
Bayu merasa nggak enak dengan Aulia, karena dia kayaknya cemburu dengan kehadiran Dinda.
"Ma, Bayu mau ke kamar dulu, ya,?" ucap Bayu pada Mamanya.
"Loh, Mama mau lanjutin lihat cucian, lalu siapa yang temani Dinda,?" jawab Bu Santy.
"Nggak tahu, Bayu juga mau mandi," ucap Bayu sembari melangkah keatas.
Dinda merasa nggak enak karena sikap Bayu sudah menunjukan kalau kehadirannya mengganggu keluarga ini. Akhirnya dia memutuskan untuk balik pulang.
"Maaf Tante, sebaiknya saya permisi pulang saja."
"Oh iya maaf, ya. Maaf kami memang nggak bisa temani kamu. Sekali lagi makasih kuenya, ya Din,?" jawab Bu Santy.
Akhirnya Dinda memutuskan untuk pulang. Kini Bu Santy kembali ke belakang menuju tempat laundry untuk melihat cuciannya. Dan setelah disana dia kaget karena sudah ada Aulia sang calon menantu.
"Aulia,!"seru Bu Santy.
"Kok kamu sudah disini? Bukannya tadi kamu pamit Sholat lalu balik ke toko,?" tanya Bu Santy.
"Saya sebenarnya sudah pulang, Bu. Saya pamit Sholat sama Mas Bayu supaya dia mau nemani Mbak Dinda," jawab Aulia.
"Lia, kamu cemburu,?" tanya Bu Santy.
"Saya tidak cemburu, Bu. Saya mengerti kok gimana hubungan Mbak Dinda dengan keluarga ini."
"Ya sudah kalau kamu mengerti. Ibu bangga sama kamu, Nak."
"Oh iya, Bu. Ini jemurnya di belakang sana, ya,?" tanya Aulia sambil mengeluarkan semua pakaian dari mesin cuci.
"Sudah., sudah, biar saya jemur sendiri. Kamu sekarang mandi saja. Biar nanti kalau sampai rumah nggak usah mandi lagi."
"Saya langsung pamit saja, Bu."
"Oh ya sudah kalau gitu, kamu pamit dulu sama Bayu diatas, biar nanti dia nggak cari kamu," tukas Bu Santy.
"Iya Bu."
Aulia kemudian naik keatas menuju kamar Bayu. Dia mengetuk pintu kamar Bayu dengan pelan.
__ADS_1
"Tok...tok..,!"
"Masuk saja, pintunya nggak di kunci,!" serunya dari dalam.
Aulia membuka pintunya perlahan. Kemudian dia melihat Bayu di depan meja sambil membuka laptopnya. Seketika Bayu menoleh kebelakang dan kaget karena Aulia sudah di dekatnya.
"Loh, kamu sayang,?" ucapnya kaget.
"Mas, aku mau pamit pulang, sudah sore," ucapnya pelan.
"Loh, tadi kamu bilangnya mau balik ke toko, tapi--" Bayu tidak melanjutkan ucapannya.
"Iya tadi aku bilang kalau setelah sholat balik ke toko. Karena itu supaya Mas Bayu mau menemani Mbak Dinda."
"Lia sayang, Mas nggak suka kalau kamu begini. Aku tahu kamu sebenarnya cemburu kalau Dinda main ke rumahku. Tapi, Lain kali kamu jangan suruh Mas nemui Dinda lagi, ya,?" ucap Bayu sambil memegang tangan Aulia.
"Iya Mas, maafin aku ya. Karena aku juga nggak enak kalau Mbak Dinda main nggak ada yang nemui. Apalagi dia baik sudah bawain Ibu kue," jawab Aulia pelan.
"Ya sudah kali ini Mas maklumi. Tapi, lain kali kamu nggak usah merasa nggak enak sama Dinda. Dia bukan siapa-siapa di keluarga ini. Sedangkan kamu itu calon istriku, jadi kamu lebih berhak mendapat tempat di rumahku," jelas Bayu sambil tersenyum.
"Makasih, Mas. Aku pamit pulang ya,?" ucap Aulia.
Mereka berdua melangkah turun menuju lantai bawah. Kemudian Aulia ke belakang pamit sama Bu Santy yang sedang menjemur pakaian. Setelah itu dia keluar yang dimana Bayu sudah mengeluarkan motornya dari garasi.
Bayu mengambilkan helm dan jaket yang ada di dalam jok motor tersebut. Kemudian dia membantu Aulia memakai helmnya. Aulia sangat beruntung sekali karena Bayu begitu perhatian dan sayang sama dirinya.
"Mas, aku pulang dulu ya. Besok aku libur jadi mungkin nggak kesini. Aku bantu Ibu di warung."
"Iya, hati-hati. InshaAllah aku yang mai kerumah kamu," jawab Bayu sambil membetulkan posisi helm yang lagi dipakai Aulia.
"Iya Mas, Assalamualaikum.," ucapnya sambil mencium punggung tangan Bayu.
"Waalaikumsalam.," jawab Bayu.
Aulia langsung melajukan motornya dengan cepat. Kemudian dia sudah tidak terlihat, dan kini Bayu masuk kembali ke dalam rumahnya.
(***)
Malam harinya Aulia membantu Ibunya memasak buat jualan besok pagi. Sehari-harinya Ibunya jualan nasi sore hari sampai malam. Kalau hari minggu saja jualannya hanya pagi hari sampai habis di CFD dekat rumahnya.
__ADS_1
"Lia, kalau kamu di rumah Bayu apa sering membantu Ibunya,?" tanya Ibunya.
"Iya Bu, tadi saja Aulia bantu mencuci pakaian keluarganya," jawab Aulia.
"Tapi, kan pakai mesin cuci, Nak."
"Iya Bu. Cuma ngeluarin pakaiannya saja yang selesai dikeringkan. Yang jemur Bu Santy sendiri, karena tidak boleh sama beliau," jawab Aulia sambil menggoreng peyek kacang.
"Ya gitu kalau di rumah calon suami. Yang rajin jangan malas-malasan. Biar nanti kalau sudah menikah kamu sudah terbiasa dan nggak canggung lagi," sahut Ibunya.
"Iya Bu, tapi--" Aulia nggak meneruskan kalimatnya.
"Tapi apa, Lia,?" tanya Ibunya sambi menoleh ke Aulia.
"Tadi itu ada adiknya mantannya Mas Bayu. Jadi, aku agak terganggu saja," ucapnya cemberut.
"Memangnya ada perlu apa dia datang ke rumah Bayu,?" Ibunya terus bertanya karena penasaran.
"Tadi itu dia hanya mengantarkan kue kesukaan Bu Santy."
"Oh ya sudah nggak apa-apa toh nduk(Nak), mungkin dia hanya ingin menyambung silahturahmi saja," jawab Ibunya lagi.
"Iya Bu. Maafkan Aulia kalau mungkin terlalu menafsirkan yang negatif."
"Nggak apa-apa, Nak. Perasaan seperti itu wajar kalau kamu rasakan. Karena sebelumnya dia pernah dijodohkan dengan Bayu, apalagi dia juga cinta sama Bayu. Cuma pesan Ibu, kamu jangan terbawa emosi sehingga mengakibatkan penyesalan dalam diri kamu sendiri,"jelas Ibunya.
"Iya Bu."
Akhirnya obrolan antara Ibu dan anak tersebut berlanjut ke ruang makan. Kini Aulia membantu memasukan semua peyek-peyek kacang tersebut ke dalam toples besar.
Pekerjaan seperti itu sudah sering Aulia kerjakan. Ibunya jualan nasi pecel dan nasi uduk di setiap minggu pagi. Adiknya yang sudah menginjak bangku SMA juga tak segan membantu Ibunya jualan nasi.
"Lia, kami istirahat saja, Nak. Kamu pasti capek," ucap Ibunya.
"Nanti saja Bu, tanggung. Sebentar lagi juga sudah selesai," jawab Aulia.
Ibunya hanya tersenyum karena melihat Aulia yang selalu rajin membantunya. Dia sangat beruntung mempunyai anak gadis yang sangat rajin dan pekerja keras.
-------------------------------
__ADS_1
Next..