MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 70 (Hampir saja)


__ADS_3

Juno dan Sandra saling pandang. Mereka kaget setelah mendengar Gio bilang kalau Aulia ternyata sudah menikah.


"Kamu tetangganya Mbak Aulia apa suaminya,?" tanya Juno.


"Aku tetangga suaminya Mbak Aulia."


"Tapi, bukannya Mbak Aulia sudah tunangan sama Pak Bayu,?" sahut Sandra.


"Iya San, malahan sudah dua kali dia kesini yang ambil uang hasil penjualan showroom ini disuruh Pak Bayu," jawab Juno.


"Mungkin saja mereka sudah putus. Buktinya sekarang kitan disuruh langsung transfer ke rekeningnya Pak Bayu sendiri," sahut Gio.


"Ya sudah kalau gitu, kita lanjutkan kerjaan kita saja. Malah ngerumpiin Pak Bayu," ujar Juno.


"Baik Kak," jawab Gio.


Akhirnya mereka melanjutkan aktivitasnya di showroom. Tapi, ketika mereka hendak memulai beraktivitas, tiba-tiba ada pengunjung yang datang.


"Selamat sore Juno, Hananya ada,?" tanya orang itu.


Juno menoleh lalu kaget karena siapa yang datang. " Mbak Aulia,!" serunya.


Aulia tersenyum melihat ekspresi Juno yang kaget. Dia kemudian duduk di kursi dekat kasir. Juno lalu menghampiri Aulia dan kini mereka duduk berdampingan.


"Hananya masuk pagi, Mbak. Ada apa ya kok cari Hana,?" jawab Juno.


"Oh masuk pagi, padahal saya ada perlu banget sama dia," ucapnya sedikit kecewa.


"Kalau boleh saya tahu ada perlu apa. Kali aja saya bisa membantu," tawar Juno.


"Sebenarnya mau nitip sesuatu buat bos kamu. Hana kan asisten dan menjadi orang kepercayaannya disini, jadi saya mau nitip dia untuk menyampaikannya sama bos kamu," jawab Aulia.


"Oalah Mbak, baru saja Pak Bayu pulang dari showroom ini. Sekitar lima belas menit sebelum Mbak Aulia datang," ucap Juno.


"Apa,! Mas Bayu di Surabaya,?" serunya kaget.


"Iya Mbak."


Tak lama kemudian Gio menghampiri mereka karena dia melihat ada Aulia. Sebagai tetangganya sekarang, dia perlu menyapanya.


"Mbak Aulia,!" sapa Gio.


"Eh Gio," jawab Aulia singkat.

__ADS_1


"Mbak Aulia kenapa nggak menghubungi Pak Bayu langsung."


"Nomor saya yang lama ke blokir, jadi saya ganti nomor baru. Semua kontak hilang jadi saya lose kontek sama Mas Bayu," jawab Aulia.


"Atau Mbak Aulia ke rumahnya saja, mumpung Pak Bayu belum balik ke Semarang lagi," sahut Sandra sambil mendekatinya.


"Nggak enak saya kalau kesana lagi, kan sekarang saya sudah nggak sama dia. Malu kalau saya kesana," jawab Aulia.


Ketiganya terdiam karena bagaimanapun juga Aulia ada benarnya. Sandra mencoba mendekati Aulia yang mungkin sedih karena itu.


"Mbak, Mbak Aulia yang sabar ya. Mungkin ini sudah jalan dari Tuhan kalau Mbak Aulia nggak berjodoh dengan Pak Bayu. Kalau saya perhatikan tadi, wajah Pak Bayupun juga sayu dan nggak seperti biasanya," jelas Sandra.


"Iya San, makasih atas supportnya."


"Oh iya Mbak, Pak Bayu bilang dia seminggu yang lalu habis sakit," sahut Juno.


"Oh iya, sakit apa Jun.?"


"Katanya sih kecapekan dan demam saja. Gelaja typus," jawab Juno.


"Ya Allah, kasihan Mas Bayu. Di sana lagi sakit lalu siapa yang merawatnya," ucapnya pelan.


Aulia kembali terlihat sedih dan menundukan wajahnya. Dia mengakui kalau sebenarnya dia kangen banget sama Bayu dan ingin ketemu.


"Makasih, ya San."


Aulia meminum air tersebut. Kemudian dia kembali bersikap seperti semula, dengan wajah yang muram dan sedih.


Drrtt..drrtt..


Ponselnya bergetar lalu dia membuka siapa yang menelpon. Ternyata Bardi asistennya Fatih.


"Maaf Bu Aulia, mohon Ibu segera pulang. Pak Fatih memanggil Ibu," ucapnya dari ujung telpon.


"Oh iya Pak Bardi, saya segera pulang."


"Apa perlu saya jemput, Bu.?"


"Nggak usah, saya naik taksi saja."


"Baik Bu."


Aulia kembali menutup ponselnya lalu memasukannya dalam tasnya kembali. Kemudian dengan wajah yang sedikit tegang dia berdiri.

__ADS_1


"Maaf saya harus pulang, lain kali saja saya kesini lagi. Juno, Sandra dan Gio. Saya permisi dulu ya,?" ucap Aulia sambil tergesa-gesa.


"Oh i..iyaa Mbak, silakan. Hati-hati di jalan," ucap Sandra terbata


"Terima kasih."


Aulia pergi meninggalakan showroomnya Bayu. Lalu Sandra, Juno serta Gio bingung ada apa dengan Aulia, karena setelah menerima telpon lalu dia pulang.


(***)


Tak lama kemudian Aulia akhirna sampai juga di rumahna. Saat dia baru saja menginjakan kakinya di teras rumah, Si Bardi langsung berlari menghampirinya dan menggandeng tangan Aulia.


"Ayo Bu, Pak Fatih drop lagi.!"


"Apa! Ayo kita lihat,!" jawab Aulia dengan muka yang panik.


Sesampainya di kamar, Aulia melihat suaminya yang hanya terbaring dengan matanya tertutup. Dokter di sebelahnya lalu menghampiri Aulia sambil memegang pundaknya.


"Yang sabar, Bu. Bantu dengan doa semoga Pak Fatih cepat sembuh," ucap dokter.


"Makasih dok," jawabnya dengan wajahnya merah menahan agar air matanya tidak keluar.


"Iya Bu, sama-sama."


Tak lama kemudian Fatih terlihat menggerakan tangannya lalu berusaha membuka mata. Aulia segera mendekati suaminya dan mengelus kepala Fatih.


"Mas Fatih harus kuat, Mas Fatih harus bertahan," ucap Aulia lirih di telinga Fatih.


"Li..a, mungkin aku sudah tidak punya waktu lagi. Misal aku pergi nanti, tolong wasiatku kamu laksanakan. Soal aku yang ingin menyumbangkan uang almarhum Ayah untuk anak-anak jalanan itu, kamu juga wujudkan," ucapnya pelan.


"Mas Fatih tidak boleh bicara seperti itu. Kamu pasti sembuh, Mas," ucap Aulia sambil terus membelai kepala suaminya.


"Lia, maafkan aku ya jika karena menuruti keinginanku, kamu jadi batal menikah dengan Bayu. Tenang saja, kamu masih muda dan masa depan kamu masih panjang. Jadi, lepaskan aku Lia, biarkan aku pergi dengan tenang, ya. A..ku Cin...ta sa..ma ka..m..u," ucapnya pelan sambil tangannya jatuh dan matanya terpejam.


Aulia kaget dan memanggil Fatih dengan menggerak-gerakan badannya. Tapi Fatih sudah tidak menyaut.


"Dokter..dokter., tolong lihat suami saya. Bantu dia, dok,!" teriak Aulia.


Dokter mendekat lalu memeriksa Fatih. Tak lama dokter tersebut menoleh kearah Aulia dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf Bu, Pak Fatih sudah pergi."


----------------------------

__ADS_1


Next...


__ADS_2