
Aulia kaget dengan penuturan Fatih yang seperti itu. Dia nggak bisa berkata apa-apa karena memang belum bisa menjawabnya.
"Gimana, Lia? Aku sudah tidak ada jalan lain lagi. Ayahku memang begitu menginginkan kamu menjadi menantunya, maka dari itu beliau membuat surat wasiat seperti itu," jelas Fatih.
"Mas Fatih, aku mau tanya. Apa Mas Fatih tulus mau membantu anak-anak jalanan itu,?" tanya Aulia.
"Iya Lia, aku tulus," jawabnya singkat.
"Kalau Mas Fatih tulus, kenapa harus ada persyaratan soal pernikahan,?" tanya Aulia balik.
"Kan sudah aku bilang, harta Ayahku yang murni dari kerja keras itu semua ada di bank. Sedangkan yang lainnya adalah hasil dari pekerjaan sebagai rentenir selama ini. Jadi aku nggak mau kalau membantu anak-anak itu pakai uang riba," jelas Fatih.
Aulia semakin bingung dengan semua ini. Dia memang ingin sekali membuatkan tempat yang layak bagi anak-anak jalanan tersebut. Tapi, persyaratannya begitu sulit buat dia terima.
"Tapi, Mas. Aku kan mau menikah dengan Mas Bayu,?" jawab Aulia.
Fatih terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Kalau dipikir memang benar, Aulia mau menikah dengan Bayu. Tapi, dia harus menjalankan amanah Almarhum Ayahnya secepatnya, karena vonis dokter atas penyakitnya itu membuat dia merasa tak punya waktu banyak lagi.
Aulia melihat Fatih yang terdiam dengan matanya berkaca-kaca menjadi kasihan, ada apa sebenarnya sampai membuat seorang Fatih yang dulunya gagah dan agak trempamen, kini menjadi lemah dan melo.
__ADS_1
Fatih kemudian memanggil asistennya tadi untuk mengambilkan berkas yang dari rumah sakit. Tak lama kemudian berkas itu sudah ada di tangan Fatih.
Perlahan dia membuka salah satu kertas yang tak lain adalah diagnosa dokter soal penyakitnya. Lalu diberikannya kertas tersebut pada Aulia.
Aulia menerima kertas itu lalu membacanya. Dengan mata nanar dia terkejut dengan tulisan yang dibacanya kali ini. Perlahan matanya sudah mulai berembun dan meneteslah bulir bening dari matanya.
Kemudian dia menatap Fatih dengan tatapan yang iba dan simpatik. Fatih tersenyum lalu mengangguk pelan seolah mengisyaratkan itulah keadaannya saat ini.
"Maaf Mas Fatih, aku tidak tahu kalau Mas Fatih sakit separah ini. Aku kira dengan dipulangkannya Mas Fatih dari rumah sakit, aku kura sudah membaik. Aku ikut prihatin, ya Mas,?" ucap Aulia pelan.
"Iya Lia, nggak apa-apa. Aku sendiri memang yang minta pulang. Karena buat apa di rumah sakit, toh nantinya aku nggak ada harapan lagi," jawabnya.
"Lia, tadinya aku nggak mau mengurusi soal surat wasiat itu serta pernikahan itu. Aku pikir biarlah, masih ada waktu untuk mencari jalan keluar soal harta Ayahku. Dan nggak harus diurus secepatnya. Tapi, setelah aku mendapat vonis dari rumah sakit, aku takut kalau nantinya aku nggak bisa menjalankan amanah surat wasiat Ayah," jelas Fatih dengan menatap Aulia.
"Tapi Mas Fatih pasti akan sembuh, jangan pesimis, Mas,!" ucap Aulia tegas.
"Aku sudah pasrah Lia, dan menyerahkan semuanya sama Allah," jawab Fatih lagi.
"Mas, misal aku menerima tawaran ini, berarti Mas Fatih tega sama aku."
__ADS_1
"Maksudnya tega, gimana.?"
"Iya, kan Mas Fatih sudah pasrah dengan penyakit yang Mas Fatih derita. Lalu Mas Fatih merasa sudah tidak punya waktu banyak lagi, kalau misal kita memang jadi menikah. Berarti Mas Fatih tega menjadikan aku seorang janda, hiks..hiks.," jawab Aulia sambil menangis.
"Hey, jangan nangis. Tapi, memang itu adanya."
"Aku nggak mau, Mas. Soal anak-anak jalanan, biarlah mereka tetap seperti ini. Suatu saat aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Aku nggak bisa menerima tawaran ini, maaf Mas," ucap Aulia sambil meneteskan air mata.
"Lia, kamu jangan egois. Pikirkan nasib anak-anak itu."
"Aku nggak egois, Mas. Tapi, aku tidak bisa menerima tawaran Mas Fatih. Lagian aku sudah janji sama Mas Bayu akan menikah setelah Mas Bayu pulang dari Semarang," jawab Aulia.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa kamu," ucap Fatih lirih.
Tak lama kemudian ponsel Aulia bergetar. Seketika dia membuka tasnya dan melihat siapa yang mengirim pesan itu.
"Aulia, barusan aku ditelpon atasanku di Semarang. Besok aku disuruh mewakili dia ke suatu acara perusahaan. Jadi, besok pagi aku langsung terbang ke Semarang. Maaf kalau kita belum sempat bicara. Karena tadi sebenarnya ada yang mau aku bicarakan. Berhubung kamu ada urusan lain, jadi aku tunda. Aku janji, setelah urusan kerjaan selesai aku akan pulang untuk membicarakan hubungan kita."
--------------------------------
__ADS_1
Next....