MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 88 (Kedatangan tamu)


__ADS_3

Wanita itu kaget karena dihadapannya kali ini ada mertua mantan suaminya. Sonya memandangi Bu Dewi dari atas sampai bawah. Sedangkan Bu Dewi hanya terdiam menunggu reaksi wanita tersebut.


"Anda Ibunya Mbak Aulia,?" tanyanya sambil menyilangkan tangan di dadanya.


"Iya saya Ibunya Aulia, ada perlu apa Mbak ini mencari anak saya,?" Bu Dewi balik bertanya.


"Saya dengar Mbak Aulia habis kena musibah kecelekaan, kedatangan saya kesini hanya ingin menjenguk untuk melihat keadaannya sekarang serta bersilahturahmi saja," jawabnya penuh wibawa.


"Oh iya, anak saya baru saja pulang dari rumah sakit, dia sekarang sedang istirahat," jawab Bu Dewi apa adanya.


"Memangnya tidak bisa ya jika saya menemuinya.?"


"Bisa saja, tapi barusan anaknya istirahat. Kalau memang ada yang perlu di sampaikan dan itu penting, saya akan coba bangunkan. Tapi, kalau tidak ada yang penting sebaiknya lain waktu saja," jawab Bu Dewi.


"Ibu mengusir saya,! Jangan sok kuasa di rumah ini,?" sahut Sonya dengan suara meninggi.


Pak Bardi semakin panik karena dia takit kalau Sonya akan berbuat nekad di rumah ini. Sedangkan Sonya sendiri sudah tidak punya hak apa-apa di rumah ini, karena ini rumah almarhum Pak Broto.


"Bu Sonya yang tenang, ini rumah orang jadi jaga sikap Anda," sahut Pak Bardi.


"Diam kamu Bardi,! Saya tahu saya hanya tamu disini, tapi saya kesini bermaksud baik hanya ingin ketemu Aulia. Tapi Ibu ini melarang saya," jawab Sonya dengan berapi-api.


"Maaf Bu, Bu Aulia sedang sakit dan beliau baru saja istirahat. Luka di kepalanya belum kering," jawab Pak Bardi.


"Baiklah kalau begitu, saya mengerti. Tapi lain kali saya akan datang kesini lagi karena memang ada yang saya bicarakan dengan Mbak Aulia," ucap Sonya dengan pandangan sinis ke arah Bu Dewi dan Pak Bardi.


Tapi ketika dia hendak membalikan badannya dan melangkah pergi, tiba-tiba Aulia keluar dengan dibantu Bi Lastri.


"Tunggu,!" teriak Aulia dari dalam.


Seketika Sonya menghentikan langkahnya dan berbalik lagi menoleh kearah Aulia. Bi Lastri menuntun majikannya itu untuk duduk di kursi.


Kemudian Sonya mendekati Aulia dan menyalaminya. Aulia menyambut uluran tangan Sonya dengan sopan. Kemudian Aulia mempersilakan Sonya untuk duduk kembali.

__ADS_1


"Maaf, saya tadi dengar ramai-ramai dari dalam. Memang benar apa yang dikatakan Ibu saya kalau saya baru saja istirahat. Tapi, sepertinya Bu Sonya penting sekali ada yang mau disampaikan sama saya, oleh sebab itu saya memutuskan untuk keluar menemui Anda," jawab Aulia.


"Iya Mbak Aulia, kedatangan saya kesini selain ingin menjenguk Mbak Aulia yang baru saja keluar dari rumah sakit, juga ingin menyampaikan sesuatu sama Mbak Aulia," jelas Bu Sonya.


"Ada hal penting apa yang hendak Bu Sonya sampaikan sama saya.?"


Sonya mengedarkan pandangannya ke semua yang ada di ruang tamu tersebut. Sepertinya dia ingin berbicara empat mata sama Aulia.


Aulia memperhatikan gerak-gerik Sonya sepertinya dia mulai faham, kemudian dia meminta semua yang ada di tempat itu untuk masuk ke dalam dan meninggalkan mereka berdua.


"Tapi Bu Aulia masih belum pulih benar, harus ada yang mendampinginya," sahut Pak Bardi.


"Nggak apa-apa, Pak. Saya sudah kuat kok. Sebaiknya Pak Bardi tunggu di luar saja, nanti kalau saya butuh Bapak akan saya panggil," jawab Aulia.


"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa saya ada di depan," jawab Pak Bardi lagi.


"Oh iya Bu, Bi. Tinggalkan kami berdua disini," ucap Aulia pelan.


"Langsung ke pokok permasalahannya saja. Ada perlu apa Anda datang kesini,?" tanya Aulia langsung.


"Kamu sombong sekali berkata seperti itu, tamu datang itu ditawari minum kek, apa gitu, ini bicaranya menantang gitu,!" ucap Sonya geram.


"Salah saya dimana, saya kan benar menanyakan kedatangan Anda kesini mau apa. Maaf kalau memang ada kata yang salah," ucap Aulia.


Kemudian dia memanggil Bi Lastri untuk membuatkan minuman buat Sonya. Kemudian tak lama lagi Bi Lastri keluar sambil membawkan dua cangkir minuman.


"Kedatangan saya kesini mau bilang sama kamu, bahwa sebenarnya Mas Fatih itu masih punya hutang sama Bank yang tiap bulan harus dibayar," ucap Sonya tanpa ragu.


"Maaf sebelumnya, saya menikah dengan Mas Fatih itu mendadak, jadi saya memang tidak tahu menahu soal hutang tersebut. Selama hidupnya dia tidak pernah bilang soal hutangnya sama saya, yang saya tahu dari dia bercerita, saat itu hidupnya hanya fokus sama kesembuhan penyakitnya dan semua amanah yang diberikan oleh Ayahnya. Jadi soal hutang piutang saya tidak pernah tahu," jelas Aulia.


"Dia masih ada cicilan kurang dua tahun. Selama ini memang yang bayar ke Bank itu saya, lalu Mas fatih tinggal transfer sama saya. Karena dulu dia ambil kredit rumah buat kami tinggali berdua," jawab Sonya.


"Maaf kalau tidak salah, Mas Fatih pernah cerita kalau rumahnya itu sudah diserahkan sama Anda karena memang itu atas nama Anda,?" jawab Aulia kaget.

__ADS_1


"Iya betul, tapi rumah itu nyicil ke Bank dan cicilannya kurang dua tahun," jawab Sonya lagi.


"Sebentar Bu Sonya, bukankah rumah itu dibeli cash sama Mas Fatih,?" tanya Aulia dengan wajahnya menatap Sonya dengan lekat.


Degh.!


Wajah Sonya seketika berubah warna menjadi merah. Dia tidak menyangka kalau Aulia akan berkata seperti itu. Perempuan dengan dandanan seperti sosialita itu langsung diam dan menunduk.


Pak Bardi yang kebetulan mendengar dari luar apa yang dikatakan Sonya ikut geram. Sonya terkenal matre selama menjadi istri Fatih, jadi semua pekerja sudah tahu tabiat Sonya.


"Bu Sonya ini ada-ada saja. Itu sama saja dengan memeras Bu Aulia. Padahal rumah itu belinya cash, jadi tidak ada sisa cicilan ataupun hutang," ucap Pak Bardi dalam hati.


Sedangkan di ruang tamu Aulia masih menunggu jawaban dari Sonya. Hampir lima menit Sonya terdiam tak berkutik. Setelah itu dia mulai lagi bicara.


"Tapi saya dapat telpon dari Bank kalau Mas Fatih itu masih ada sisa hutang," jawabnya dengan gugup.


"Kalau boleh saya tahu, dari Bank mana menelpon Bu Sonya.?"


Sonya langsung kelabakan, dia bingung harus menjawab apa. Karena memang selama ini tidak satupun Bank yang menelponnya. Ini semua akal-akalan dia saja.


"Bu Sonya.. Bu Sonya,!" seru Aulia.


"Eeh oh iya, apa Mbak.?"


"Saya kan tadi tanya sama Bu Sonya, Bank mana yang menghubungi Ibu soal hutanya Mas Fatih,?" ucap Aulia lagi.


"Sa..saya lupa Mbak, yang terima telpon saat itu Ibu saya," jawabnya asal.


Aulia semakin curiga bahwa sebenarnya ini semua akal-akalannya Sonya saja. Dia memperhatikan ada kejanggalan dengan cerita Bu Sonya.


------------------------------


Next...

__ADS_1


__ADS_2