
"Kamu ngapain disin.!"
Bayu kaget karena setelah membuka pintu rumahnya malah mendapati Dinda yang muncul, bukannya Aulia.
"Eh Mas Bayu, baru pulang, Mas,!" ucap Dinda.
"Aulia mana? Aulia., Lia.,!" panggilnya tanpa menghiraukan sapaan Dinda.
Bayu terus masuk ke dalam mencari Aulia. Sedangkan Dinda hanya diam dan masih berdiri di tempatnya, sedangkan Bayu masuk ke dalam.
"Ada apa, Bay,?" tanya Mamanya saat keluar kamar.
"Aulia mana, Ma,?" tanya Bayu.
"Tadi dia sama Dinda, mungkin di kamar."
Bayu menuju kamar tamu, dan mengetuk pintunya. Dia menunggu sampai kurang lebih lima menit, dan akhirnya Bu Santy dan Bayu membuka pintunya. Ternyata Aulia ketiduran.
"Ma, dia mungkin kecapekan," ucap Bayu.
"Ya sudah biarkan saja. Kasihan dia, Bay," jawab Bu Santy.
Kemudian mereka berdua melangkah keluar kamar dan menuju ruang tengah. Disitu sudah ada Dinda yang sedang duduk.
"Din, kamu ada perlu apa,?" tanya Bayu sambil duduk di kursi.
"Aku menunggu Mas Irwan," jawabnya.
"Irwan sudah pulang, kok,!" jawab Bayu.
"Dinda, kalau Tante rasa mendingan kamu menemui Irwan dulu dirumahnya, nggak enak sama Irwan jika kamu masih di sini," sahut Bu Santy.
"Biar saja Dinda tunggu di sini saja, Tante. Nanti pasti Mas Irwan nyusul ke sini," jawab Dinda santai.
"Kamu ini aneh ya, Din. Seharusnya kamu kan bisa belajar melayani calon suami kamu. Dia kan capek-capek kerja, yang nantinya juga buat kamu dan anak kamu," jawab Bayu.
"Kenapa sih Mas Bayu kekeh banget Dinda menemui Mas Irwan, kan barusan Dinda sudah bilang kalau mau nunggu di sini saja. Apa Mas Bayu nggak suka kalau Dinda menunggu di sini,?" ucap Dinda dengan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
Bayu jadi kasihan dan nggak enak saat dia melihat Dinda yang mau menangis, akhirnya dia menurunkan suaranya. Bu Santy lantas pamit kembali ke kamarnya.
"Maaf kalau aku sedikit emosi. Itu karena kamu yang keras kepala. Terserah kalau kamu mau menunggu di sini, tapi aku tidak bisa menemani karena aku capek, mau ke kamar dulu,!" ucap Bayu sambil berdiri dan menuju atas ke kamarnya.
"Tunggu Mas Bayu,!" teriaknya.
__ADS_1
Seketika Bayu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dinda. "Ada apa.?"
"Baiklah aku akan pergi dari sini, maafkan aku jika telah mengganggu kamu."
"Silakan Din, aku juga minta maaf karena sedikit emosi tadi."
Dinda mengangguk lalu melangkah pergi keluar rumah Bayu. Sedangkan Bayu mengantarkannya sampai depan. Setelah itu dia kembali menutup pintunya saat Dinda sudah nggak terlihat.
(***)
Setelah beberapa hari kedepan, hubungan Bayu dan Aulia sudah mulai membaik dan semakin dekat. Seperti hari ini Bayu mengajak Aulia keluar untuk sekedar menghabiskan waktu hari minggu.
"Mas, sebenarnya kita mau kemana, sih,?" tanya Aulia.
"Ya jalan-jalan aja, Lia. Aku kan juga pingin keluar berdua saja sama kamu," jawabnya sambil pegang kemudi.
"Oh iya, yang Mas Bayu bilang soal toko sepatu yang Mas Bayu buka itu jadinya seperti apa,?" tanya Aulia.
"Aku sudah pekerjakan orang untuk menjaganya. Counternya ada di salah satu Mall di Surabaya kota. Kamu mau lihat ke sana,?" tanya Bayu.
"Terserah Mas Bayu saja."
"Baiklah kita ke sana."
Bayu mengemudiakn mobilnya menuju Maal yang di maksud. Aulia masih duduk di samping Bayu yang lagi menyetir. Sesekali dia melirik kearah Aulia.
Bayu berjalan sambil menggandeng tangan Aulia. Kemudian ampailah mereka di counter sepatu milik Bayu. Aulia takjub dengan outlet tersebut yang menjual beberapa macam sepatu dan sandal.
"Ris, gimana penjualan hari ini,?" tanya Bayu pada karyawannya.
"Masih tiga pcs, Pak. Mungkin pengunjung juga belum ramai," jawab Riris.
"Oh iya nggak apa-apa, namanya jualan itu pasti ada naik turunnya, apalagi Mall seperti ini. Jika pengunjung Mall ramai, pasti outlet kita kena imbasnya ikut ramai meskipun sebagian besar hanya melihat-lihat dan jalan-jalan saja," jelas Bayu.
"Iya Pak. Biasanya kalau minggu itu sekitar jam sepuluh keatas baru ramai pengunjung, apalagi mendekati jam satu itu pasti ramai, " jawab Riris lagi.
"Oh iya Ris, kenalkan ini Aulia calon istri saya. Semisal nanti Aulia yang kesini untuk mengecek rutin nggak apa-apa sama saja," ucap Bayu.
"Oh iya, saya Riris."
"Saya Aulia," jawab Aulia sambil menyambut uluran tangan Riris.
"Ya sudah Ris, saya tinggal ke dalam dulu ya," ucap Bayu.
__ADS_1
"Iya, Pak."
Kini Bayu mengajak Aulia ke sebuah tempat makan yang ada di Mall tersebut. Sambil menunggu pesanan yang sudah di pesan, tiba-tiba ada yang menyapa Bayu.
"Bayu,!" panggil seorang laki-laki.
"Maaf, siapa ya? Saya kok lupa," jawab Bayu.
"Bay, aku Panji anak ekonomi angkatan kamu dulu,!" ucap Panji.
Bayu mencoba mengingat-ingat, sekitar kurang dari lima menit akhirnya dia baru ingat siapa Panji sebenarnya.
"Panji santoso, anak ekonomi yang dulu pernah jatuh waktu ada pelatihan di puncak trawas,!" jawab Bayu.
"Betul, kamu masih ingat Bay. Gimana kabar kamu sekarang? Aku dengar kamu sudah menikah sama Dini, Spg event yang paling cantik di kantormu,?" pertanyaan Panji sedikit mengganggu telinga Aulia.
Bayu kemudian melirik kearah Aulia yang sedang menundukan wajahnya. Kemudian dia tersenyum kearah Panji.
"Ji, aku nggak jadi nikah sama Dini," jawab Bayu pelan.
"Loh, kenapa Bay,?" tanya Panji heran.
"Dini sudah meninggal, Ji. Jadi pernikahanku dengan dia batal," jawab Bayu lirih.
"Ya ampun, Bay. Aku nggak dengar sama sekali. Terakhir aku dengar kabar kamu itu katanya sudah tunangan dengan Dini dan sebentar lagi melangsungkan pernikahan. Aku pikir kalian sudah menikah dan ini saudaranya Dini," jawab Panji sambil menoleh kearah Aulia.
"Dia meninggal saat kecelakaan."
"Maaf ya Bay, aku nggak tahu dan nggak bermaksud mengingatkan kamu."
"Nggak apa-apa, Ji. Oh iya dan ini Aulia, calon istriku," ucap Bayu sambil menoleh kearah Aulia.
"Oh jadi ini gantinya Dini, boleh juga Bay. Tapi, yang ini sepertinya akan membawa kamu ke jalan yang benar, hahaha," ucap Panji sambil tertawa lebar.
"Sssstt, ngawur kamu. Emang aku pikir aku ini orang yang nggak bener, apa,!" sahut Bayu sambil menonjok lengan temannya itu.
"Paling tidak kamu kan bisa mencontoh yang baik-baik dari dia, Betul kan, Mbak Aulia,?" ucap Panji sambil menoleh ke Aulia.
Aulia hanya tersenyum saja menyikapi ucapannya Panji. Baginya yang penting selama ini sikap dan perilaku Bayu sangat baik dan sholeh.
Aulia merasa kehadirannya memang belum bisa menggantikan sosok Dini bagi Bayu. Memang dia juga nggak ingin kalau kehadirannya hanya dianggap sebagai pelarian. Dia hanya merasa kalau cinta Bayu pada Dini memang kuat.
"Kamu ini ada-ada saja, Ji. Dini ya Dini. Sedangkan Aulia ya Aulia. Dia wanita sederhana yang menurutku bagai berlian yang mewah. Aku beruntung bertemu dengannya," jawab Bayu sambil melirik Aulia.
__ADS_1
------------------------------
Next...