
Aulia dan Bi Lastri sontak menoleh ke sumber suara. Ternyata Bu Dewi Ibunya Aulia sudah di dekat pintu kamar. Kemudian dia buru-buru menaruh bawahaannya ke atas meja lalu mendekati Aulia.
"Memangnya ada apa, kok sampai Ibu nggak boleh tahu,?" tanya Bu Dewi penasaran.
Aulia dan Bi Lastri saling pandang karena mereka bingung harus menjawab apa. Ibunya semakin penasaran karena Aulia atau Bi Lastri tidak menjawab pertanyaannya.
"Bibi tahu ada apa? Saya sudah anggap Bi Lastri seperti kakak saya sendiri, bahkan saya menitipkan Aulia selama tinggal di rumah Fatih kepada Bibi. Apa Bibi tega kalau diantara kita harus ada rahasia," ucap Bu Dewi pelan.
Bi Lastri semakin tidak enak kalau Bu Dewi bicara seperti itu. Dia lantas menoleh kearah Aulia dengan wajah yang sedikit ketakutan. Sementara Aulia sendiri juga bingung harus berterus terang apa tidak.
"Bu sebenarnya tadi siang orang tua Mas Bayu datang kesini jenguk Aulia," ucap Aulia lirih.
"Oh iya, mereka tahu dari mana kalau kamu masuk rumah sakit.?"
"Awalnya mereka tahu pas di dekat tempat Aulia kecelakaan. Taksi yang ditumpangi mereka berhenti karena terhalan banyak orang. Lalu sopir taksi tersebut menemukan cincin tunangan Aulia dengan Maa Bayu.
Disaat mereka hendak memastikan siapa korban kecelakaan tersebut, Aulia sudah dibawa ke rumah sakit. Mereka penasarannya adalah kenapa ada cincin ini di dekat Aulia kecelakaan. Akhirnya Gani lah yang kasih tahu kalau Aulia dirawat disini," jelas Aulia.
"Kenapa kamu masih memakai cincin tunangan kamu sama Bayu? Apa kamu tidak menghargai Fatih suami kamu,!" ucap Bu Dewi dengan pandangan kurang senang.
"Nggak apa-apa, kan Bu. Cuma ini aja. Sayang kalau tidak dipakai."
"Iya Ibu tahu, Lia. Tapi, status kamu itu sekarang sudah beda. Kamu itu jandanya Fatih. Dan sepertinya cincin dari Fatih malah nggak kamu pakai, mau kamu sebenarnya apa, sih Lia,!" kini Bu Dewi sedikit emosi.
"Maafkan Lia Bu, bukan maksud Lia seperti itu. Ibu tahu sendiri kan awal mula gimana pernikahan aku dengan Mas Fatih. Lia juga tidak bisa bohongi hati Lia terus, kalau Lia masih cinta sama Mas Bayu. Lagian di surat wasiat Mas Fatih juga menyebutkan kalau dia sudah tidak ada nanti, Lia boleh kembali pada Mas Bayu. Karena itu dia tidak pernah menyentuh Lia sama sekali," jelas Aulia dengan matanya yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ya Ampun Lia, apapun alasannya saat ini kamu masih jandanya Fatih. Masa idha kamu juga belum selesai, kenapa kamu sudah pakai cincin itu lagi. Gimana perasaan Fatih di sana jika tahu istrinya seperti ini," jawab Bu Dewi.
"Maaf Bu Dewi, Mbak Aulia. Saya rasa ini hanya masalah kecil jadi jangan terlalu di permasalahkan, ya. Saya nggak mau diantara kalian berdua terjadi perselisihan. Den Fatih juga tidak menghendaki kalian bertengkar," sahut Bi Lastri.
"Iya Bi, maafkan Aulia ya. Aulia juga nggak suka kalau ada perselisihan. Baiklah Aulia akan melepaskan cincin ini," ucap Aulia sambil melepaskan cincinnya tersebut.
Bu Dewi yang melihat Aulia melepas cincinnya jadi merasa bersalah. Sebenarnya dia juga nggak setega itu sama anaknya soal cincin. Tapi, dia hanya menjaga perasaan orang-orang yang saat ini mengerti bahwa Aulia adalah jandanya Fatih.
"Lia, Ibu juga minta maaf, ya. Bukannya Ibu keterlaluan, tapi Ibu hanya ingin menjaga perasaan orang yang di sekitar kamu di rumahnya Fatih. Nggak enak, secara kamu baru saja ditinggal Fatih," ucap Ibunya sambil memeluk Aulia.
"Aulia juga minga maaf, Bu. Bukannya Aulia membangkang. Aulia cuma bicara apa adanya sama Ibu," jawab Aulia sambil menangis.
"Ssstt, sudahlah kalau gitu. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa, ya,!" ucap Bu Dewi dengan memgelus kepala anaknya.
Tok...tok...!
Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Kemudian pintupun terkuak, ternyata Pak Bardi datang dengan seorang perempuan.
"Maaf Bu Aulia, ini Bu Wati pemilik mobil pick-up yang menabrak Bu Aulia. Beliau ingin bertemu dengan Ibu," ucap Pak Bardi.
"Begini Mbak Aulia, kedatangan saya kesini untuk melihat kondisi Mbak Aulia seperti apa. Saya mewakili suami saya mau minta maaf atas kejadian itu. Karena kelalaian suami saya maka Mbak Aulia jadi tertabrak," ucap Bu Wati sambil menangis.
"Sudahlah Bu, nggak apa-apa. Namanya juga musibah tidak bisa ditebak. Siapa juga yang mau celaka, kan. Alhamdulilah saya sudah membaik, tinggal luka di kepala saya nunggu kering. Kalau luka yang lain alhamdulilah tidak begitu parah hanya lecet saja," jelas Aulia..
"Syukur alhamdulilah Mbak, saya senang mendengarnya. Suami saya juga mendingan. Kakinya yang retak juga sudah selesai dioperasi. Oh iya Mbak, ini ada titipan dari suami saya buat Mbak Aulia. Katanya buat menebus obat," ucap Bu Wati sambil memyerahkan amplop coklat kepada Aulia.
__ADS_1
Sontak Aulia kaget dengan sikap Bu Wati tersebut. "Jangan Bu, saya sudah tidak apa-apa. Kita sama-sama kena musibah jadi jangan merasa bersalah begini. Yang penting kita semua selamat. Jadi nggak usah seperti ini."
"Nggak apa-apa Mbak, nanti suami saya marah kalau ini tidak sampai di tangan Mbak Aulia," Bu Wati semakin bingung karena suaminya bilang suruh kasihan Aulia.
"Iya Bu, anak saya sudah nggak apa-apa. Mendingan ini bawa pulang lagi saja. Maaf bukannya kami sombong tidak mau menerima bantuan dari suami Ibu, tapi kita sama-sama kena musibah, Bu. Jadi nggak usah seperti ini," sahut Bu Dewi.
"Gimana ini, saya jadi nggak enak sama keluarga Mbak Aulia."
"Nggak usah merasa nggak enak Bu. Anak saya sudah selamat saja bagi saya sudah anugrah, Bu. Jadi bawa kembali ya,?" ucap Bu Dewi sambil memegang lengan Bu Wati.
"Baiklah kalau begitu, ini saya bawa pulang lagi kalau gitu. Sekali lagi saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepda Mbak Aulia sekeluarga," jawab Bu Wati.
"Iya Bu sama-sama. Saya juga minta maaf kalau dalam berkendara saya kun hati-hati," jawab Aulia.
Akhirnya perempuan itu keluar diantar Pak Bardi. Kini di dalam kamar tinggal mereka bertiga kembali. Bu Dewi hendak membuka bungkusan yang dia bawa dari rumah tadi, tapi dia keburu ingat sesuatu.
"Oh iya Lia, Ibu mau tanya. Saat orang tuanya Bayu jenguk kamu, gimana sikap mereka terhadap kamu setelah mengetahui kalau kamu sudah menikah dengan orang lain,?" tanya Bu Dewi dengan serius.
-------------------------------
Next....
-------------------------------
Next...
__ADS_1