MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 67 (Sakit)


__ADS_3

Seketika Windy menoleh ketika Bu Sumi teriak memanggil Bayu. Windy langsung masuk ke dalam kamar menghampiri Bayu yang ternyata sudah pingsan.


"Tenang saja Bu, dokternya sudah saya hubungi. Sebentar lagi datang," ucap Windy.


"Iya Non."


"Sebaiknya Bu Sumi kompres dulu untuk menurunkan panasnya sambil menunggu dokter datang," titah Windy.


"Baik Non. Tolong tungguin Den Bayu dulu."


Windy memegang kaki Bayu dan ternyata memang panas. Dia kawatir kalau tidak langsung di tangani nantinya bisa fatal.


Tak kemudian terdengar ada yang mengetuk pintu. Mungkin dokternya sudah datang. Bu Sumi datang sambil membawa kompres buat Bayu.


Windy keluar untuk membuka pintunya dna melihat siapa yang datang. Dan ternyata memang benar dokter yang ditelponnya tadi.


Mereka kemudian masuk ke kamar untuk melihat Bayu. Setelah itu dokter mulai memeriksa Bayu. Bu Sumi dan Windy hanya menunggu di pinggir pintu.


Sekitar sepuluh sampai lima belas menit kemudian dokter selesai memeriksa Bayu. Dokter menuliskan resep obat untuk segera ditebus di apotik.


"Mbak Windy, ini resepnya tolong segera ditebus di apotik, ya,?" ucap dokter itu.


"Baik dok. Oh iya, Pak Bayu sebenarnya sakit apa kok sampai pingsan,?" ucap Windy.


"Pak Bayu ini hanya kecapek'an saja. Selain itu juga memang musimnya kan lagi seperti ini. Jadi demam mudah menyerang orang. Oh iya, bilang sama Pak Bayu jangan banyak fikiran supaya imunya tetap fit," jelas dokter.


"Baik dok, nanti saya bilangin ke Pak Bayu," jawab Windy.


"Kalau begitu saya permisi dulu, sebentar lagi Pak Bayu pasti siuman," ucap dokter.


"Terima kasih dok," ucap Windy.


"Iya dok, terima kasih juga," kini Bu Sumi ikut menyaut.


Windy mengantarkan doktwr itu ke depan, sedangkan Bu Sumi mendekati Bayu yang masih diatas tempat tidur. Tak lama kemudian Bayu menggerakan tangannya lalu membuka matanya.


"Bu Sumi, ada apa dengan saya,?" ucapnya pelan.

__ADS_1


"Sssttt, sudah Den Bayu jangan banyak bicara dulu. Istirahat saja, ya.?"


"Tapi saya tadi pingsan Bu. Lalu apa saya kenapa-napa,?" tanyanya cemas.


"Den Bayu ada masalah? Ibu sarankan jangan terlalu dipikirkan, nanti akan membuat kesehatan Den Bayu terganggu," jawab Bu Sumi sembari memegang kaki Bayu.


Tiba-tiba Bayu menangis sambil memandangi Bu Sumi. Sedangkan Bu Sumi kaget karena Bayu tiba-tiba menangis.


"Loh! Den Bayu kenapa menangis, sudahlah jangan sedih, ya Den,?" ucap Bu Sumi kawatir.


"Bu, saya menyesal. Dan saya telah melakukan hal yang membuat saya tidak tenang," jawabnya sambil terisak.


"Sudahlah Den, Ibu mengerti Den Bayu ada masalah. Tapi kalaj bisa jangan sampai mengganggu kesehatan Den Bayu, ya? Ibu nggak mau kalau Den Bayu sakit," jawab Bu Sumi dengan mata yang kini mulai basah.


"Bu, saya kayaknya nggak jadi menikah dengan Aulia, hubungan kami berdua sudah terhalang oleh sebuah ikatan suci pernikahan, huaaaa..," ucap Bayu lalu pecahlah tangisnya.


Dia nggak malu kalau harus menangis di depan Bu Sumi. Dia sudah menganggap Bu Sumi seperti Ibunya sendiri. Sedangkan wajah Bu Sumi tegang dan kaget karena mendengar penuturan Bayu barusan.


Lalu di luar kamar Windy mendemgar semua pembicaraan Bayu dan Bu Sumi. Dia nggak berani masuk karena takut mengganggu mereka. Kemudian dia duduk di ruang tengah sambil menunggu keadaan kembali tenang.


"Den, kok bisa Den Bayu bilang begitu. Apa Mbak Aulia jadi menikah dengan mantan tunangannya itu,?" tanya Bu Sumi.


"Apa? kenapa Den Bayu mengijinkannya? Apa tidak ada jalan lain lagi,?" tanya Bu Sumi.


"Saya bingung Bu, sedangkan saya juga punya hati. Fatih mantan tunangan Aulia yang kini menjadi suaminya itu kesehatannya sudah nggak ada harapan. Penyakitnya membuat dia semakin memburuk. Ya seperti yang sudah saya ceritakan sama Ibu kalau ada surat wasiat yang harus dijalankan oleh Fatih dan Aulia," jelas Bayu.


"Den Bayu nggak usah kawatir, Ibu yakin kalau cinta Mbak Aulia tetap akan buat Den Bayu. Sabar dulu ya Den, pasti dibalik ini semua ada hikmah yang dapat kita petik," tutur Bu Sumi.


"Iya Bu, saya juga sudah dibilangin pengacaranya Fatih seperti itu. Tapi, saya juga nggak tahu maksudnya apa," jawab Bayu.


"Ya dijalani saja, ya Den. Kalau Den Bayu cemburu itu wajar, tapi kalau boleh Ibu ingatkan sekali lagi, orang sakit seperti Den Fatih tidak bisa melakukan apa-apa, apalagi melakukan tugas sebagai suami. Maaf kalau Ibu bicara agak pribadi, tapi itu benar adanya, kan,?" ucap Bu Sumi sambil tersenyum.


"Iya juga sih Bu, saya juga sadar akan hal itu. Tapi, kalau ingat bahwa sekarang wanita yang saya cintai itu menjadi istri orang, hati ini rasanya sakit sekali. Saya pernah gagal menikah karena tunangan saya meninggal. Dan sekarang saya juga gagal menikah lantaran tunangan saya balik sama mantannya karena suatu hal. Allah memang senang menguji saya, Bu," jelas Bayu dengan terisak.


"Ssstt, jangan sedih lagi. Itu tandanya Den Bayu adalah orang pilihan dimata Allah. Karena Allah senang menguji Den Bayu. Semakin kuat Allah menguji Den Bayu, semakin tinggi derajad Den Bayu dimataNYA," jawab Bu Sumi.


"Amin Ya Rabb., Semoga ya Bu,?" jawabnya lirih.

__ADS_1


Bu Sumi menganggukan kepalanya sambil melempar senyum kearah laki-laki muda yang kini terbaring lemah diatas tempat tidurnya.


Kemudian Bu Sumi menoleh kearah pintu lalu kepalanya melongok keluar seperti mencari sesuatu. Bayu heran ada apa dengan Bu Sumi.


"Ibu mencari siapa,?" tanya Bayu.


"Non Windy kok lama banget ya antar dokter tadi," jawab Bu Sumi.


"Bu Windy disini,?" sahut Bayu.


"Iya Den, tadi Ibu bingung mau minta tolong sama siapa saat Den Bayu nggak keluar kamar. Akhirnya saya panggil Non Windy," jawab Bu Sumi.


"Apa dia masih diluar, Bu.?"


"Sebentar Den, biar saya yang lihat keluar."


Bu Sumi beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar kamar. Dia kaget karena mendapati Windy tengah duduk sendiri di ruang tengah.


"Non Windy kenapa nggak masuk. Tadinya saya pikir masih sama dokter tadi."


"Nggak apa Bu, saya takut ganggu kalian. Soalnya tadi saya lihat Bu Sumi dan Pak Bayu terlibat pembicaraan serius. Jadi saya urungkan untuk masuk," jawab Windy.


"Oh iya, memang Den Bayu lagi ada masalah sedikit. Tapi sekarang dia sudah nggak apa-apa kok. Ayo kita masuk untuk melihatnya," ajak Bu Sumi.


Mereka akhirnya menuju kamar Bayu. Setelah di dalam kamar, Bayu langsung mengulas senyum sama Windy.


"Makasih Bu Windy, Anda telah membantu saya," ucapnya pelan.


"Sudahlah Pak nggak apa-apa, saya senang kok melakukan hal ini. Tapi, sekarang Pak Bayu sudah nggak apa-apa, kan?" tanya Windy.


"InshaAllah sudah mendingan. Panasnya juga sudah turun. Kalau gitu besok saya masuk kerja saja, kan sudah sembuh," jawab Bayu.


"Jangan dulu Pak, nanti saya yang akan bilang sama Pak Adrian. Pak Bayu istirahat saja sampai pulih bener. Kesehatan Pak Bayu lebih penting dari segalanya," jawab Windy dengan menatap Bayu dengan lekat.


Bu Sumi senang melihat Windy dan Bayu menjadi akrab. Apalagi Windy menatap Bayu dengan tatapan yang begitu lembut.


------------------------------

__ADS_1


Next..


__ADS_2