
Aulia tersenyum sambil memandangi wajah Ibunya. Sedangkan Ibunya keran kenapa Aulia setenang dan tersenyum.
"Jadi kalian selama ini tidak pernah tidur sekamar,?" tanya Ibunya.
"Tidak Bu, Mas Fatih nggak mau karena dirinya sakit," jawab Aulia.
ik"Lalu apa dia tidak menuntut kamu sebagai seorang istri. Kan di awal pernikahan dia masih bisa bangun dan berjalan meskipun keadaannya sedikit lemah."
"Tidak Bu."
"Ya Allah Nak, kamu yang sabar ya. Mungkin dibalik semua ini ada hikmahnya," ucap Ibunya.
"Iya sudahlah Bu nggak apa-apa. Aku nggak mempermasalahakan hal itu."
"Iya Nak, Ibu ngerti kok."
"Oh iya Bu, besok siang pengacaranya Mas Fatih datang untuk membawa surat wasiat yang dibuat Mas Fatih."
"Buat apa Nak.?"
"Aulia juga nggak tahu, Bu. Kata Pak Rey Surat itu dibuat Mas Fatih saat mau menikah dengan aku."
"Oh gitu, dilihat besok saja Lia. Sekarang kita istirahat saja dulu."
"Iya Bu, ayo tidur dulu."
__ADS_1
(***)
Keesokan harinya sekitar pukul sebelas siang Pak Renaldi datang ke rumah Aulia. Dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang begitu besar.
Aulia dengan dibantu kedua asistennya menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian Reynaldi masuk dengan membawa tas kerjanya.
"Selamat siang Bu Aulia," sapa Rey.
"Selamat siang juga Pak," jawab Aulia.
"Silakan duduk Pak Rey," sahut Pak Bardi.
"Baiklah saya akan langsung pada pokok permasalahannya. Karena pesannya Pak Fatih sama saya, kalau dia sudah tidak ada, maka besoknya saya disurih langsung memberitahu isi surat wasiat ini kepada Bu Aulia," jelas Rey.
"Maaf Pak Rey, apa nggak terlalu cepat untuk bahas surat wasiat,?" tanya Aulia memastikan.
Raynaldi mengeluarkan dua map berisikan surat wasiat yang dititipkan kepadanya. Kemudian kedua map tersebut diberikan kepada Aulia.
Sedangkan Aulia sendiri tidak menyangka kalau dia akan diberi mandat atas surat wasiat tersebut. Dia perlahan mengamati map yang kini sudah berada di tangannya.
Aulia gemetar saat mau membuka isi surat wasiat yang dibawanya kali ini. Saat mau membuka, tiba-tiba ditutupnya kembali dan dia menangis.
"Maaf Pak Rey, saya nggak sanggup melihat apa isi surat wasiat tersebut. Jadi saya minta tolong Pak Rey sajalah yang membacanya, dan kita semua disini yang mendengarkannya," ucap Aulia sambil memberikan kedua map tadi.
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
"Makasih Pak."
Reynaldi menerima map yang diberikan Aulia kembali ke tangannya. Perlahan dia meletakan salah satu map diatas meja, dan map yang satunya masih dia pegang. Rey kemudian membuka map tersebut dan mulai membacanya.
"SAYA FATIH BRAMANTYO, DENGAN SADAR DAN TANPA PAKSAAN MEMBUAT SURAT WASIAT BUAT AULIA (YANG KELAK MENJADI ISTRI SAYA) JIKA SAYA NANTI SUDAH TIDAK ADA DI DUNIA INI, MAKA SAYA MENGIJINKAN DIA UNTUK KEMBALI KEPADA TUNANGANNYA. SOAL SURAT WASIAT YANG DIBUAT ALMARHUM AYAH SAYA, DIA BISA MENGGUNAKAN SEMUA HARTA YANG ADA DI BANK UNTUK MEMBANTU ANAK-ANAK JALANAN. DEMIKIAN SURAT WASIAT SAYA BUAT DENGAN SADAR DAN TANPA PAKSAAN DARI PIHAK MANAPUN. BUAT AULIA, TERIMA KASIH TELAH MENEMANIKU WALAU HANYA SESAAT. TERIMA KASIH."
Aulia meneteskan air matanya saat mendengar Rey membacakan surat wasiat itu. Semua yang ada di ruang tamu itu ikut terharu setelah mendengar isi surat wasiat itu.
"Bu Aulia, kalau nanti mau ke bank buat urus apa yang ditinggalkan suami Ibu, saya akan temani dan membantu menguruskan semuanya," ucap Rey.
"Iya Pak Rey, saya nggak mengerti apa-apa. Jadi saya masih perlu bantuan Pak Rey," jawab Aulia.
"Baiklah Bu, nanti pasti akan saya bantu sampai selesai."
"Terima kasih Pak Rey."
"Sama-sama Bu."
Akhirnya surat wasiat Fatih berisi pernyataan kalau Aulia boleh kembali sama Bayu setelah dirinya sudah tidak ada di dunia ini.
Hati Fatih begitu mulia karena dia masih mengijinkan istrinya kembali ke tunangannya. Dia sangat menjaga kehormatan Aulia, dia rela untuk tidak menyentuh istrinya.
"Mas Fatih, makasih atas keikhlasan serta kebaikan kamu. Semoga kamu tenang disana dan ditempatkan disisi Allah," ucap Aulia dalam hati.
----------------------------
__ADS_1
Next...