
Setelah Aulia tertidur, Bayu mencoba menelpon dokter kenalannya. Dokter tersebut kebetulan dokter specialis kandungan yang pernah memeriksa Dinda dulu. Dia ingat saat Irwan memintanya untuk memanggil dokter kandungan dia menelpon dokter Galuh.
"Hallo selamat sore, ini Bayu sepupu Bu Dinda yang dulu pernah dokter tangani, apa dokter bisa datang ke rumah saya,?"
"........."
"Iya dok, benar. Iya-iya rumah saya bersebalahan dengan rumah Pak Irwan selisih dua rumah saja."
"....."
"Baik dok. Saya tunggu di rumah."
Akhirnya Bayu menutup telponnya kembali. Kini dia keluar dan duduk di ruang tengah. Sambil duduk pikirannya menerawang kemana-mana. Alangkah bahagianya jika benar Aulia hamil dan sebentar lagi dia bakal jadi Ayah.
Hampir setengah jam Bayu duduk dan tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Seketika Bayu melangkah keluar dan membuka pintu rumahnya.
"Selamat sore Pak Bayu," sapa seseorang dari balik pintu.
"Dokter Galuh.,!?" jawab Bayu.
"Iya Pak."
"Silakan masuk dok. Istri saya ada di kamar. Silakan langsung ke dalam saja," ucap Bayu antusias.
Kemudian mereka berdua masuk dan naik ke kamar Bayu yang kebetulan berada di atas. Setibanya di deoan kamarnya Bayu langsung membuka pintu dan ternyata mendapati istrinya sudah terbangun.
"Sayang kamu sudah bangun,?" ucap Bayu.
"Iya Mas, tapi itu siapa Mas,?" jawab Aulia seraya melirik dokter Galuh yang berada di sebelah Bayu.
"Saya dokter Galuh Bu, kebetulan Pak Bayu menelpon saya," jawab dokter Galuh dengan sopan.
"Oh iya."
"Sebaiknya sekarang saya periksa dulu, ya Bu,?" ucap doktwr Galuh seraya meletakan tas kerjanya di atas meja.
"Tapi Mas, aku kan nggak apa-apa. Kenapa kamu pakai panggil dokter segala" bisik Aulia pada suaminya.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, aku ingin kamu bisa ditangani dan kenapa penyebab pusing dan mual kamu," jawab Bayu.
"Iya Bu Aulia, sebaiknya saya periksa dulu, ya? Biar nanti kedepannya bisa jelas apa penyakitnya," sahut dokter Galuh santai.
Aulia melirik kearah suaminya dan Bayu mengangguk pelan serta melempar senyuman yang manis. Dan akirmya Aulia bersedia di periksa oleh dokter Galuh.
Sambil menunggu istrinya yang sedang di periksa dokter, Bayu menyempatkan kirim pesan sama Papa dan Mamanya kalau dirinya sudah berada di rumah.
Sekitar kurang lebih dua puluh menit kemudian akhirnya dokter Galuh selesai juga memeriksa Aulia. Dokter Galuh menaruh semua peralatannya ke dalam tas kerjanya lalu menoleh kearah Bayu dan Aulia secara bergantian sambil tersenyum.
"Gimana keadaan istri saya, dok,?" tanya Bayu cemas.
Dokter Galuh perlahan medekati Bayu lalu dia menoleh lagi kearah Aulia yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Pak Bayu, sebaiknya setelah ini kamar Pak Bayu dan Bu Aulia pindah di bawah saja," jawab dokter Galuh santai.
Bayu masih belum mengerti dengan ucapan dokter Galuh. Dia hanya terdiam kemudian dia mendekati istrinya dan duduk di tepi pembatingan dimana istrinya masih terbaring.
Dokter Galuh kembali tersenyum dan perlahan dia juga ikut duduk di tepi pembaringan sambil memegang bhian kakinya Aulia.
"Bu Aulia, selamat ya sebentar lagi Ibu akan menjadi seorang Ibu. Dan Pak Bayu juga akan menjadi seorang Ayah," kalimat dokter Galuh bagaikan air yang jatuh di tengahnya terik matahari.
"Iya dok. Apa benar saya hamil,?" sahut Aulia sembari dia bangun dari terbaringnya.
"Iya Bu, Pak. Bu Aulia hamil, dan usia kandungannya kini baru berudia tiga minggu. Memang masih kecil sekali karena itu nanti akan saya kasih vitamin buat menguatkan kandungan," jelas dokter Galuh.
"Alhamdulilah, aku sudah menduga sayang. Saat kamu mengeluh pusing dan mual, makanya aku langsung hubungi dokter Galuh buat periksa kamu. Kalau begini kan aku lebih yakin dan pasti kalau kamu benar-benar hamil," jawab Bayu.
"Oh jadi kamu sebelumnya sudah menduga, lalu kamu tahu dokter Galuh dari mana,?" tanya Balik Aulia.
"Dokter Galuh ini dulu juga pernah menangani Dinda istri Irwan. Aku dilu juga pernah ikut diajak Irwan menjemput dokter Galuh, dan kebetulan ponsel yang dibuat hubungi dokter Galuh dulu pakai ponsel aku karena Irwan lupa menaruh ponselnya dimana, maklum dia panik saat Dinda kesakitan," jelas Bayu.
"Oh jadi gitu ceritanya. Makasih ya Mas karena kamu langsung tanggap akan hal ini," jawab Aulia sembari memegang tangan suaminya.
"Iya sayang sama-sama, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab aku sebagi suami kamu," jawab Bayu.
"Oh iya ini resepnya untuk Bu Aulia. Silakan di tebus di apotik segera, ya Pak. Karena biar Bu Aulia langsung meminumnya. Dan pesan saya buat Ibu supaya tidak terlalu capek-capek dan banyak beristirahat, makan makanan yang bergizi serta buah-buahan," jelas dokter Galuh dengan seksama.
__ADS_1
"Iya dok, makasih ya,?" jawab Aulia.
"Iya sama-sama," jawab dokter Galuh.
"Dokter, semisal istri saya ini saya bawa ke Semarang gitu nggak apa-apa, kan? Soalnya biar saya bisa mengawasinya," tanya Bayu.
"Ya nggak apa- apa, tapi tetap saja disana Bu Aulia harus ada yang menjaganya selama Pak Bayu ke kantor," jawab dokter Galuh.
"Mas, aku disini saja nggak apa-apa. Nanti aku bisa minta tolong Ibu buat sekali-kali menengok kesini," jawab Aulia.
"Tidak sayang, teyap saja aku nggak tenang."
"Sebenarnya memang benar apa yang Bu Aulia bilang, sebaiknya Ibu disini saja Pak. Kalau disana mungkin bisa saja Pak Bayu menyewa orang buat jagain Bu Aulia, tapi mungkin lebih nyaman dengan Ibunya sendiri," sahut dokter Galuh.
"Baiklah dok, makasih atas sarannya. Biar nanti saya rundingkan dulu sama kedua orang tua saya," ucap Bayu.
"Baiklah kalau begitu Pak, Bu. Saya permisi dulu. Sekali lagi selamat atas kehamilan Bu Aulia," ucap dokter Galuh.
"Iya dok. Mari saya antar ke depan," jawab Bayu.
Dokter Galuh melangkah meninggalkan kamar Aulia diikuti oleh Bayu. Sekitar lima menit kemudian Bayu kembali ke kamar Aulia dengan wajah yang sumringah.
"Sayang, mulai sekarang kamu jangan capek-capek dan kamu nggak boleh banyak aktivitas dulu. Soal showroom kamu nggak usah lagi ikut urus nggak apa-apa, yang penting sekarang kamu fokus sama kehamilan kamu saja," ucap Bayu sambil memegang tangan istrinya.
"Iya Mas, aku ngerti soal itu. Tapi kalau hanya mengerjakan pekerjaan rumah nggak apa-apa, kan,?" jawab Aulia.
"Iya nggak apa-apa, tapi tetap saja nggak boleh terforsir. Nanti biar pembantu yang dulu dipanggil lagi sama Mama," jawab Bayu meyakinkan.
"Sudahlah Mas, tenang. Jangan sepanik ini."
"Aku bukannya panik sayang, aku hanya lebih berhati-hati supaya kandungan kamu nggak kenapa-napa," jawab Bayu.
"Iya Mas, makasih atas perhatiannya. Tapi jangan sampai berlebihan juga, karena hal seperti itu tidak baik. Kita serahkan semua sama Allah supaya aku dan janinku nggak kenapa-napa," jawab Aulia pelan.
"Iya juga sayang, tapi maklumilah ini kan kehamilan pertama kamu dan anak pertama kita, jadi aku lebih ekstra menjaga kalian," jawab Bayu seraya mengelus perut Aulia.
"Ya Allah, makasih atas karunia yang Engkau berikan kepada kami. Mudah-mudahan tanggung jawab ini akan kami laksanakan dengan baik," ucap Bayu dalam hati.
__ADS_1
-------------------------------
Next....