MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 62 (Kegalauan Bayu)


__ADS_3

Bu Sumi semakin bingung dengan cerita Bayu. Kenapa dia memperbolehkan calon istrinya menemui mantannya yang lagi sakit.


"Tapi kenapa Den Bayu mengijinkan Mbak Aulia menemui mantan tunangannya,?" tanya Bu Sumi.


"Itu dia yang saya sesalkan, Bu. Padahal saat itu saya diajak sama Aulia untuk menemui mantan tunangannya itu, berhubung kata asisten mantan tunangannya itu kalau Aulia harus pergi sendirian, saya semakin emosi. Mungkin saat itu kalau dibicarakan baik-baik juga saya bisa ikut," jelas Bayu.


"Sudahlah Den, semuanya sudah terlanjur. Ibu mengerti perasaan Den Bayu saat itu. Dan bisa memaklumi kenapa Den Bayu malah memilih pergi meninggalkan rumah Mbak Aulia," ucap Bu Sumi.


"Iya Bu. Sampai saat ini saya juga belum menghubungi Aulia, demikian juga dengannya belum menghubungi saya."


"Coba Den Bayu hubungi duluan, lupakan gengsi. Kalau Den Bayu cinta sama dia, ayo hubungi sekarang," ucap Bu Sumi sambil memegang lengan Bayu.


"Makasih Bu, disini saya seperti di rumah sendiri. Biasanya saya cerita seperti ini sama Mama," jawab Bayu.


Bu Sumi meninggalkan Bayu yang masih duduk sendiri di ruang tengah. Kini dia melakukan apa yang disarankan Bu Sumi. Dia mengambil ponselnya lalu mencati nomor Aulia.


"***Hallo, assalamualaikum," ucap Bayu.


"Waalaikumsalam.,"


"Kamu dimana ini.?"


"Di tempat kerja. Mas Bayu sudah sampai Semarang.?"


"Iya sudah barusan, kamu sehat, kan.?"


"Iya Mas. Aku baik-baik saja."


"Maafkan aku, ya. Kemarin aku terlalu emosi, karena bagaimanapun aku cemburu Lia."


"Aku juga minta maaf Mas, karena saat itu aku bingung. Mas Fatih sakit parah dan harus ada yang dia bicarakan."


"Memangnya apa yang dia bicarakan sama kamu.?"


"Sebelumnya saya minta maaf, Mas. Aku memang belum sempat memberitahukan hal ini sama Mas Bayu. Aku bingung, karena nantinya Mas Bayu marah sama aku."


"Katakan saja jangan takut, aku tidak akan marah, kok."


"Mas Fatih divonis dokter gagal ginjal dan umurnya sudah tidak akan lama lagi. Hanya kemo yang dijalani Mas Fatih saat ini. Mas Bayu tahu sendiri kan latar pekerjaan Ayahnya Mas Fatih. Lah, sebelum meninggal beliau membuat surat wasiat yang berisikan, kalau harta Pak Broto yang ada di bank itu bisa digunakan jika Mas Fatih menikah denganku," jelas Aulia diujung telpon.


Bayu kaget dan tidak menjawab apa yang Aulia katakan. Dia mendadak lemas, satu sisi dia memang sangat mencintai Aulia. Satu sisi ini menyangkut wasiat orang yang sudah meninggal.

__ADS_1


"Mas Bayu., Mas. Apa Mas Bayu masih disitu. Hallo Mas Bayu.,!" teriak Aulia dari ujung telponnya.


"Oh iya..ya, Lia. Aku masih disini."


"Begitulah ceritanya Mas Bayu. Makanya aku bingung."


"Lalu harta yang di bank itu kok begitu Fatih utamakan, maksudku kok segitunya Fatih memperjuangkan harta itu sedangkan hartanya kan banyak.?"


"Karena harta yang di bank itu adalah harta asli dari kerja keras Pak Broto dulu saat masih punya usaha. Sedangkan harta yang lainnya kan hasil dari pekerjaan jadi rentenir. Kenapa Mas Fatih mendahulukan harta yang di bank, disamping memang dia merasa tidak ada harapan untuk sembuh, dia juga bermaksud menyumbangkan harta tersebut untuk membuatkan tempat tinggal buat anak-anak jalanan yang selama ini aku ajari membaca."


"Ya ampun, sampai segitunya Fatih. Lalu kamu jawab apa?"


"Aku bilang nggak bisa menerima tawaran itu, karena aku sudah terikat orang lain."


"Terima kasih, Lia."


"Ya sudah kalau gitu, aku ada kerjaan Mas. Lain kali kita sambung lagi."


"Oke, Lia. Kamu hati-hati, jaga diri baik-baik. Nanti kalau ada libur aku usahakan pulang."


"Iya Mas, kamu juga jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan."


"Assalamualaikum.,"


Bayu menutup kembali ponselnya, dia kini masih duduk di tempat semula. Tak lama Bu Sumi datang dengan membawakan dia minuman.


"Gimana Den, apa sudah telpon Mbak Aulia,?" tanya Bu Sumi.


"Iya, sudah Bu. Tapi saya belum bilang soal kerjaan saya yang kemungkinan saya akan menetap di Jogja. Nggak enak bicara lewat telpon, nanti kalau libur saja saya usahakan pulang lagi," jelas Bayu sambil meminum teh yang dibawakan Bu Sumi.


"Tapi setelah bicara barusan, apa Den Bayu masih ada perasaan yang mengganjal dengan Mbak Aulia.?"


"Sudah tidak ada lagi, Bu. Semuanya hanya salah faham saja. Kini saya sudah mengerti permasalahan yang sebenarnya. Jadi tidak perlu ada yang di kawatirkan," jawab Bayu.


"Ya sudah, sekarang Den Bayu istirahat saja dulu. Nanti malam kan mau ada acara," tukas Bu Sumi.


"Iya Bu. Makasih banyak, ya Bu. Kalau tidak ada Bu Sumi disini, saya galau sendiri tidak ada yang saya ajak cerita, hehe," ujar Bayu sambil terkekeh.


"Iya Den, semua yang tinggal di mess ini sudah Ibu anggap seperti anak sendiri," ucap Bu Sumi lagi.


"Makasih ya Bu."

__ADS_1


"Sama-sama Den."


Bayu akhirnya masuk ke dalam kamarnya sambil membawa tasnya. Dia kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tidak butuh waktu banyak akhirnya dia tertidur pulas.


(***)


Malam harinya sekitar habis maghrib, Bayu bersiap-siap menghadiri acara tersebut. Dia memakai pakaian formal lengkap dengan stelan jas karena ini acara perusahaan.


Dia berdiri di depan cermin sambil memutar-mutarkan badannya untuk mengecek apa masih ada yang perlu di rapikan. Dalam hatinya dia berucap kalau dia sebenarnya tidak jelek-jelek amat.


Sambil tersenyum sendiri dia memandangi dirinya dari balik cermin. Laki-laki ganteng dengan kulit sawo matang itu kini keluar dari kamarnya dan menuju ruang tengah.


"Den Bayu ganteng sekali, sudah pantas duduk di pelaminan," ledek Bu Sumi.


"Aah Bu Sumi bisa saja. Buktinya sampai sekarang saya belum menikah juga," jawab Bayu sambil meringis.


"Ibu doakan habis ini pasti Den Bayu segera menikah."


"Amin," ucap Bayu sambil menakupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya.


"Oh iya, diluar sudah dijemput sama sopir kantor. Ibu sampai lupa bilang sama Den Bayu. Gara-gara Den Bayu kelihatan keren gini sih, Ibu jadi terpesona, hehe," ucap Bu Sumi.


"Oh iya makasih, ya Bu. Kalau gitu saya berangkat dulu," ucap Bayu sembari mencium tangan wanita paruh baya itu.


"Hati-hati, Den."


"Iya Bu."


Kemudian Bayu melangkah keluar untuk menuju mobil kantor yang sudah menjemputnya. Dia kemudian masuk kedalam mobil tersebut.


"Maaf Pak Bayu, habis ini kita jemput Bu Windy juga, ya. Tadi maunya saya jemput dia dulu, tapi mobil saya dari timur jadi ke mess aja dulu," ucap Pak Sopir.


"Oh iya-iya Pak."


Pak sopir kemudian menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya pelan-pelan menuju rumah Bu Windy. Berhubung jarak rumah dan mess hanya selisih beberapa rumah saja, akhirnya nggak sampai lima menit sudah sampai.


Terlihat Bu Windy sudah menunggu di teras rumahnya, dan Pak Sopir hanya membunyikan klakson mobil saja. Seketika Bu Windy langsung menoleh keluar dan berjalan mendekati mobil.


Tapi disaat dia mau membuka pintu mobil, tiba-tiba dari belakang mobil ada seseorang yang memanggil Bu Windy dengan keras.


"Windy tunggu.,!!"

__ADS_1


------------------------------


Next...


__ADS_2