini, dia juga gadis sederhana yang berprofesi sebagai Spg event dan dari keluarga sederhana, apa bedanya dengan Aulia.?" sahut Bayu tegas.


"Iya Papa kok malah pilih-pilih gini sih?" ucap Bu Santy.


Bayu kemudian memegang kepalanya dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia menatap keatas sambil matanya yang mulai berembun. Dalam hatinya sangatlah kecewa dengan Papanya yang memandang status sosial Aulia.

__ADS_1


"Bukannya pilih-pilih Ma, tapi kan Papa bicara apa adanya. Anak kita kan kerjanya lumayan di kantornya, masih pegang anak buah, setidaknya ya mendapatkan yang sepadanlah,!" jawab Pak Ridwan.


"Pa, yang sepadan gimana maksud Papa. Apa harus sama yang kerjanya punya jabatan gitu.?" ucap Bu Santy sambil menatap suaminya.


"Ya kurang lebih seperti itulah, biar kita juga nggak malu kalau ditanya teman-teman guru di sekolah." seloroh Pak Ridwan.


"Apa,! Jadi Papa malu jika Bayu menikahi gadis yang profesinya sebagai penjaga toko buku.!" sahut Bayu dengan keras.


"Papa kok begitu sih, jadi Papa gengsi kalau punya menantu seorang pelayan toko.?" kini Bu Santy ikut menyaut.


"Bukan begitu, Bay. Papa hanya ingin melihat kamu seperti yang lainnya. Punya istri dengan pekerjaan yang setidaknya setara sama kamu." jawab Pak Ridwan.


"Pa, pokoknya Bayu tetap akam memilih Aulia. Bayu terlanjur suka sama dia." ucap Bayu.


"Iya Papa ini, buat anaknya kok pakai pilih-pilih. Mumpung hatinya sudah terbuka, nanti kalau dia kembali seperti pertama kali kehilangan Dini nanti Papa yang rugi sendiri." sahut Bu Santy.


Pak Ridwan terdiam sambil memikirkan apa yang dikatakan istrinya barusan. Memang ada benarnya juga, buat apa dia ngotot kalau anaknya cinta sama gadis itu. Setidaknya anaknya bisa melanjutkan hidupnya.


Pak Ridwan menghela nafas panjang, kemudian dia tersenyum kearah anak dan istrinya. Kemudian dia mengangguk, "Ya sudahlah, Papa setuju kamu menikah dengan Aulia. Bawa kesini biar kami bisa mengenalnya lebih dekat." ucap Pak Ridwan.


Sontak Bayu membulatkan matanya dan menoleh kearah Mamanya, kemudian dia memeluk Mamanya lalu Papanya.


"Iya terserah kamu, maafkan Papa ya Bay kalau sempat membuatmu kesal. Ya sikap Papa seperti itu lantaran seorang Ayah pasti menginginkan anaknya mendapat yang terbaik." jawab Pak Ridwan.


"Iya nggak apa-apa, Pa. Bayu mengerti kok dengan sikap Papa tadi, semua orang tua pasti ingin anaknya mendapatkan yang lebih baik." jawab Bayu.


"Ya sudah kalau gitu berarti sekarang sudah nggak ada masalah kan, selanjutnya kita akan memikirkan langkah kedepannya gimana." ucap Bu Santy.


"Sabar dong Ma, Bayu aja baru kenal dan baru beberapa kali ketemu. Nanti kalau sudah siap, baru kita bicarakan langkah selanjutnya." ucap Bayu.


Pak Ridwan dan Bu Santy saling pandang dan tersenyum. Kini mereka sedikit lega karena anaknya nggak galau lagi dan berlarut-larut dalam kesedihan.


(***)


Keesokan harinya pas sepulang kerja Bayu mampir ke toko buku tempat Aulia bekerja. Dia mau mengajak Aulia ke rumah untuk bertemu Papa dan Mamanya.

__ADS_1


"Lia, jam berapa nanti pulangnya.?" ucap Bayu sesampainya di toko itu.


"Eh Mas Bayu, ngagetin saja. Lia keluar jam setengah lima." jawab Aulia.


Bayu melirik alroji di tangannya, masih jam empat lebih seperempat. Berarti lima belas menit kemudian. Batinnya.


"Baiklah, aku tunggu di luar, ya?" ucap Bayu.


"Memangnya ada apa Mas.?" tanya Aulia.


"Pokoknya kamu ikut aku sebentar.!"


"Baiklah Mas, tunggu sebentar ya.?"


Bayu mengangguk pelan sambil tersenyum kearah Aulia. Demikian pula dengan Aulia, dia membalas senyuman Bayu dengan lembut.


Sekitar lima belas menit kemudian Aulia keluar toko lengkap dengan tasnya. Lalu dia mendekati Bayu yang duduk diatas motornya depan toko buku tersebut.


"Mas, kita berangkat sekarang.?" ucap Aulia tiba-tiba.


"Eh, Lia! Iya kita berangkat sekarang. Kamu bawa motor.?"


"Iya Mas, aku bawa motor."


"Baiklah, kalau begitu kita motoran sendiri-sendiri. Kamu ikuti aku." ucap Bayu.


Kemudian mereka membawa motornya sendiri-sendiri. Bayu duluan kemudian diikuti oleh Aulia. Mereka memutar jalan karena memang jalannya satu arah, jadi mereka harus mencari putar balik.


Setelah lima menit kemudian Bayu membelokan ke sebuah rumah yang tak lain adalah rumahnya. Aulia kaget melihat rumah dihadapannya kali ini. Memang nggak begitu besar, tapi rumahnya tergolong bagus.


"Ayo masuk Lia,!"


"Ini rumah siapa, Mas.?"


"Ini rumahku,!"

__ADS_1


-----------------------------


Next...


__ADS_2