
"DINI.,!"
Bu Santy merasa tubuhnya lemas tak bertenaga. Bu Sumi langsung mendekati untuk melihat keadaan Mamanya Bayu. Sedangkan Windy sendiri masih berdiri karena dia sendiri juga terkejut kenapa setelah kedatangan dirinya perempuan itu responnya seperti itu.
"Bu Santy nggak apa-apa,?" tanya Bu Sumi sambil memegang tubuh Bu Santy.
"Bu, tolong bantu saya mau duduk," ucapnya lirih.
"Baiklah saya ambilkan kursi dulu," jawab Bu Sumi sambi melangkah ke belakang ambil kursi plastik.
"Makasih Bu."
Kemudian Bayu dan Papanya masuk karena setelah mendengar benda jatuh. Bayu melihat Mamanya yang tengah menatap Windy tanpa kedip, dia jadi mengerti apa yang terjadi.
"Mama kenapa,?"
"Siapa gadis itu Bay.?"
Bayu tersenyum kemudian mendekati Mamanya, sedangkan Pak Ridwan juga kaget ketika melihat Windy.
"Ma, Pa. Ini Bu Windy staf Bayu di kantor. Mama sama Papa pasti kaget kan, karena dia mirip banget sama almarhumah Dini,?" ucap Bayu dengan santai.
"Iya Nak, dia mirip sekali dengan Dini."
"Iya Bayu, gadis ini mirip sekali dengan Dini," kini Pak Ridwan ikut menyaut.
Bayu kemudian menjelaskan siapa Windy. Pak Ridwan dan Bu Santy kemudian dikenalkan sama Windy oleh Bayu. Setelah itu keadaannya sudah kembali tenang dan Bayu mengajak Windy ke ruang tamu guna bergabung dengan teman-teman yang lain.
Pak Ridwan kini duduk di ruang tengah sambil minum kopi. Setelah Bu Santy kembali tenang, dia kemudian melanjutkan membantu Bu Sumi.
"Oh iya Bu, maaf kalau boleh saya tahu Nak Windy itu rumahnya dimana,?" tanya Bu Santy.
"Dia tinggalnya nggak jauh dari sini, masih satu blok sama mess ini. Cuma rumah Non Windy deretan paling depan," jawab Bu Sumi.
"Oh gitu, kalau dia staf anak saya di kantor berarti tiap hari ketemu, dong.?"
"Iya jelas Bu, kan memang satu kerjaan sama Den Bayu."
__ADS_1
"Apa lama-lama Bayu nggak jatuh cinta sama dia, ya. Secara dia mirip banget sama Dini," ucapnya pelan.
"Bu Santy barusan bicara sama saya,? tanya Bu Sumi.
"Oh tidak Bu, maaf."
Acara syukuran Bayu naik jabatan sudah dimulai. Di ruang tamu terdengar Pak Adrian membuka acara tersebut dengan lancar. Kemudian dilanjutkan Bayu mengucapkan sepatah dua kata hanya untuk mengucapkan terima kasih.
Sekitar tiga puluh menit kemudian acara makan-makannya dimulai. Bu Sumi dan Bu Santy mengeluarkan makanan yang sudah dipersiapkan. Lalu Bayu fan Windy masuk untuk membantu mereka.
Pak Ridwan sesekali melirik kearah Windy yang mungkin dia masih penasaran dan memastikan kalau memang dia bukan Dini. Tapi, wajahnya sebelas duabelas sama Dini.
"Maaf Bu, tadi saya hampir membuat Ibu kaget setelah melihat saya. Pak Bayu juga sempat bilang sama saya kalau wajah saya mirip sama Almarhumah tunangannya," ucap Windy saat ada kesempatan.
"Oh nggak apa-apa Nak Windy, Ibu juga minta maaf karena telah membuat Nak Windy merasa bersalah. Memang Ibu kaget banget karena Nak Windy mirip sekali dengan Almarhumah," jawab Bu Santy.
"Mari saya bantu bawakan ke depan, Bu."
"Oh iya, Nak. Makasih ya.?"
Windy mengangguk sambil melemparkan senyum kearah Bu Santy. Sedangkan Bu Santy kini masih berdiri menatap Windy yang berjalan menuju ruang tamu. Dia tiba-tiba teringat Aulia tunangan Bayu yang sekarang.
"Ada apa Ma, kok tumben seperti ini.?"
"Pa, Mama kok tiba-tiba teringat sama Aulia, ya.?"
"Iya Ma, Bayu kok nggak pernah cerita soal dia. Papa juga merasa kok ada yang beda. Apa mereka lagi bertengkar,?" tanya Pak Ridwan.
"Terakhir mereka memang lagi berselisih, kemudian Bayu mendadak balik Semarang. Tapi, masalahnya dan kabarnya sekarang seperti apa Mama juga nggak tahu," jawab Bu Santy.
"Pa, kok Mama suka sama Nak Windy ya. Anaknya sopan, cantik, serta pintar. Mama tadi sempat melihat dia berbicara di depan teman-teman kantornya," ucap Bu Santy.
"Mama suka karena dia mirip Dini, kan? Jangan bilang enggak," ucap Pak Ridwan.
"Ya iya sih, Pa. Salah satunya itu. Mama kan sayang banget sama Dini seperti sekarang Mama sayang sama Aulia," jawab Bu Santy.
"Sudah Ma, Papa tahu maksud Mama. Ingat, Bayu sudah punya Aulia," jawab Pak Ridwan.
__ADS_1
"Iih Papa, kok hitu pikirannya," sahut Bu Santy sambil malu-malu.
.
.
.
Tak terasa acara syukuran pun sudah selesai. Kini hanya tinggal Windy dan satu teman laki-lakinya Bayu. Ketika Bu Santy dan Pak Ridwan itu lagi ngobrol-ngobrol di ruang tengah, tiba-tiba Bayu dan Windy menghampiri mereka berdua.
"Ma, Pa. Ini Bu Windy mau pamit," ucap Bayu.
"Loh, kok buru-buru amat Nak,?" jawab Bu Santy.
"Iya Nak, duduk-duduk dulu sini ngobrol sama kita," sahut Pak Ridwan.
"Maaf Pak, Bu. Saya masih ada perlu, kalau nggak ada kerjaan nanti sore inshaAllah saya kesini lagi," jawab Windy.
"Yang bener, Nak? Ibu tunggu ya."
"Iya Bu, makasih karena sudah baik sama saya."
"Iya sama-sama, kamu hati-hati pulangnya, ya. Bayu tolong antar Nak Windy pulang," seru Mamanya.
"Ma, Bu Windy ini bawa mobil sendiri. Ngapain Bayu pake anterin, bukan begitu Bu Windy,?" jawab Bayu sembari menoleh kearah Windy.
"Iya bener. Saya pamit dulu ya Pak, Bu. Pak Bayu saya pamit ya,?" ucap Windy sambil menyalami tangan kedua orang tua Bayu.
Bayu mengantarkan Windy kedepan, tak lama kemudian dia balik lalu ikut bergabung dengan Mama dan Papanya. Bu Santy senyum-senyum melihat anak semata wayangnya kali ini.
"Oh iya Bay, Papa mau menanyakan sesuatu soal Aulia. Gimana kabar hubungan kalian,?" tanya Pak Ridwan.
Degh.!
Bayu tidak berkutik kalau ditanya soal Aulia. Soalnya orang tuanya belum tahu tentang permasalahannya dengan Aulia. Dia terdiam sambil menundukan wajahnya sambil memainkan jarinya.
-------------------------------
__ADS_1
Next...