
Akhirnya Bayu sampai juga di mess nya lagi. Setelah Bu Sumi membukakan pintu dia langsung masuk kamarnya. Mungkin karena kelelahan tak terasa dia ketiduran sampai sore.
"Bu Sumi masak apa,?" tanya v yang sudah di belakang Bu Sumi.
"Eh Den Bayu sudah bangun. Ini Ibu lagi masak pepes tongkol sama sayur asem," jawab Bu Sumi.
"Hmmm, itu kesukaan saya banget, Bu. Mama saya sering buatin gituan buat saya," sahut Bayu dengan mata berbinar.
"Iya sebentar lagi sudah selesai kok."
"Oh iya Bu, Bu Sumi kan asli Semarang. Tahu alamat ini, nggak,?" tanya Bayu sambil menunjukkan kartu identitas nya Bu Retno pada Bu Sumi.
Bu Sumi memperhatikan benda pipih segi empat kecil itu dengan seksama. Kemudian setelah dia membaca sampai selesai, kembali dia memberikan bemda tersebut.
"Ibu tahu sih, Den. Cuma Ibu nggak kenal sama orangnya ini," jawab Bu Sumi.
"Nggak apa-apa Bu, yang penting saya di kasih tahu tepatnya di mana."
"Sebenarnya nggak jauh dari sini. Ya sekitaran satu jam an lah."
"Sejam? Berarti nggak jauh ya Bu. Saya berniat mengembalikan ini sama pemiliknya. Kasihan, pasti Ibu ini mencarinya."
"Rencananya Den Bayu kapan mengantar ini sama pemiliknya.?"
"Bisanya ya hari sabtu atau minggu pas saya ibur."
"Lusa kan hari sabtu, itu saja kita antar kesana," ujar Bu Sumi.
"Kita,? Bu Sumi mau ikut antar ini,?" tanya Bayu kaget.
"Iya, apa nggak boleh kalau saya ikut. Kan yang tahu alamat ini saya, Den Bayu bukan orang sini," jawab Bu Sumi.
"Iya juga sih, Bu. Tapi, saya nggak enak sama Ibu, masa ikut anterin ini."
"Terus Den Bayu mau antar sama siapa,?" tanya Bu Sumi.
"Bayu juga bingung, Bu. Saya juga nggak tahu mau pergi sama siapa, hehe," jawab Bayu sambil terkekeh.
"Iya kalau dulu ada Den Farhan bisa menemani Den Bayu. Berhubung dia sudah kembali karena pelatihannya sudah selesai, jadi nggak ada temannya," ucap Bu Sumi.
"Gampanglah Bu, itu dipikir nanti," ucap Bayu sambil menuju meja makan.
__ADS_1
Mereka akhirnya makan berdua. Bu Sumi dengan telaten melayani Bayu dengan baik. Bayu juga begitu sangat perhatian sama wanita paruh baya itu. Sejak dia tinggal di mess, Bayu jadi deket sama Bu Sumi dan menganggap dia seperti Mamanya sendiri.
(***)
"Pak Bayu, apa Anda sudah makan siang,?" tanya Windy saat di ruangan Bayu.
"Eh Bu Windy, belum Bu. Ada apa, ya?" jawab Bayu.
"Kita makan siang di luar, yuk. Bosen nih makan makanan kantin mulu," ucap Windy dengan senyumnya yang khas.
Sesaat Bayu teringat tadi malam saat dia tiba-tiba melihat wajah Dini melintas di hadapannya dengan senyumnya yang sama persis dengan senyuman Windy barusan.
Mata Bayu masih menatap wajah cantik di hadapannya kali ini. Dia nggak habis pikir kenapa Windy persis dengan Dini, jadi Bayu terkenang lagi akan Dini.
Windy yang merasa nggak enak saat Bayu menatapnya dengan lekat, di buru-buru mengalihkan pandangannya kearah lain. Sedangkan Bayu masih dalam posisinya seperti sebelumnya.
Windy semakin heran dengan sikap Bayu yang demikian, begitu persiskah wajahnya seperti wajah mantan tunangan Bayu yang pernah diceritakan kepadanya saat itu.
"Pak..Pak Bayu,!" seru Windy.
"Eh, i..yaa Bu. Tadi Bu Windy bilang apa,?" tanya Bayu dengan mimik muka yang tanpa dosa.
"Iya saya belum makan. Ayo kalau gitu, saya mau. Dimana,?" tanya Bayu.
"Gimana kalau ke soto daging dekat kantor pos. Pak Bayu pernah nggak makan disitu. Rasanya mantap banget Pak," seloroh Windy dengan semangat.
"Iya boleh juga, saya belum pernah makan disitu."
"Oke, kita berangkat sekarang."
Keduanya lalu keluar ruangan. Windy lalu mengambil kunci mobilnya dan menyerahkannya sama Bayu.
"Pak Bayu yang nyetir, ya.?"
"Tapi saya nggak hapal jalan."
"Nanti kan saya yang kasih tahu," jawab Windy.
Bayu mengangguk kemudian seulas senyum keluar dari bibirnya. Keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman kantor.
Sekitar lima belas menit akhirnya mereka sampai di rumah makan itu. Setelah Bayu memarkirkan mobil, lalu dia menyusul Windy masuk ke dalam rumah makan tersebut.
__ADS_1
"Pak Samad, saya soto dua makan sini, ya Pak,?" seru Windy.
"Siap Mbak Windy," jawabnya.
"Bu Windy sudah sering kesini, ya?" tanya Bayu.
"Iya saya sering kesini sama teman-teman," jawabnya.
"Oh iya, apa Bu Windy ngerti alamat ini," tanya Bayu sambil menunjukkan kartu identitas tadi.
"Kalau tahu persis sih, nggak. Cuma pernah dengar saja," jawabnya.
"Kata Bu Sumi satu jam dari sini. Bu Sumi tahu alamat ini," jawab Bayu.
"Saya memang nggak asli sini, tapi saya sudah lama di Semarang."
"Aslinya Bu Windy mana.?"
"Saya asli Solo. Tapi, abah saya dulunya pernah tinggal di Surabaya, cuma sejak Ibu saya meninggal, beliau pindah ke Solo ke kota kelahirannya," jawab Windy.
"Tunggu sebentar, tadi Bu Windy bilang kalau asli Solo. Tapi Ayah Bu Windy pernah tinggal di Surabaya. Berarti lahirnya Bu Windy di Surabaya dong," tanya Bayu bingung.
"Hehe iya, kata Abah setelah saya lahir langsung di bawah ke Solo diasuh oleh Nenek dan Ibu. Abah masih di Surabaya meneruskan usahanya. Setelah saya berusia satu tahun Ibu balik ke Surabaya menemani Ayah, pulang ke Solo satu minggu sekali," jelas Windy.
"Oh gitu, sejak kecil tinggal jauh dari orang tua."
"Ya begitu lah, mau gimana lagi Pak. Saya sebagai anak hanya nurut saja," jawab Windy.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Pak Samad sendiri yang langsung mengantarkannya karena kebetulan istrinya lagi sholat.
Setelah mengantar makanan ke meja Bayu dan Windy, tiba-tiba matanya tak sengaja melihat kartu identitas yang tergeletak diatas meja.
"Kok ini ada disini,?" seru Pak Samad kaget.
"Memangnya kenapa, Pak," jawab Windy.
"Ini Bu Retno tetangga saya, Mbak," jawab Pak Samad.
------------------------------
Next..
__ADS_1