MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 94 (Ternyata..)


__ADS_3

Siang ini tepatnya di salah satu Mall di Surabaya, Bayu dan Gani sudah hampir tiga jam putar-putar mencari sesuatu yang mereka butuhkan.


Gani sudah mendapat sepatu futsal buat di sekolahnya. Kini tinggal Bayu yang mau membeli sniker karena punya dia sudah mulai jelek.


"Kak laper," seru Gani.


"Oke, kita cari makan dulu. Kamu mau makan apa,?" tanya Bayu antusias.


"Aku pingin nasi goreng gila yang di dekat arena bermain itu lho, yang dulu kita pernah kesana," ucap Gani meyakinkan.


"Oh yang itu. Okelah kalau begitu, kita kesana," ajak Bayu.


Keduanya berjalan menuju pujasera yamg letaknya di lantai paling atas. Sekitar sepuluh menit kemudian mereka sampai juga di lantai atas.


Bayu langsung memesan dua porsi nasi goreng tersebut kemudian merwka menunggu di salah salah satu meja. Bayu memilih meja di sebelah kanan pojok.


"Kak, di Semarang enak nggak? Apa seperti di Surabaya juga,?" tanya Gani.


"Iya sama aja, Gan. Cuma di Surabaya lebih ramai penduduknya."


"Kapan-kapan aku boleh ikut kesana nggak, Kak.?"


"Boleh saja kalau pas kamu libur. Kemarin pas Papa sama Mama kesana kenapa kamu nggak ikut,?" tanya Bayu.


"Oh saat itu Gani pas turnamen, jadi tidak bisa meninggalkan futsal," jawab Gani.


"Kamu senang sekali sama futsal,?" tanya Bayu sambil membuka ponselnya.


"Iya Kak, Gani senang banget," jawabnya antusias.


"Belajar dan latihan yang rajin. Supaya semua cita-cita kamu tercapai. Nanti kalalu sukses kan kamu sendiri yang merasakannya," ucap Bayu menyemangati.


"Amin., iya Kak. Gani pasti rajin belajar dan semangat latihan supaya bisa sukses," jawab Gani sumringah.


"Sebentar Gan, itu di sebelah meja kita kayaknya Kakak pernah lihat," ucap Bayu lirih.


"Siapa Kak," Gani balik bertanya.


"Oh iya Kakak ingat, bukankah dia perempuan yang menabrak Kakak saat di ATM kemarin. Dia sama siapa kok banyak wanita yang dandanannya seksi-seksi gitu," ucap Bayu sambil matanya tak lepas dari gerombolan wanita tersebut.


Suaranya sangat keras sekali saat mereka berbicara. Sampai kedengaran di meja dimana Bayu dan Gani berada. Bayu sampai geleng-gelemg melihat sekelompok perempuan yang sepertinya nggak ada kegiatan itu.

__ADS_1


"Eh kalian tahu nggak, aku berhasil memoroti jandanya Mas Fatih yang polos itu. Masa dia kasih aku uang seratus juta buat bayar cicilan rumah yang sekarang aku tempati. Padahal kan rumah itu belinya cash, hahaha," ucapnya kegirangan.


Degh,!


Bayu kaget setelah mendengar apa ya g diucapkan perempuan yang menabraknya kemarin. Ternyata benar dugaan dia sebelumnya. Pasti perempuan itu sengaja memeras Aulia.


"Kak, kenapa? Kok muka Kak Bayu tegang gitu,?" tanya Gani penasaran.


"Kamu dengar apa yang dikatakan perempuan itu,?" tanya Bayu.


"Iya Kak, Gani dengar semuanya."


"Kemarin itu Kakak nggak sengaja menemukan cek yang jatuh dari tasnya perempuan itu. Dan ada nama Kak Aulia di cek tersebut. Makanya Kakak dari kemarin kepikiran ada hubungan apa Kak Aulia dengan perempuan itu," jelas Bayu.


Sedangkan di meja sebelah masih jelas terdengar obrolan mereka. Sonya dengan kerasnya berbicara mengenai kelicikannya mengelabui Aulia.


"Son, apa kamu nggak takut ketahuan Aulia kalau kamu sebenarnya bohongin dia,?" tanya salah satu temannya.


"Nggak peduli dengan Aulia. Yang penting sekarang aku bisa bersenang-senang dengan uang ini. Masih belum aku cairkan sih, karena tabunganku masih ada," jawab Sonya santai.


"Dasar kamu ya, tetap aja matre. Dulu ketika masih menjadi istrinya Fatih kamu juga gitu, uang aja yang ada dalam pikiran kamu," jawab temannya lagi.


"Hari gini nggak punya uang itu susah. Mau apa-apa nggak bisa. Sedangkan aku nggak mau hidupku berantakan. Nggak shopping, nggak perawatan, aduuuh.. capek dech.,!" sahutnya dengan gayanya yang sok.


Dalam hatinya sebenarnya pingin membantu, tapi sekarang dia nggak berhak ikut campur dengan semua urusan kehiduapn Aulia. Dan sekarang dia sudah nggak penasaran lagi karena sudah tahu maksud perempuan itu.


Pesanan nasi gorengnya pun sudah datang dan kini Bayu dan Gani melanjutkan makannya. Sesekali Bayu melitik kearah perempuan itu dan ternyata masih seperti tadi, bicara sana sini kayak jualan jamu.


Triiing...! bunyi notifikasi ponselnya Bayu. Seketika Bayu membuka dan ternyata dari Irwan sepupunya itu.


"Bay, aku sekarang di rumahku sendiri. Katanya kamu sekarang di Surabaya. Jangan lupa mampir ya. Mau ada yang aku omongin,"


Bayu lupa nggak ngabari Irwan kalau dia di Surabaya. Padahal dia juga ada yang mau di sampaikan ke Irwan soal kerjaan.


"Siap, Ir. Habis ini aku langsung meluncur. Aku lagi antar Gani beli sepatu,"


Bayu menutup ponselnya lalu melanjutkan makannya. Dilihatnya ternyata Gani sudah selesai makan. Buru-buru dia selesaikan makannya lalu pulang.


.


.

__ADS_1


.


Bayu memarkirkan mobilnya di halaman rumah Irwan. Lalu Gani ijin langsung pulang dengan jalan kaki karena jarak rumahnya nggak jauh.


"Hay Bay, apa kabar. Gimana kabar kamu Pak menejer," goda Irwan sambil memeluk sepupunya itu.


"Kamu itu bisa saja. Aku baik kok. Lah, kamu sendiri gimana,?" tanya Bayu balik.


"Aku juga baik. Oh iya, makasih ya. Kado yang dari kamu sudah aku terima. Waktu itu Tante Santy dan Om Ridwan jenguk Zahra ke rumah lalu sekalian kado dari kamu. Tapi, sekarang keadaan rumah tanggaku sedikit ada masalah," jawab Irwan dengan muka cemberut.


"Iya sama-sama, jadi nama anak kamu Zahra,?" tanya Bayu.


"Lebih tepatnya anaknya Dinda dengan laki-laki nggak tanggung jawab itu," jawab Irwan ketus.


"Ssstt, kamu kok bicaranya seperti itu? Kamu kan sudah janji tidak akan mengungkit masa lalunya Dinda dan mencintainya demgan tulus. Tapi, kenapa sekarang kamu sinis begini," tanya Bayu heran.


"Aku kurang sabar apa Bay, aku bisa menerima dia apa adanya lantaran memang dia cinta pertama aku. Tapi, sikap dia ke aku dari pertama menikah sampai anaknya lahir nggak pernah berubah. Aku hanya dianggap sebagai pelengkap saja. Kalau butuh apa-apa dia panggil aku. Tapi kalau sudah lupa, dia seperti perempuan yang tak bersuami," jelas Irwan.


"Maksudnya gimana, Ir.?"


"Semasa kehamilannya dia sering main, pulang kerja nggak langsung pulang, lalu saat cuti hamil juga gitu, kalau nggak keluar main sama teman-temannya, dia selalu belanja online. Sampai apa saja dia beli. Katanya kalau ditegur dia bilang, bosan di rumah terus. Keluar juga nggak bisa karena hamil tua, ya sudah belanjanya lewat online," jelas Irwan.


"Kamu yang sabar, ya. Inilah resikonya kalau kamu yang mencintai, jadi harus siap seperti ini. Dia memang nggak cinta sama kamu, dia menerima kamu lantaran dia butuh," jawab Bayu.


"Lalu ada kabar yang sempat bikin aku syok," ucap Irwan.


"Apa itu.?"


"Aku sempat mendengar pembicaraannya lewat telpon dengan temannya, katanya laki-laki yang menghamilinya dulu mau bertanggung jawab dan menemui Zahra dan Dinda."


"Kok bisa gitu, jangan boleh. Karena sekarang kamu yang lebih berhak atas mereka," jawab Bayu ikut emosi.


"Katanya dulu laki-laki itu memang nggak tahu kalau Dinda sampai hamil. Lalu setelah dia pindah ke Surabaya dan tahu kalau Dinda hamil anaknya, dia berniat menebus kesalahannya dengan bertanggung jawab itu tadi," ucap Irwan dengan wajah yang sendu.


"Kamu tahu siapa laki-laki itu,?" tanya Irwan.


"Aku nggak kenal dia. Cuma yang aku dengar dari temannya Dinda kalau laki-laki itu kerja di salah satu perusahaan swasta yang terkenal, posisinya juga lumayan. Dia juga sempat ke kantor kita yang di Surabaya untuk mengadakan kerja sama dengan perusahaan kita," jelas Irwan sambil membetulkan letak duduknya.


"Oh iya. Kamu tahu nama laki-laki itu.?"


"Namanya PANJI !"

__ADS_1


---------------------------------


Next....


__ADS_2