MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 20 (Marah besar)


__ADS_3

Dinda sudah tidak bisa menjawab karena kini dia ketakutan dan menangis sekeras-kerasnya. Sedangkan kedua orang tua mereka kawatir dengan apa yang dilakukan Bayu.


Tak lama kemudian Bayu menurunkan emosinya dan kini beralih duduk di tepi tempat tidur dan menutup wajahnya sambil menunduk. Bahunya tiba-tiba bergerak dengan cepat, dan ternyata dia menangis.


Dinda bangun dari tempat tidurnya dan kini duduk disamping Bayu. Dinda mencoba berbicara demgan menyentuh lengan Bayu, tapi dengan kencang Bayu menepisnya.


"Aku kecewa banget sama kamu, Din. Di depan makam Dini, kamu pernah bilang kalau kamu nggak akan egois untuk memperjuangkan hatimu. Tapi, sekarang apa? Kamu malah membuat orang tua kamu malu. Apa kamu nggak memikirkan perasaan Ayah dan Ibu kamu.!" ucap Bayu sambil bangkit dari duduknya.


Kemudian dia membuka kunci pintu kamar lalu membukanya. Sementara didepan pintu sudah berdiri kedua orang tua mereka. Bayu wajahnya masih merah karena habis nangis campur marah.


"Bay, kamu apakan Dinda.?" tanya Pak Ridwan.


"Tanya saja Dinda, dia sudah Bayu apakan.!" jawab Bayu sambil melangkah keluar kamar lalu duduk di ruang tamu.


Bu Santy mendekati Dinda kemudian dia memegang bahu gadis itu.


"Din, kamu kenapa? Apa Bayu menyakitimu?" tanya Bu Santy.


"Tidak Tante, Dinda nggak diapa-apain kok." jawab Dinda.


"Sudah, kamu nggak usah nangis lagi. Kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Soal Bayu nanti Tante yang bicara. Ayo kita keluar.!" ajak Bu Santy.


Akhirnya mereka kembali kumpul di ruang tamu lagi. Bayu lebih banyak diam dan kini yang bicara adalah para orang tua.


"Pak Ridwan, maafkan anak saya ya. Saya nggak tahu sama sekali kalau Dinda juga mencintai Bayu." ucap Pak Arman.


"Iya, nggak apa-apa Pak. Saya maklum itu. Yang jelas sekarang kita kembali menyelsaikan masalah ini." jawab Pak Ridwan.


"Iya, Pak. Saya jadi malu sama keluarga Pak Ridwan." ucap Bu Heny.


"Sudahlah Bu, jangan dipikirkan lagi." jawab Pak Ridwan.

__ADS_1


"Maaf, soal perjodohan saya dan Dinda mohon dibatalkan saja. Saya nggak bisa.!" sahut Bayu.


Semuanya kaget dan nggak menyangka kalau Bayu akan membatalkannya, tapi mau gimana lagi karena memang Bayu nggak cinta sama Dinda.


"Bayu, coba dipikir dulu. Mungkin kamu masih emosi." ucap Pak Ridwan.


"Maaf, Pa. Bayu kan dari awal sudah bilang kalau Bayu nggak cinta sama Dinda. Berhubung Dinda bilang kalau dia terus ditekan sama orang tuanya, dan Bayu juga nggak enak sama Ayah dan Ibu, makanya Bayu coba untuk membuka hati dan belajar menerima perjodohan ini. Tapi, setelah Bayu mendengar dari Ayah dan Ibu kalau mereka nggak memaksa soal perjodohan ini, dan kebohongan Dinda maka Bayu putuskan untuk menolak perjodohan ini. Maaf Yah, Bu.!" jelas Bayu.


"Iya, Nak Bayu. Ayah maklumi kalau kamu kecewa. Tapi, kami harap kamu masih menganggap kami orang tuamu meskipun nggak jadi menantu kami." ucap Pak Arman.


"Itu memang harus, Yah. Bayu akan tetap menganggap Ayah dan Ibu seperti orang tua Bayu sendiri." jawab Bayu.


"Baiklah, kalau memang sudah tidak ada yang dibahas lagi, kita mohon pamit dulu ya." ucap Bu Santy.


"Oh iya Bu, Pak. Sekali lagi kami minta maaf ya. Kami jadi nggak enak karena Ibu dan Bapak sudah jauh-jauh kesini." tukas Bu Heny.


"Oh tidak apa-apa, Bu. Kita memnag kan harus tetap menjaga silahturahmi." jawab Bu Santy.


"Bayu pamit pulang dulu, Yah, Bu. Maaf Bayu belum bisa memenuhi permintaan kalian." ucap Bayu.


Akhirnya mereka pulang meninggalkan kediaman rumah Pak Arman. Dan kini tinggalah Bu Heny dan Pak Arman serta Dinda yang ada diruang tamu.


Seketika Pak Arman langsung menoleh kearah Dinda yang masih duduk dengan menundukan wajahnya. Wajah Pak Arman langsung berubah merah karena dari tadi dia menahan marah dan malu dihadapan kedua orang tua Bayu.


"Dinda,!" seru Pak Arman.


"Iya, Yah." jawabnya.


"Lihat ini akibat ulah kamu, kenapa sih kamu kalau mau memutuskan sesuatu tidak pakai dipikir matang-matang. Kalau sudah begini kamu juga kan yang rugi. Sudah nggak dapat Bayu dan kini dia bakal benci sama kamu!" ucap Pak Arman dengan nada tinggi.


"Maafin Dinda, Yah" jawabnya sambil menangis.

__ADS_1


"Percuma kamu menangis. Sudah nggak akan membuat Bayu merubah keputusannya. Kamu dapat pikiran dari mana kalau Ayah dan Ibu kamu ini memaksa sehingga kamu merasa tertekan soal perjodohan ini. Yang Ayah nggak habis pikir, kenapa kamu sampai ke rumah Bayu untuk bilang kalau kamu tertekan. Dengan kata lain kamu itu kayak merendahkan diri kamu sendiri untuk minta dinikahi Bayu, tahu kamu,!" bentak Pak Arman.


Dinda menamgis tersedu-sedu sampai sesenggukan. Bu Heny nggak tega melihat anaknya yang menangis seperti itu, lalu dia mendekati Dinda dan memeluknya.


"Din, kenapa sih kamu sampai melakukan segala cara untuk bisa menikah dengan Bayu.?" tanya Bu Heny.


"Iya, ada apa sebenarnya kamu ini, nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa. Katakan sama Ayah ada apa.!" suara Pak Arman kembali meninggi.


Dinda semakin keras menangisnya, dia memeluk Ibunya dengan erat dan semakin menjadi-jadi. Pak Arman nggak telaten dengan anaknya yang dari tadi ditanyain hanya menangis saja.


Melihat Dinda nggak menjawab akhirnya Pak Arman melayangkan tangannya ke pipi anaknya itu.


"Plaaaakk.,!!"


"Ayah,!" seru Bu Heny.


Dinda semakin menangis dan memeluk Ibunya kembali. Kini dia juga nggak kuat kalau didesak seperti ini. Perlahan Dinda membalikan badannya kini menghadap Ayahnya yang masih berdiri.


"Maafkan Dinda Yah, kenapa Dinda sampai melakukan ini supaya Mas Bayu menikahi Dinda. Semua itu Dinda lakukan karena saat ini Dinda lagi hamil,!" ucapan yang keluar dari mulut Dinda seolah menampar wajah Pak Arman dan Bu Heny.


Pak Arman langsung duduk di kursi dengan pandangan kosong kedepan. Bu Heny melongo dengan menatap wajah anaknya tanpa kedip. Dia nggak habis pikir kenapa ini bisa terjadi.


"Maafkan Dinda Bu, Yah. Dinda nggak sengaja melakukan ini, Dinda saat itu lagi nggak sadar karena ada yang memasukan obat dalam minuman Dinda saat acara ulang tahun Rani. Dan kejadiannya begitu cepat." jelas Dinda.


"Siapa Ayah bayi dalam kandunganmu itu.?" tanya Pak Arman.


"Dia temannya Rani, Dinda juga baru kenal saat acara itu. Kami berdua sama-sama nggak sadar. Maafkan Dinda Yah, Bu.?" jawab Dinda.


"Sekarang dimana laki-laki itu.?" tanya Pak Arman.


"Dia sudah balik ke Jakarta, karena dia sendiri juga nggak tahu kalau Dinda mengandung. Setelah acara ulang tahun itu, dua hari kemudian dia balik pulang ke Jakarta. Hiks..hiks..!" jawab Dinda sambil menangis.

__ADS_1


-----------------------------


Next...


__ADS_2