
Akhirnya setelah ngobrol sama Panji di cafe, Bayu bisa membantu Irwan mengatasi kegelisahannya soal Zahra. Panji sudah janji sama Bayu nggak bakal usik lagi hidup Dinda.
Malam harinya di dalam dia tersenyum sambil memandang langit dari balkon kamarnya. Mungkin selama tiga hari di Surabaya ini, setidaknya dia sudah banyak tahu permasalahan dan membantu orang-orang di sekelilingnya.
Soal Aulia dia tidak berani terlalu dalam ikut campur. Kini dia mencoba mengirim pesan kepada Aulia.
"Aulia.,"
Setelah dikirim masih belum ada balasan. Mungkin saja Aulia sudah tidur. Sekitar lima menit Bayu menunggu balasan dari Aulia. Akhirnya dia putus asa dan meletakan ponselnya di atas meja kemudian dia menuju tempat tidurnya.
"Triiing..triiing..," suara notifikasi ponselnya terdengar.
Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk tidur dan kini dia dengan semangat membuka ponselnya. Dan ternyata benar itu balasan dari Aulia.
"Iya Mas, ada apa.?"
"Nggak apa-apa, cuma mau kabari saja kalau besok aku sudah balik Semarang."
"Oh iya, kok cepat banget di Surabayanya. Pasti kamu sibuk, ya.?"
"Iya, aku hanya dapat cuti tiga hari dari kantor. Kamu kok belum tidur.?"
"Ini barusan selesai sholat isya. Mau tidur ternyata ada pesan dari kamu."
"Oh., jadi kamu tadi lagi sholat. Maaf aku sudah ganggu."
"Nggak apa-apa, Mas. Santai aja."
"Ya sudah kalau gitu, kamu istirahat saja. Aku juga mau tidur karena besok habis subuh aku berangkat."
"Baiklah Mas, hati-hati ya. Jaga kesehatan selalu."
"Makasih, Lia. Kamu juga jaga kesehatan."
Bayu kembali menutup ponselnya dan kini dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia tidak langsung terpejam karena masih belum bisa tidur.
Sekitar satu jam Bayu gelimpungan karena tidak bisa tidur, dan akhirnya Bayu pun tertidur pulas.
(***)
__ADS_1
SEMARANG
Bayu sampai Semarang lebih cepat dari perkiraan. Dia langsung ke kantor meskipun agak siangan, karena sebelumnya dia sudah dapat dispensasi.
"Siang Pak Bayu," sapa salah satu karyawan.
"Siang juga."
Bayu masih melangkah menuju ruangannya seperti biasa. Dan akhirnya dia sampai di kursi kesayangannya di kantor.
"Aaaah., akhirnya aku duduk lagi di kursi ini setelah tiga hari aku nggak masuk kerja," ucapnya pelan.
Kemudian dia kembali beraktivitas dengan membuka laptopnya. Berkas-berkas yang harus dia tanda tangani sudah menumpuk di meja kerjanya.
"Tok..tok...,!" Tiba-tiba pintu ruangannya ada yang mengetuk.
"Silakan masuk,!" jawab Bayu dari dalam.
Pintu pun terbuka dan ternyata Windy masuk dengan membawa kue ulang tahun. Bayu kaget dan nggak ingat kalau hari ini dia ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Pak Bayu. Semoga panjang umur, banyak rejeki dan sehat selalu," ucap Windy dengan tetap membawa kue tersebut.
Bayu menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena dia merasa terkejut. Tak lama kemudian beberapa staf yang dibawah naungan divisinya tiba-tiba muncul.
Justru malah orang lain yang mengucapkannya. Bayu kemudian berdiri dan mendekati Windy yang sedang membawa kue ulang tahun.
"Terima kasih, ya Bu Windy. Saya saja sampai lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun saya. Sekali lagi buat yang lainnya juga, saya ucapkan terima kasih banyak," ucap Bayu di depan anak buahnya.
"Iya sama-sama Pak, saya juga sebenarnya nggak tahu kalau hari ini Bapak ulang tahun. Pas saya ke HRD, Bu Tiwi memberitahu saya kalau hari ini Pak Bayu ulang tahun. Akhirnya saya dan teman-teman punya rencana bikin kejutan ini tadi," jelas Windy.
"Makasih ya Bu, dan kalian semua. Siang ini kalian semua ke kantin untuk makan siang biar saya yang bayar," ucap Bayu.
Serentak semuanya tersenyum senang dan bersorak kegirangan. Bu Windy hanya diam dan tersenyum melihat reaksi semua teman-temannya itu. Bayu kemudian menatap Windy yang tengah berdiri di sampingnya.
Yang lainnya perlahan satu persatu menyalami Bayu untuk mengucapkan selamat. Demikian juga dengan Windy dia juga ikut menyalami Bayu dan perlahan meninggalkan ruangan Bayu.
"Tunggu Bu Windy,!" seru Bayu.
"Iya Pak, ada apa.?"
__ADS_1
"Tunggu sebentar, temani saya makan kue ini. Terus siapa yang menghabiskannya," ucap Bayu sambil menatap Windy dengan senyumnya yang manis.
"Iisssh, Pak Bayu kalau senyum gitu ternyata manis juga, ya. Ampun dech hati ini kenapa berdetak kencang sekali, Asuh apaan sih kamu Win. Jangan halu kamu," ucap Windy dalam hati.
Bayu masih menatap perempuan yang mirip sekali dengan Almarhum Dini. Dalam hati Bayu saat ini dia seolah berhadapan dengan Dini yang sudah meninggalkannya.
"Bu Windy, ayo kenapa diam saja. Kemarilah temani saya makan kue ini," ucap Bayu sambil mengiris kue tersebut.
Blackforest ukuran sedang kini sudah ada di atas mejanya. Jika mau di bagikan ke stafnya juga nggak bakalan cukup, makanya Bayu berniat memakannya dengan Windy saja.
Perlahan kue irisan pertama itu diberikan kepada Windy. Perempuan yang kini menjadi stafnya hanya terdiam sambil tangannya menerima pemberian kue dari Bayu.
"Kok saya, Pak."
"Terus mau saya berikan ke siapa kalau bukan Bu Windy, sedangkan disini hanya ada kita berdua saja," jawab Bayu.
Windy tidak bisa menjawab. Dia hanya diam saja karena benar apa yang dikatakan Bayu kalau di ruangan ini hanya tinggal mereka berdua.
"Sudahlah terima saja, nanti kuenya keburu nggak enak," ucap Bayu asal.
Akhirnya mereka berdua menikmati kue ulang tahun itu hanya berdua saja. Sesekali mereka saling tatap hanya untuk memastikan kalau mereka berdua sudah selesai makan kue tersebut.
"Oh iya Bu Windy, berhubung Anda nggak ikut ke kantin karena saya tahan disini untuk menemani makan kue, apa nanti pulang kantor nggak keberatan saya minta antarkan makan sotonya Pak Samad," tukas Bayu.
"Hah," Windy melotot karena dia nggak menyangka kalau diajak Bayu makan di luar.
Biasanya justru dialah yang mengajak duluan karena Bayu orangnya nggak begitu suka keluar nongkrong.
"Gimana Bu Windy? Apa Bu Windy bersedia menemani saya,?" tanya Bayu.
"Oh iya Pak. Saya akan antarkan Pak Bayu," jawab Windy dengan kikuk.
"Baiklah terima kasih. Kalau begitu saya harus melanjutkan pekerjaan saya biar nanti bisa pulang cepat untuk makan soto Pak Samad," jawab Bayu dengan muka yang jenaka.
Windy kemudian meninggalkan ruangan Bayu dan menuju ruangannya. Dia berjalan perlahan sambil memikurkan ajakan atasannya tersebut. Dia terus berjalan sampai-sampai dia tidak sadar kalau hampir menabrak seaeorang.
"Aduuh," teriak seseorang.
"Eh Maaf, saya nggak sengaja," sahut Windy sambil memandangi wajah orang itu tanpa kedip.
__ADS_1
----------------------------
Next...