MENGENANGMU

MENGENANGMU
MEMGENANGMU Part : 36 (Aulia)


__ADS_3

"Apa maksud perkataan Mbak Desi dengan hati-hati? Apa Mbak Dinda akan menjahati saya,?" tanya Aulia.


"Mmm, aku kurang faham akan hal itu. Cuma setidaknya kamu harus berhati-hati dengan Dinda."


"Kenapa Mbak Desi memberitahu saya tentang itu, bukannya Mbak Desi temannya Mbak Dinda.?"


"Aku memang temannya, tapi aku nggak sependapat dengannya jika dia terus-menerus memojokanmu."


"Makasih Mbak karena telah memperingatkan saya tentang Mbak Dinda. Setidaknya saya kan lebih berhati-hati sama dia," jawab Aulia pelan.


"Dinda itu sebenarnya baik, cuma tingkah lakunya itu sedikit berani, kalau Dini kan cenderung pendiem."


"Mbak Desi, saya boleh tanya sesuatu, nggak.?"


"Iya tanya apa.?"


"Mbak Desi tahu siapa Ayah bayi yang ada dalam kandungan Mbak Dinda,?" tanya Aulia.


Desi tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Aulia. Kemudian dia menganggukan kepalanya, "Iya, aku tahu."


"Dimana dia sekarang,?" tanya Aulia.


"Dia sebenarnya tidak balik ke Jakarta, dia masih ada di Surabaya. Tapi, temanku yang saat itu ulang tahun bilang sama Dinda bahwa pria itu sudah balik karena dia juga nggak mau di kejar-kejar pertanyaan dari Dinda," jelas Desi.


"Jadi pria itu masih di sini,?" tanya Aulia kaget.


"Iya, sebenarnya di bukan asli Jakarta tapi asli Surabaya. Saat temanku bilang bahwa Dinda hamil, mereka langsung sepakat bilang bahwa pria itu langsung balik ke Jakarta. Aku juga sebenarnya kasihan sama Dinda, cuma aku nggak bisa berbuat apa-apa," jelas Desi.


"Ya ampun, kok tega sih laki-laki itu."


"Iya, Lia. Aku juga nggak tahu apa maksudnya mereka, apalagi pas kasih obat tidur dalam minuman Dinda saat itu," jawab Desi.


"Mbak, apa Mbak Dinda dijebak,?" tanya Aulia.


"Aku nggak faham, Lia. Semisal mereka niat menjebak atas dasar apa? Sedangkan Dinda teman kita."


"Mbak Desi, apa laki-laki itu juga kenal dengan Mbak Dinda.?"


"Enggak, dia temannya yang uang tahun."


"Kita nggak bisa nuntut apa-apa, ya. Karena kita nggak punya bukti."


"Iya juga sih Mbak, hal semacam itu sulit jika mau menuntut."


Saat mereka berdua lagi ngobrol-ngobrol, tiba-tiba Bayu mendekati Aulia dan Desi. Lalu dia ikut gabung ngobrol-ngobrolnya.


"Sayang, kamu sudah makan,?" tanya Bayu.


"Sudah, Mas."


"Oh iya Mas Bayu, ya. Kenalin saya Desi temannya Dinda," ucap Desi.


"Oh iya," jawab Bayu.


"Mas, saya ini tadi sudah banyak ngobrol-ngobrol dengan Mbak Aulia. Mungkin nanti Mbak Aulia sendiri yang cerita sama Mas Bayu," sahut Desi.

__ADS_1


"Maaf, cerita apa ya,?" jawab Bayu dengan menautkan alisnya.


"Biar Mbak Aulia saja yang cerita. Saya kesana dulu, ya,?" ucapnya sambil meninggalkan Bayu dan Aulia.


Kini Bayu berdiri disamping Aulia. Lalu dia mengajak Aulia duduk agak menjauh dari mereka. Kini hanya berdua saja mereka duduk di sebuah kursi dekat samping rumah.


"Lia, apa yang Desi bilang sama kamu,?" tanya Bayu.


"Tadinya sih bilang kalau aku disuruh hati-hati sama Mbak Dinda, lalu dia berbicara panjang lebar soal Mbak Dinda," jawab Aulia sambil menundukan kepalanya.


"Kamu nggak usah takut, katakan saja sama aku.!"


"Mbak Desi bilang kalau aku harus waspada sama Mbak dinda. Karena Mbak Dinda itu sebenarnya terobsesi sama kamu, makanya dia selalu berusaha menggangguku dengan perkataan-perkataan yang membuatku semppat goyah sama kamu," jawab Aulia.


"Sayang, jangan hiraukan Dinda. Dia itu hanya orang yang iri dengan kita. Yang penting kita tetap saling percaya," ucap Bayu sambil memegang tangan Aulia.


Aulia kemudian tersenyum lalu membalas genggaman tangan Bayu. Kemudian dia mencium punggung tangan Bayu.


"Maafkan Aulia, ya Mas. Karena sempat tidak percaya sama kamu," ucap Aulia.


"Sayang, kita ini memang harus saling percaya supaya hubungan kita tetap kuat," jawab Bayu.


"Baiklah Mas, mulai hari ini aku tidak akan mempercayai omongan orang yang akan memperburuk hubungan kita."


"Bagus, dan aku memang benar-benar serius sama kamu, dan ingin membangun rumah tangga sama kamu," jawab Bayu.


"Iya Mas, aku juga mau."


"Kamulah yang aku percaya untuk melahirkan anak-anakku kelak," ucap Bayu sambil menatap mata Aulia.


.


.


.


Sekitar jam dua siang, acaranya pun selesai. Semua tamu perlahan pamitan pulang dan kini tinggalah keluarga dekat saja.


"Pak Anwar, kami mohon pamit dulu. Saya sebagai orang tua Irwan, mohon diterima anak saya seperti anak Bapak sendiri dan nitip-nitip kalau dia ada di sini," ucap Pak Beni.


"Iya Pak Beni, saya akan anggap Irwan seperti anak saya sendiri," jawab Pak Anwar.


"Baiklah kalau gitu, kami semua pulang dulu. Dan kamu Irwan, baik-baik di sini dan jaga istri kamu serta anak yang ada dalam kandungannya itu," ucap Pak Beni.


"Baik, Yah. Aku akan jaga Dinda dan anaknya seperti anakku sendiri," jawab Irwan.


Akhirnya semua pamitan pulang semua dan Dinda pun menyalami orang tua Irwan dan Bayu. Setelah itu dia kembali ke dalam.


Dalam perjalanan pulang, Aulia banyak diam begitupun Bayu, dia fokus dengan pandangan kedepan untuk mengemudikan mobilnya.


Aulia sempat melirik kearah Bayu, kenapa dia banyak diam dan tidak bicara sama sekali. Begitu juga dengan Bayu dia menoleh kearah Aulia.


Mata mereka bersirobok nggak sengaja dan seketika Aulia mengalihkan pandangannya kearah lain. Bayu yang memergoki Aulia jadi salah tingkah langsung tersenyum.


"Kenapa tersenyum,?" ucap Aulia tiba-tiba dengan wajah yang merah nahan malu.

__ADS_1


"Habis kamu lucu sih, Yang," jawab Bayu.


"Emang aku pelawak kok kamu bilang lucu," jawab Aulia nggak mau kalah.


"Kamu itu lucu kalau kepergok lagi ngeliatin aku. Baru tahu ya kalau calon suamimu ini memang ganteng, hahaha," ucapnya sombong.


"Ish, kepedean amat. Amat saja nggak pernah pede,!" jawab Aulia.


"Ehem..,!" seru Gani dari bangku belakang.


Sontak Aulia dan Bayu langsung saling pandang dan menahan tawa. Seketika mereka berdua langsung tertawa lebar.


"Maafin kita ya, Gan. Kami lupa kalau di belakang ada penghuninya," ucap Bayu.


"Habis kalian berdua lagi dimabuk asmara, jadi yang lainnya ngontrak,!" sahut Gani.


"Maafin Kak Aulia Gan, maklum kita kan habis melihat ada yang menikah, jadi baper sampai lupa kalau di belakang ada kamu," sahut Aulia.


"Iya percaya, kan kalian mau menikah juga. Gani akan mendukung kalian sampai halal."


"Amin," sahut keduanya.


.


.


.


Saat sore hari, tepatnya di rumah Bayu. Mereka keluarga kumpul termasuk orang tua Irwan. Aulia juga masih disitu karena bisa istirahat.


"Mbak Yu, kapan Bayu menikahnya,?" tanya Bu Rina.


"Mungkin tahun depan, karena Ayahnya Aulia barusan meninggal," jawab Bu Santy.


"Oh iya, kan harus menunggu satu tahun."


"Bayu, Tante mau tanya. Dinda itu kok nggak sikapnya biasa kalau sama Irwan. Sebenarnya dia cinta nggak sih sama Irwan,?" tanya Tantenya.


"Ya mungkin masih awal Tante, dulu kan mereka sempat dekat. Ya sambil berjalan pasti mereka bisa akrab lagi," jawab Bayu.


"Iya juga sih, lagian masih awal pernikahan. Awalnya Tante ragu kalau Irwan menikahi Dinda yang hamil, takutnya suatu saat nanti kalau Ayah kandungnya tahu dan mengambil anak itu gimana,?" ucap Bu Rina.


"Rin, kamu kok mikirnya sejauh itu. Nggak bakal bisalah, kan dia nggak ada bukti apa-apa secara tertulis," jawab Pak Ridwan.


"Ya aku takut saja, Mas. Namanya perasaan seorang Ibu."


"Iya Rina ini mikirnya jangan terlalu jauh, dia nggak bakalan muncul, kok," sahut Bu Santy.


"Enak kamu Mas, calon menantu kamu anaknya baik, dan sopan," ucap Bu Rina.


"Ma, janan gitulah. Mama kan belum mengenal Dinda itu gimana. Jadi, nggak usah bilang gitu lah,!" sahut Pak Beni.


Bu Rina langsung cemberut saat suaminya komplin karena dia terlalu memuji Aulia. Kini Aulia datang dengan membawa minuman dan camilan ke ruang tengah. Bu Rina semakin senang dengan sikap Aulia yang rajin dan sopan.


-----------------------------

__ADS_1


Next....


__ADS_2