
"Panji,?" Bayu balik bertanya..
"Iya Panji. Kenapa Bay? Kamu kenal dia,?" tanya Irwan.
"Kamu ingat laki-laki yang pernah aku kenalkan sama kamu di kantor? Yang waktu itu ada perusahaan yang akan kerja sama sama perusahaan kita, dan perwakilannya ternyata temanku semasa kuliah. Yaitu dia Panji," jelas Bayu.
"Berarti Panji itu adalah Panji yang sama dengan yang di maksud Dinda,?" tanya Irwan dengan wajah tegang.
"Kayaknya iya sama Ir. Sebab aku juga pernah ketemu dia ketemuan sama Rina teman Dinda."
"Jelas benar itu Bay, kurang ajar dia. Dulu dia kemana saat Dinda hamil. Dan sekarang Dinda sudah menikah dan anaknya sudah lahir dia baru nongol. Aku nggak bisa biarkan dia merebut anak dan istriku dari tanganku,!" ucapnya geram.
Bayu memegang pundak Irwan lalu menepuknya. "Bagus,! sebagai Ayah dan suami yang baik, kamu harus pertahankan keluarga kalian."
"Iya Bay, makasih sudah support aku. Jujur aku sempat stress dan bingung memikirkan ini."
"Lalu gimana respon orang tua Dinda soal masalah ini,?" tanya Bayu.
"Mereka belum tahu. Karena aku menyelidikinya sendiri. Bahkan Dinda pun belum tahu kalau aku mengetahui masalah ini," jawab Irwan.
"Berarti ini belum kalian omongkan secara serius,?" tanya Bayu meyakinkan.
"Belum Bay, cuma aku yakin kalau Dinda pasti milih dia, karena dari dulu dia kan nggak cinta sama aku,?" ucap Irwan pasrah.
"Kamu jangan menyerah seperti itu. Siapa tahu istrimu malah benci sama laki-laki itu. Sudahlah, inshaAllah rumah tangga kalian baik-baik saja," hibur Bayu.
"Makasih, Bay. Oh iya kamu sendiri gimana hubungan kamu dengan Aulia. Apa kamu akan memperjuangkan cinta kalian,?" tanya Irwan memgalihkan topik.
"Aku masih cinta sama dia, jadi aku akan memperjuangkannya. Tapi masih nunggu waktu yang tepat," jawab Bayu.
__ADS_1
"Iya waktu itu aku dengar dari Tante Santy soal kamu dan Aulia. Bagaimana Aulia menerima tawaran untuk membantu orang lain menjalankan amanah almarhum Ayah dari orang itu. Aku salut sama kamu Bay. Dengan ketegaran dan kebesaran hati kamu, kalian bisa melewati semua ini. Aku yakin Aulia pasti juga akan tetap mempertahankan kehormatannya demi kamu," jelas Irwan mencoba meyakinkan.
"Kamu kok bisa bicara seperti itu,?" tanya Bayu.
"Aku hanya menerka saja, Bay. Secara orang sakit masa bisa menjalankan malam pertama," jawab Irwan.
"Aku tulus sama Aulia, Ir. Meskipun mereka sudah melakukan malam pertama, aku akan tetap terima Aulia apa adanya," jawab Bayu.
"Bagus my bro, kamu memang bijaksana banget. Aku bangga punya sahabat serta saudara seperti kamu," tukas Irwan.
"Oh iya berarti ini Dinda di rumah orang tuanya.?"
"Iya, karena besok aku ada acara event ke Malang dan nginep, jadi dia pulang ke rumah Ibu," jawab Irwan.
Mereka ngobrol-ngobrol sampai tidak terasa hari sudah menjelang gelap. Irwan banyak bercerita tentang rumah tangganya, sedangkan Bayu sebagai pendengar yang setia sekaligus pemberi semangat buat Irwan.
.
.
.
Kepulangannya ke Surabaya kali ini tidak sia-sia, karena disamping bisa bertemu orang-orang yang di sayanginya, dia juga jadi tahu hal-hal yang terjadi sama orang-orang yang disayanginya tersebut.
Soal Aulia dan mantan istri almarhum suaminya, dia juga heran sekaligus nggak percaya. Aulia yang dicintainya saat ini bukanlah Aulia yang dulu. Dia sekarang hidup dengan bergelimang harta warisan dari almarhum suaminya.
Dia justru menjadi takut kalau Aulia menjadi seperti itu, dia takut lantaran akan di manfaatkan orang-orang yang dulu ada hubungannya dengan mantan suaminya.
Dalam hati dia berkeinginan untuk membantunya tapi apalah daya sekarang dirinya sudah tidak punya kapasitas untuk melakukan hal itu. Saat ini dia merasa sebagai orang lain yang mungkin suatu saat akan melakukan pemdekatan lagi.
__ADS_1
Bayu tidak bisa memejamkan matanya lantaran dipikirannya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan serta ungkapan yang belum tersampaikan kepada Aulia. Besok hari terakhir dia di Surabaya karena lusa dia harus sudah kembali ke Semarang.
Mungkin besok dia gunakan untuk menjenguk anaknya Dinda di rumahnya Pak Arman. Bagaimanapun juga mereka sekarang sudah menjadi keluarganya.
Kembali soal Dinda, Bayu tidak menyangka kalau Panjilah ayah kandung anaknya. Ternyata dunia begitu sempit karena orang yang telah menghamili Dinda adalah teman Bayu sendiri.
Bayu sejenak menghela nafas panjang karena dia ada keinginan menemui Panji untuk bicara dari hati ke hati.
"Coba besok sebelum aku ke rumahnya Dinda, aku menemui Panji dulu. Aku coba bicara sama dia," ucap Bayu lirih.
**Kini dia langsung menyambar ponselnya yang tergeletak diatas meja. Kemudian dia mencari nomor Panji
"Hallo, Ji. Besok kamu ada waktu nggak,?"
"....."
"Ya pingin ngobrol saja, lama nggak jumpa. Mumpung aku lagi di Surabaya."
"....."
"Oh gitu, okelah kalau begitu. Berarti habis maghrib ya.?"
"...."
"Oke, sampai besok**."
Bayu menutup ponselnya dan kembali meletakkannya diatas meja. Kini dia kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Berarti besok aku ke rumah Dinda saja dulu, karena Panji longgarnya diatas maghrib," ucapnya lagi.
__ADS_1
-------------------------------
Next...