
Bayu masih duduk menunggu di kursinya. Sedangkan wanita itu tak lain adalah Aulia dan pengacaranya Fatih. Hampir saja dia putus asa karena dia pikir Aulia sudah menemukan laki-laki lain.
Aulia sejenak mengelilingkan pandangannya untuk mencarinya, Bayu buru-buru menghampiri mereka lalu memgajaknya ke tempat yang sudah dia pesan.
"Selamat siang, Lia. Pak Rey. Sudah lama nggak bertemu,?" tanya Bayu.
"Siang juga Mas."
"Siang juga Pak Bayu," sahut Rey.
"Ayo silakan duduk," ajak Bayu.
"Maaf Pak Bayu, saya tidak bisa ikut gabung. Karena saya harus balik lagi ke kantor. Kebetulan ini tadi Bu Aulia sekalian bareng ke sini lantaran memang searah," jawab Rey.
"Oh gitu, iya nggak apa-apa, Pak. Terima kasih sudah mengantarkan Aulia kesini," ucap Bayu.
"Sama-sama Pak Bayu. Saya doakan semoga rencana kalian berdua berjalan lancar. Tenang saja Pak, Bu. Saya akan tetap di belakang kalian. Almarhum Pak Fatih sudah berpesan sama saya untuk selalu membantu urusan kalian berdua," jelas Rey.
"Oh iya Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sekali kepada Pak Rey," jawab Bayu.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Rey sambil menyalami Bayu dan Aulia.
Sedangkan Bayu dan Aulia hanya tersenyum sambil menatap kepergian Rey dari tempat itu. Setelah itu Bayu fan Aulia duduk berhadapan.
"Kamu mau minum apa,?" tanya Bayu.
"Aku lemon tea saja, Mas."
"Dingin apa hangat,?" tanya Bayu lagi.
"Hangat saja," jawab Aulia singkat.
Kemudian Bayu memanggil pegawai cafe tersebut untuk memesan buat Aulia. Kemudian dia kembali menatap wanita yang ada di hadapannya kali ini.
Keduanya saling tatap satu sama lain, Aulia terlihat senang sekali karena sudah sekian lama nggak bertemu dengan Bayu, perlahan matanya mulai mengembun karena terharu sekali dengan kejadian kali ini.
Bayu pun demikian, dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya bahwa kali ini di bahagia sekali lantaran bisa bertemu lagi dengan Aulia wanita yang dia cintai.
"Lia, kamu apa kabar.?"
__ADS_1
"Aku baik, Mas. Kamu sendiri gimana.?"
"Alhamdulilah aku juga baik. Kamu tetap saja seperti dulu, ya. Cuma sekarang tambah cantik," ucap Bayu dengan sedikit menggoda.
"Kamu ini Mas, masih saja seperti dulu. Suka ngegombal," jawab Aulia malu-malu.
"Oh iya, kabar Ibu dan Adik kamu gimana, baik juga, kan.?"
"Iya Mas, Alhamdulilah baik. Oh iya aku juga kadang mampir ke rumah kamu sekedar bertemu Mama dan Papa kamu serta Gani. Nggak apa-apa, kan,?" ucap Aulia.
"Nggak apa-apa, aku malah senang sekali kalau kamu masih ingat sama mereka."
"Oh iya, Mas. Apa ada yang penting sehingga kamu mengajak aku ketemuan di sini,?" tanya Aulia.
"Jelas ada, Lia. Kenapa, kamu keberatan.?"
"Oh enggak, Mas. Aku malah senang sekali karena sebenarnya aku sudah kangen sama kamu," ucap Aulia pelan dengan wajah menunduk.
Perlahan Bayu meraih tangan Aulia kemudian dia menggenggam dengan erat tangan lembut itu.
"Aku senang sekali kamu bicara seperti itu, Lia. Aku juga sangat kangen sekali sama kamu. Sejak kamu menikah dengan Fatih aku seperti kehilangan separuh hidupku. Tiap hari aku menyalahkan diriku sendiri karena telah mengijinkan kamu menerima Fatih. Tapi, setelah aku sadar bahwa keputusanku saat itu untuk membantu orang lain yang sedang dalam keadaan kritis, akhirnya hati ini perlahan serasa lega dan plong.
Tapi aku juga manusia biasa Lia, punya rasa sakit hati, marah, sedih bahkan kecewa. Jadi peristiwa tersebut sempat membuat aku seperti kehilangan kendali. Untung saja disana aku ada teman curhat, jadi aku merasa tidak sendirian," jelas Bayu dengan menatap wajah Aulia.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, kamu cemburu.?"
"Aku nggak cemburu, aku hanya ingin kamu jujur dan bicara apa adanya sama aku.?"
"Iya, keduanya memang wanita.?"
"Oh jadi kamu disana dekat dengan dua orang wanita,?" pertanyaan Aulia semakin memojokkan Bayu.
"Kamu segitunya bertanya ke aku, kalau gini aku semakin cinta dan aku merasa nggak salah pilih lagi sama kamu," jawab Bayu.
"Mas., kamu jangan bikin aku semakin kawatir. Kamu tahu nggak, selama aku menikah dengan Mas Fatih, pikiran aku cuma tertuju sama kamu. Kamu di sana seperti apa, bagaimana keadaan kamu, jadi pikiranku tersita sama kamu," jawab Aulia dengan wajah yang cemas.
"Lia, sebelum aku bicara lebih lanjut. Aku mau tanya sama kamu.?"
"Tanya apa, Mas.?"
__ADS_1
"Apa saat ini aku sudah bisa melanjutkan lagi hubungan sama kamu, apa kamu tidak ada yang mendekati. Kamu kan sudah melewati masa ida kamu," tanya Bayu dengan muka yang serius.
"Mas, sebenarnya ada laki-laki yang mencoba mendekati aku. Tapi, aku bilang kalau aku nggak bisa."
"Makasih ya Lia, kalau begini aku semakin yakin dan mantap untuk melanjutkan hubungan kita yang sempat renggang," ucap Bayu.
"Iya Mas, karena bagaimanapun aku juga masih sayang dan cinta sama kamu," jawab Aulia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah, aku janji kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku akan membawa kamu ke dalam bagian hidup aku," jawab Bayu dengan tetap memegang tangannya.
"Makasih Mas, kali ini aku yakin kalau kamu nggak bakal melepaskan aku lagi."
"Iya Lia, secepatnya aku akan menikahimu.?"
Aulia senang sekali ketika Bayu bilang akan menikahinya. Dia seperti mimpinya terwujud meskipun sedikit terlambat.
"Oh iya Mas, kamu tadi belum menjawab pertanyaan aku. Dua wanita yang menjadi teman curhat kamu di Semarang itu siapa.?"
"Astaghfirulloh., iya Lia. Mereka itu Bu Sumi dan Bu Windy.?"
"Jadi teman dekat kamu itu Ibu-Ibu,?" tanya Aulia dengan wajah yang tegang.
"Aulia Nur Afifah yang cantik. Bu Sumi itu penjaga mess dimana aku tinggal sekarang. Lalu Bu Windy itu salah satu staf di kantor aku," jawab Bayu dengan muka yang santai.
"Bu Windy? Pasti orangnya cantik."
"Pada dasarnya semua wanita itu punya kecantikan yang berbeda-beda. Tergantung cara pandang orang," jawab Bayu.
"Lah iya, Mas. Berarti Bu Windy itu orangnya cantik."
"Sssttt., sudahlah, Bu Windy itu sudah punya pacar. Malah sebentar lagi menikah."
"Oh gitu. Kali aja dia masih single. Aku kan kawatir kalau kamu akan suka sama dia," jawab Aulia dengan wajah yang malu-malu.
"Sudahlah Lia. Yang penting sekarang kita itu harus saling percaya satu sama lain, agar hubungan kita semakin kuat."
"Iya Mas. Aku percaya sama kamu."
"Baiklah kalau begitu, kita makan siang dulu. Setelah itu kita cari masjid sekalian sholat Dhuhur," ucap Bayu.
__ADS_1
--------------------------------
Next...