
Bayu terus menangis di depan gundukan tanah itu. Dia menangis sampai matanya sembab. Kepergian Dini dulu sempat membuat dia jadi orang yang nggak ada semangat. Beberapa bulan dia menutup hatinya sampai akhirnya dia bisa menerima kehadiran Aulia disisinya.
Sambil memegang nisan Dini, Bayu menatap tulisan yang tertera dengan nama ANDINI DIANDRA PUTRI. Dia terus menatap sambil matanya terus meneteskan airmata.
Tiba-tiba Bayu tersadar bahwa hari ini dia ada janjian sama Panji temannya. Dilihatnya jarum jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sepertinya dia harus pulang dulu, karena ketemuannya habis maghrib.
(***)
Sekitar habis maghrib, Bayu langsung menuju cafe dimana dia janian dengan Panji. Mobilnya masuk ke pelataran cafe lalu dia menuju tempat dimana Panji sudah menunggu.
Matanya diedarkan ke seluruh sudut cafe untuk mencari Panji yang sudah datang duluan. Dan setelah matanya menangkap sosok Panji, dia langsung menghampiri laki-laki itu.
"Hay bro, apa kabar,?" sapa Bayu sambil meninju pundak Panji.
Seketika Panji menoleh lalu berdiri menyambut kedatangan Bayu dengan merangkulnya. Kini dua sahabat itu saling melepas rindu satu sama lain.
"Ayo., silakan duduk dulu Pak menejer," seru Panji sambil membetulkan letak kursi.
"Kamu ini apa-apan, sih Ji. Biasa aja kali," jawab Bayu sambil mendaratkan tubuhnya di kursi tersebut.
"Oh iya, gimana kabar kamu? Kerasan ya di Semarang,?" tanya Panji membuka obrolan.
"Alhamdulilah Ji, di syukuri saja. Kamu sendiri gimana kabar kamu? Kerjaan makin lancar, kan? Secara sekarang kamu juga menempati posisi yang lumayan di perusahaan kamu," ucap Bayu lagi.
"Aku juga alhamdulilah, Bay. Karirku lancar dan sekarang aku kembali tinggal di Surabaya," jawab Panji.
"Apa aku mulai bertanya sekarang saja soal Dinda. Atau nanti sajalah setelah makan-makan dulu," ucap Bayu dalam hati.
Bayu kemudian memanggil pelayan cafe buat memesankan makanan. Panji kaget karena kok pake acara makan segala. Biasanya mereka kalau ke cafe hanya ngopi saja.
"Bay kenapa kamu pesan makanan? Aku tadi juda sudah makan," ucap Panji.
"Sudahlah, aku kan yang ngajak kesini. Jadi aku yang traktir," sahut Bayu.
__ADS_1
"Bisa aja kamu, tapi makanan ringan saja jangan yang berat-berat," jawab Panji.
"Iya, kamu tenang saja," tukas Bayu meyakinkan.
"Oh iya Bay, aku sampai lupa. Ngomong-ngomong kamu mau bicara apa. Katanya ada yang mau kamu omongin ke aku,?" tanya Panji.
"Kesempatan jika Panji nanya duluan, jadi aku nggak susah-susah buat buka obrolan soal Dinda," batinnya lagi.
"Oh iya, aku mau nanya sesuatu. Tapi, kamu tenang saja. Anggap ini obrolan antar sahabat dan bukan sebagai orang lain," tegas Bayu.
"Oke, aku faham, santai saja. Ada apa,?" Panji semakin penasaran dengan apa yang akan di omongin Bayu sama dirinya.
"Begini, Ji. Aku dulu punya tunangan, dan tunangannya itu punya adik perempuan yang kini sudah di nikahi oleh sepupu aku. Yang aku mau tanyakan sama kamu, apa kamu kenal dengan istri sepupuku itu, yaitu DINDA,?" ucapan Bayu membuat Panji menghentikan aktivitasnya menikmati kopi hangat.
Panji menatap Bayu dengan begitunya. Sedangkan Bayu hanya tersenyum santai membalas tatapan Panji yang sudah mulai tegang.
"Bay, apa kamu sudah tahu yang sebenarnya," tanya Panji kaget.
Bayu menepuk tangan Panji dengan tersenyum. "Kamu jangan sungkan atau takut. Aku sudah tahu semuanya soal kamu sama Dinda," jawab Bayu pelan.
"Bay, kejadian yang menimpa aku dan Dinda waktu itu murni karena ketidak sengajaan. Itu semua ulah teman-teman Rina yang nggak sengaja. Awalnya mereka hanya iseng dan tidak ada unsur sengaja.
Serelah pesta berakhir, tinggalah beberapa teman dekat Rina yang masih tinggal. Rina punya maksud untuk kenalin aku ke Dinda, makanyanya Rina minta Dinda dan aku tetap tinggal.
Kami semua memang minum dan saking banyaknya yang kita minum, maka kita semua mabuk. Rina dan pacarnya sibuk sendiri. Ketika aku melihat Dinda yang sudah mabuk berat dan hampir saja ambruk, dengan setengah sadar aku membawanya ke dalam kamar Dinda.
Akhirnya kami berdua lepas kendali dan terjadilah sesuatu yang tidak bisa kami hindari. Dua insan yang berlainan jenis yang sedang mabuk ada dalam satu kamar maka terjadilah sesuatu, mungkin kamu sudah tahu yang aku maksud," jelas Panji.
"Tapi Dinda bilang katanya dia dijebak, ada seseorang yang sengaja memasukan sesuatu dalam minumannya," tanya Bayu.
"Enggak Bay, ini murni karena kita berdua mabuk hebat. Dan mungkin saja itu alasan Dinda supaya tidak dimarahi orang tuanya," jawab Panji meyakinkan.
"Tapi, kenapa kamu seolah lepas tanggung jawab kalau sudah tahu kalian baru saja melakukan itu. Apa Dinda tidak menuntut kamu untuk bertanggung jawab,?" Bayu mencerca pertanyaan kepada Panji.
__ADS_1
"Saat itu kita sepakat untuk melupakan kejadian itu. Dinda bilang karena dia juga mau di jodohkan oleh orang tuanya. Dan waktu itu aku sendiri tidak bisa lama-lama di Surabaya, jadi aku harus pergi besok paginya," jawab Panji dengan bibir gemetar.
"Ya Tuhan Dinda, kamu kok bisa-bisanya berpikiran seperti itu. Kamu juga Panji, apa saat itu kamu nggak kepikiran seandainya Dinda hamil bagaimana,?" tanya Bayu dengan tegas.
"Maafin aku Bay, saat itu memang aku dilema banget. Besok pagi aku harus tiba di Jakarta karena siang jam dua ada meeting di kantor. Jadi aku juga nggak bisa pikir panjang," jawab Panji lagi.
"Kamu tahu nggak Ji, saat itu akulah orang yang akan di jodohkan dengan Dinda."
"Apa,!" jawab Panji kaget.
"Iya, karena diam-diam dia sudah suka sama aku saat aku pacaran sama kakaknya. Jadi perjodohan itu dibuat untuk masuk kedalam kehidupan aku. Tapi, setelah semuanya terbongkar, aku menolak dan orang tuanya juga menerima keputusan aku. Saat itu ternyata dia sudah dalam keadaan hamil," jelas Bayu.
"Ya ampun Bay, aku jadi nggak enak sama kamu. Beneran aku nggak tahu kalau Dinda hamil anak aku. Kami nggak sempat bertukar nomor telpon. Jadi, aku baru tahu kalau anak itu sudah lahir juga dari Rina," ucap Panji sambil matanya menatap kedepan.
"Sudahlah jangan merasa bersalah, kalian berdualah yang bersalah atas kejadian ini. Dan sekarang apa rencana kamu sama anak yang dilahirkan Dinda,?" ucap Bayu.
"Aku merasa kalau aku harus bertanggung jawab dan menebus kesalahanku, Bay. Tapi, Dinda sekarang sudah menjadi istri orang lain. Jadi, aku nggak bisa berbuat apa-apa," jawab Panji.
"Bukannya kamu ingin menebus kesalahan kamu dengan bwrtanggung jawab pada Dinda dan anakknya,?" tanya Bayu.
"Tadinya seperti itu, tapi setelah aku pikir dia sudah menikah dan suaminya pasti tidak rela kalau aku masuk dalam kehidupan mereka," jawab Panji.
"Iya Ji, sebaiknya jangan sampai ganggu mereka. Dinda dan anaknya sekarang sudah ada yang menanggungnya. Irwan sepupu aku itu sangat mencintai Dinda, makanya meskipun Dinda dalam kondisi hamilpun dia mau menerimanya. Karena Dinda adalah cinta pertama Irwan," jelas Bayu.
"MashaAllah.. aku harus berterima kasih sekali sama sepupu kamu itu. Dia sudah bisa menerima Dinda dan anaknya. Aku nggak bisa berkata-kata apa lagi," ucap Panji dengan mata yang mulai berembun.
"Sudahlah, lupakan saja. Anggap semuanya nggak pernah terjadi seperti kesepakatan kamu sama Dinda. Yang penting kamu sudah tahu yang sebenarnya. Kamu masih punya masa depan, doakan saja supaya anak kamu selalu dalam lindunganNYA," ucap Bayu dengan bijak.
"Iya Bay, aku makasih sekali karena kamu sudah ada buat dengar ceritaku. Sekali lagi makasih, ya Bay,?" jawab Panji sambil menepuk pundak Bayu.
"Panji, aku lakukan ini juga karena demi sepupu aku. Dia gelisah karena takut kalau kamu bakal ambil Zahra dan Dinda darinya," ucap Bayu dalam hati.
--------------------------------
__ADS_1
Next..