MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 30 (Musibah)


__ADS_3

Bayu dan Irwan bergegas mendekati kerumunan orang-orang di jalan depan Masjid. Perlahan Bayu mendekati orang yang ditabrak tadi.


Bayu terkejut ketika melihat laki-laki di depannya kali ini. Bukankah ini Ayahnya Aulia. Batinnya.


"Irwan.,!" seru Bayu.


"Apa Bay.?"


"Panggil Aulia. Cepat,!" teriak Bayu.


Irwan kemudian balik ke halaman Masjid dan ternyata dia berpapasan dengan Aulia yang baru saja keluar dari Masjid.


"Lia, cepat. Dipanggil Bayu sekarang.!" seru Irwan.


"Ada apa.?"


"Nggak tahu, aku disuruh panggil kamu segera,!" jawab Irwan.


"Baiklah."


Kemudian keduanya begegas menuju dimana banyak orang yang berkerumun. Aulia lalu mendekati mereka dan melihat apa yanga terjadi.


"Lia, ayo cepat kita bawa Ayahmu ke rumah sakit. Ini Ayahmu ketabrak mobil,!" ucap Bayu.


"Inalilahiwainailahirojiun.. Ayah! Ada apa ini, Mas,!" tanya Aulia panik.


"Sudah cepat kita angkat, Irwan cepat bantu aku.!"


Kemudian mereka mengangkat ke mobil Bayu, lalu Irwan segera mengemudikan mobil tersebut. Aulia memangku kepala Ayahnya di bangku belakang.


"Cari rumah sakit terdekat saja. Yang penting segera cepat ditangani, nanti kalau memang perlu dibawa ke rumah sakit yang lebih besar, baru kita bawa kesana.!" ucap Bayu.


"Baik, Bay.!"


"Ya Allah Ayah, kok bisa seperti ini. Ayah bertahan ya." ucap Aulia sambil menangis.


"Lia, Ayah kamu dari mana kok sampai ke sini,?" tanya Bayu.


"Biasanya dia kirim barang, Mas. Kalau di pabriknya itu lagi kebanjiran order, jadi Ayah ikut kirim barang ke pemesan," jawab Aulia.


"Tapi aku tadi nggak lihat motornya?" sahut Bayu.


"Ayah kadang naik mobil box kalau ikut kirim. Tapi aku nggak tahu lagi kalau ini tadi." jawab Aulia.


Akhirnya sampai juga di rumah sakit yang dituju. Irwan dan Bayu mengangkat Ayahnya Aulia masuk kedalam. Sama petugas langsung dibawa ke IGD.


"Lia, kamu yang sabar. Semoga Ayahmu nggak kenapa-kenapa." ucap Bayu sambil memegang bahu Aulia.


"Iya Mas. Makasih."


"Kamu sudah hubungi Ibumu untuk mengabari ini.?"

__ADS_1


"Sudah, aku telpon adikku."


Tak lama kemudian dokter keluar dengan langkah gontai. Sekerika Bayu dan Aulia mendekati dokter yang kini sudah didekatnya.


"Gimana keadaan Ayah saya, dok,?" tanya Aulia.


"Maaf Mbak, Mas. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, Ayah Anda tidak bisa tertolong. Karena banyak mengeluarkan darah dan penanganannya juga sedikit terlambat, jadi kami minta maaf karena belum bisa membantu Ayah Anda." jelas dokter.


"Apa dok!" seru Aulia dengan wajah yang mulai merah.


"Inalilahiwainailahirojiun.,!" Bayu spontan bersuara.


"Ayaaaah,!!" teriak Aulia sambil menutup wajahnya.


Tubuhnya hampir saja limbung, tapi dengan cepat Bayu menahan tubuh Aulia dari belakang. Irwan seketika membulatkan matanya karena nggak percaya.


"Mas Bayu, Ayahku Mas.!"


"Sudah kamu yang tenang ya? Mungkin Allah lebih sayang sama Ayah kamu. Yang sabar ya,?" ucap Bayu sambil memeluk Aulia.


"Gimana Ibu Mas, aku nggak sampai hati mengabarinya." ucap Aulia sambil terisak.


"Lia, mana ponsel kamu, biar aku yang mengabari keluarga kamu di rumah," sahut Irwan.


Aulia memberikan ponsel ke Irwan untuk menelpon adiknya. Bayu juga begitu, dia langsung kabari Papa sama Mamanya. Setelah itu mereka menunggu jenazahnya untuk dibawa pulang.


.


.


.


Setibanya di rumah Aulia, semua tetangga sudah kumpul dan membantu untuk menyiapkan memandikan jenazah. Ibunya kelihatan syok dan kini lagi duduk ditemani tetangganya.


Sedangkan adiknya lebih kuat dan kini membantu menyiapkan untuk memandikan jenazah Ayahnya. Tak lama kemudian Pak Ridwan dan Bu Santy beserta Gani datang lalu menemui Aulia dan keluarganya.


Aulia langsung menyalami orang tuanya Bayu yang kini sudah berada di dalam rumahnya. "Silakan duduk Pak, Bu."


"Makasih Nak.!"


"Bu, ini ada Mama dan Papanya Mas Bayu," ucap Aulia kepada Ibunya.


Perempuan setengah baya itu lalu menoleh kearah Bu Santy dan Pak Ridwan. Kemudian dia menyalami keduanya. Seketika dia lalu memeluk Mamanya Bayu dengan erat.


"Maafkan suami saya jika punya salah, ya Bu. Maaf kalau rumahnya berantakan." ucap Ibunya sambil memeluk Bu Santy.


"Sudah Bu, kami berdua memang belum sempat ketemu dengan Almarhum Ayahnya Aulia. Tapi, kami percaya kalau beliau adalah orang baik. Kami turut berduka cita ya. Ibu yang tabah ya.?" ucap Bu Santy.


"Iya Bu, soal Aulia saya serahkan sama Bapak dan Ibu saja. Terus terang saya tidak bisa mengurus pernikahannya nanti. Karena Ayahnya sudah tidak ada." ucapnya sambil menangis.


"Sudahlah jangan pikirkan itu dulu. Yang penting sekarang kita urus jenazah Ayahnya Aulia," jawab Bu Santy.

__ADS_1


"Iya Bu."


"Oh iya Kak Aulia, Gani mengucapkan turut berduka cita ya. Kak Aulia yang sabar." sahut Gani.


"Makasih Gan.!"


Bayu dan Gani membantu di depan untuk mengurus jenazah Pak Sardi. Begitu juga dengan Irwan juga membantu. Berhubung makamnya nggak jauh dari rumah, jadi malam ini juga langsung di kebumikan.


Yang laki-laki semuanya ikut mengantarkan ke makam untuk acara penguburan. Bu Santy masih tinggal di rumah bersama Aulia dan yang lainnya.


.


.


.


Akhirnya sampailah mereka yang dari makam. Bayu dan Yang lainnya tiba di rumah. Mereka lalu melanjutkan dengan tahlilan sebentar untuk mendoakan Almarhum.


Sekitar tiga puluh menit kemudian tahlilnya selesai. Semua tetangga pada pulang ke rumah masing-masing. Kini tinggalah keluarga Aulia dan keluarga Bayu.


"Oh iya Lia, motor kamu biar di rumah saja dulu, kamu kan jelasnya masih belum masuk kerja. Besok atau lusa saja aku antarkan sama Gani." ucap Bayu.


"Nggak usah Mas. Nanti misal aku sudah masuk kerja biar naik angkot saja. Nanti pulangnya saja aku ambil." jawab Aulia.


"Oh iya gitu juga nggak apa-apa."


"Baiklah kalau begitu, hari semakin malam sebaiknya kita permisi saja dulu. Besok aja ikut ngaji lagi." sahut Bu santy.


"Iya Lia. Aku pulang dulu ya. Nggak usah nangis lagi, biar Ayahmu istirahat dengan tenang." ucap Bayu sambil menatap mata Aulia.


"Iya Mas. Makasih buat semuanya."


Setelah semua berpamitan sama Ibu Aulia kini keluarga Bayu menuju mobil untuk pulang. Kali ini Irwan yang mengambil kendali dibelakang kemudi. Gani tetap ikut mobilnya Pak Ridwan.


Kini di rumah Aulia sudah sepi tinggal mereka bertiga. Aulia beserta Ibu dan adiknya kini duduk-duduk di ruang tamu.


"Lia, sekarang sudah nggak ada Ayahmu. Jadi kamu sekarang mengambil alih tanggung jawab Ayahmu buat sekolahin adikmu." ucap Ibunya.


"Bu, sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Yang penting sekarang Ibu jaga kesehatan, karena orang tua Aulia tinggal Ibu saja." jawab Aulia.


"Nak, sekarang Ibu baru sadar. Kalau kamu menikah dengan Nak Bayu, terus nasib Ibu dan adikmu gimana.?"


Pertanyaan Ibunya membuat Aulia kaget. Dia tidak berfikir sejauh itu. Misal dirinya ikut pulang ke rumah Bayu, Ibu dan adiknya nggak ada yang menemani. Nggak mungkin kalau mereka ikut tinggal bersamanya.


Tapi semuanya pasti ada jalan keluarnya, kemudian dia menoleh kearah Ibu dan adiknya dan tersenyum lembut.


"Bu, nggak usah takut nanti Ibu dan adik tinggal sama siapa. Kan ada Aulia, jadi nggak usah mikir macem-macem dulu ya." ucap Aulia lembut.


-------------------------------


Next..

__ADS_1


__ADS_2