MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 108 (Bu Retno meninggal)


__ADS_3

Radit terperangah ketika melihat Windy masuk ke ruangannya Bayu. Sedangkan Bayu hanya tersenyum melihat kelakuan temannya itu.


"Pak Bayu, ini tolong di tanda tangani. Hari ini harus sampai ke meja Pak Adrian," ucap Windy sambil menyerahkan beberapa berkas di atas meja Bayu.


"Oh iya terima kasih, Bu Windy. Habis ini segera saya kerjakan," jawab Bayu.


"Iya Pak. Makasih, permisi,!" ucap Windy sambil meninggalkan ruangan Bayu.


Radit masih saja terus memperhatikan Windy sampai segitunya. Bayu hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Kenapa Dit.?"


"Bay, cantik sekali sekretaris kamu itu," jawabRadit sambil wajahnya yang masih menyimpan kekaguman.


"Bukan sekretarisku, dia staf di divisi aku," jawab Bayu.


"Sudah menikah belum,?" tanya Radit sambil mengedipkan matanya.


"Kamu itu tetap aja genit, tapi sayangnya dia sudah bertunangan. Katanya tahun depan dia menikah," jawab Bayu.


"Yaaaaach., terlambat dong. Padahal dia cantik banget," sahut Radit.


"Radit.. Radit., tenang saja. Nanti pasti kamu di pertemukan dengan yang tepat," jawab Bayu.


"Iya Bay. Makasih supportnya."


Tak lama kemudian terdengar suara ponsrl Radit berbunyi. Seketika dia langsung merogoh ponselnya yang ada di sakunya.


"Iya hallo, Om. Apa Om sudah datang.?"


"Iya. Aku sudah di ruangan. Kamu cepat kesini soalnya nanti jam sepuluh mau ada meeting."


"Baik, Om."


Radit mrnutup ponselnya lalu pamitan sama Bayu untuk ke ruangan Pak Adrian. Bayu kini kembali melanjutkan pekerjaannya itu.


Siangnya sekitar pukul setengah satu Bayu berencana keluar untuk makan siang. Dia langsung menuju parkiran dan melajukan mobilnya menuju soto Pak Samad langganannya.


Sekitar sepuluh sampai lima belas menit kemudian, dia sampai di warung tersebut. Seperti biasanya Pak Samad menyambutnya dengan suka cita. Setelah itu dibuatkan soto yang menjadi kebiasaan Bayu makan siang.


"Mas Bayu kok tumben sendirian? Mbak Windynya kemana,?" tanya Pak Samad.


"Kebetulan Windy bawa bekal, Pak. Jadi saya sendirian makan siangnya," jawab Bayu asal.


"Oh iya Mas, apa Mas Bayu sudah dengar berita,?" tanya Pak Samad sambil duduk di depan Bayu.


"Kabar apa, Pak.?"


"Bu Retno baru saja meninggal, sudah tiga harinya," ucap Pak Samad pelan.


"Inallilahiwainailahirojiun., sakit apa, Pak.?"

__ADS_1


"Serangan jantung, Mas. Kasihan dia kan sebatang kara. Anak-anaknya semua di luar kota."


"Tapi, apa mereka tahu kalau Ibunya meninggal.?"


"Sudah Mas. Katanya hari ini ada yang baru datang."


"Pingin sebenarnya ngelayat kesana, tapi kerjaan saya masih banyak. Lagian juga saya tidak tahu rumahnya dan sendirian."


"Iya Mas, saya masih jualan. Kalau Mas Bayu mau nanti malam kalau pas saya sudah tutup,?" tanya Pak Samad.


"Kapan-kapan saja Pak. Kalau pas waktunya longgar. Soalnya kalau pas libur saya harus pulang untuk mempersiapkan acara pernikahan saya," jawab Bayu.


"Oh Mas Bayu mau menikah,?" tanya Pak Samad.


"Iya Pak. InshaAllah kalau nggak ada halangan tanggal tujuh belas bulan depan," jawab Bayu.


"Oh kurang sebentar lagi kalau gitu. Selamat ya Mas Bayu, semoga lancar sampai hari H," ucap Pak Samad.


"Iya terima kasih, Pak."


"Kalau saja nggak jauh saya pasti sempatkan hadir. Berhubung waktu dan situasinya nggak memungkinkan, jadi saya hanya bisa mendoakan saja," ucap Pak Samad.


"Iya Pak. Makasih doanya."


"Ya sudah, silakan dilanjut makannya. Saya mau ke belakang," ucap Pak Samad sambil melangkah meninggalkan Bayu sendiri.


Setelah dia selesai makan siang, Bayu langsung meninggalkan rumah makan soto tersebut lalu kembali ke kantor. Dia mengendarai mobilnya dengan santai sambil memperhatikan keindahan kota Semarang.


Saat di tempat yang lebih dekat, Bayu langsung kaget karena laki-laki itu ternyata Pak Arman yang tak lain adalah Ayah dari mantan tunangannyayaitu Dini.


Bayu langsung menghentikan mobilnya dan keluar mobil. Pak Arman terkejut dan hampir kaget karena di hadapannya kali ini ada Bayu.


"Ayah Arman,!" seru Bayu.


"Nak Bayu,!" jawab Pak Arman.


Bayu kemudian mendekati laki-laki paruh bayu tersebut. Kemudian berdiri di sampingny.


"Kok Ayah bisa di Semarang,?" tanya Bayu kaget.


"Iya, Ayah baru saja dari rumah teman Ayah. Dia baru saja meninggal," jawab Pak Arman.


"Kamu nggak kerja,?" tanya Pak Arman balik.


"Saya lagi break makan siang. Ini mau balik ke kantor. Ngomong-ngomong Ayah mau balik Surabaya sekarang,?" tanya Bayu.


"Iya Bay, mau ke terminal dari tadi nyegat angkot atau bis kota belum dapet," jawab Pak Arman.


"Sebaiknya Bayu antar ke terminal.?"


"Jangan, Bay. Kamu kan harus balik ke kantor," jawab Pak Arman.

__ADS_1


"Gampang, nanti Bayu tinggal telpon staf Bayu, sekarang sebaiknya Bayu antar," ucap Bayu sambil mempersilakan Pak Arman masuk mobil.


Akhirnya mereka berdua masuk mobil dan Bayu mengantarkan ke terminal. Dalam perjalanan mereka banyak sekali ngobrol karena sudah lama tak bertemu.


"Kalau mau ke Semarang sebaiknya telpon Bayu. Biar bisa Bayu jemput di terminal atau stasiun," ucap Bayu.


"Ayah nggak enak kalau ganggu kamu. Pastinya kamu sibuk, Nak," jawab Pak Arman.


"Ya nggak apa-apa, Yah. Kan nanti tinggal Bayu antar."


"Iya mungkin Ayah sudah tidak akan ke Semarang lagi," ucapnya sedih.


"Kenapa Yah.?"


"Iya, karena teman Ayah sudah meninggal, jadi sudah tidak ada teman lagi disini."


"Kelihatannya Ayah akrab sekali sama teman Ayah itu. Memangnya teman Ayah laki-laki apa perempuan,?" tanya Bayu.


"Perempuan, Bay. Dia bukan teman lagi tapi sudah seperti keluarga. Ibunya Dini juga akrab sama dia," jawab Pak Arman sambil pandangannya lurus ke depan.


"Iya Yah, namanya juga sudah akrab. Jadi seperti keuarga sendiri," sahut Bayu.


"Bu Retno itu sebatang kara di Semarang ini. Semua anak-anaknya tinggal di luar kota," ucap Pak Arman.


"Ciiiiiiiiitt,!"


Bayu seketika mengerem mendadak. Sedangkan Pak Arman mukanya langsung tegang karena kaget. Bayu tiba-tiba menjadi tegang karena kaget bercampur ketakutan karena reflek ngeremnya.


"Kenapa, Bay.?"


"Maaf, Yah. Bayu tadi melihat kucing," jawab Bayu bohong.


"Hati-hati Bay, kalau nyetir jangan melamun," ucap Pak Arman.


"Siapa nama teman Ayah tadi,?" tanya Bayu.


"Bu Retno," jawab Pak Arman datar.


"Apa Bu Retno yang dimaksud Ayah Arman adalah Bu Retno yang sama dengan Ibu-Ibu yang Bayu temui di kereta api. Kebetulan orangnya juga barusan meninggal," ucap Bayu dalam hati.


"Kamu kenapa, Bay.?"


"Oh nggak apa-apa, Yah. Oh iya, sebentar lagi sampai terminal, kita lanjut lagi," ucap Bayu.


"Iya Bay."


Kini pikiran Bayu terfokus pada menyetir, namun dia sesekali teringat dengan Bu Retno. Ceritanya saat di kereta api dulu.


----------------------------------


Next....

__ADS_1


__ADS_2