
Satu bulan setelah meninggalnya Ayahnya, Aulia kini sering menghabiskan waktunya dengan membantu Ibunya di rumah. Sepulang kerja atau pun pas libur dia sellu membantu Ibunya di warung nasi. Dia jarang sekali jalan bareng sama Bayu sehingga membuat Bayu sedikit kesal.
Seperti halnya hari ini, sepulang kerja Bayu langsung ke toko buku dimana Aulia bekerja. Niatannya untuk menjemputnya dan diajak keluar. Bayu berencana menyerahkan toko sepatu dan sandalnya untuk diurus oleh Aulia, biar dia tidak bekerja di toko buku tersebut.
"Lia, sampai kapan kamu terus seperti ini. Setiap aku ajak jalan kamunya nggak mau alasan membantu Ibu kamu di warung. Aku nggak melarang kamu membantunya, tapi masak ikut aku aja sebentar saja nggak bisa," ucap Bayu sesampainya di toko buku itu.
"Mas Bayu, maaf sebelumnya. Bukannya aku nggak mau, tapi aku belum sempat. Kasihan Ibu sama adik, biasanya ada Ayah," jawabnya.
"Tapi sayang, aku juga perlu kamu perhatikan. Kita akan menikah loh,!" ucap Bayu dengan penekanan.
Aulia memegang tangannya Bayu lalu menepuknya, "Mas, aku juga sadar kalau kita memang akan menikah. Apa kita nggak menunggu setelah satu tahun, kan Ayah baru sebulan menikah.?"
"Apa, menunggu satu tahun,!" seru Bayu.
"Iya Mas. Katanya pamali kalau kita tetap menikah sebelum satu tahun. Nanti coba Mas Bayu tanyakan sama Mama Mas Bayu," jawab Aulia.
"Oke, anggap saja kita menikahnya tahun depan. Apa salah jika aku melakukan pendekatan yang lebih sama kamu biar lebih mengenal lagi," ucap Bayu.
"Mas, kadang aku merasa takut kalau membicarakan pernikahan," ucapnya lirih.
"Kenapa takut.?"
"Karena status kitalah yang membuat aku selalu digelayuti perasaan takut," jawabnya.
"Ya ampun Lia, aku sudah bicara berapa kali sih! Aku suka sama kamu tidak melihat status keluargamu. Aku murni menyukaimu karena memang kepribadianmu,!" seru Bayu.
"Tapi, kadang aku masi ragu, Mas. Aku merasa hanya sebagai pelarianmu setelah ditinggal mantan tunanganmu meninggal," ucapnya pelan dengan mata yang mulai berembun.
"Astaga Lia, kamu kok tega bicara seperti itu sama aku. Aku nggak menyangka kalau kamu masih meragukan aku. Lalu saat janji kamu di depan pusara Dini saat itu apa,?" ucap Bayu dengan tegas.
"Mas, aku percaya sama kamu. Tapi, kasih aku waktu. Toh, menikahnya juga masih lama, kan,?" jawab Aulia.
"Kamu jawab pertanyaanku. Apa kamu nggak cinta sama aku. Tolong, jawab dengan menatap mataku sekarang,!" ucap Bayu dengan mencengkeram kedua lengan Aulia.
Mata Aulia memerah nahan air matanya supaya nggak jatuh. Dia mengakui kalau sebenarnya dia juga menyukai Bayu, bahkan sejak pertama melihat Bayu bersama anak-anak jalanan itu dia sudah kagum dengan kepribadiannya. Tapi, dia masih memikirkan omongan Dinda.
Flashback on*
Saat Aulia dan Ibunya pergi ke sebuah komplek pertokoan untuk belanjan bahan buat kue. Kebetulan dia bertemu Dinda. Saat itu dia melihat Dinda dengan teman perempuannya yang baru saja keluar dari sebuah toko stationery. Sedangkan Aulia baru memarkirkan motir maticnya.
__ADS_1
Pertokoan itu memang banyak, ada apotik, toko buku sampai toko roti dan klinik. Aulia mau masuk ke sebuah toko bahan kue yang bersebelahan dengan toko roti tersebut.
Matanya nggak sengaja menangkap dua orang perempuan dengan memakai pakaian kerja lengkap dan tas kerjanya. Awalnya dia hendak menyapa tapi keburu Dinda sudah mendekatinya.
"Mbak Dinda dari mana,?" tanya Aulia basa basi.
"Oh ini, aku barusan beli alat-alat keperluan kantor. Kamu sendiri mau beli apa ke pertokoan ini.?"
"Saya mau cari bahan kue. Kebetulan di warung Ibu saya ada yang pesan kue buat acara," jawab Aulia.
"Oh, Ibu kamu jualan di warung.?"
"Iya Mbak, Ibu memang jualan nasi dan sedikit kue basah di warung. Jadi sekarang ada yang pesan banyak untuk kue basahnya."
"Mas Bayu nggak tahu kalau keseharian Ibu kamu jualan di warung seperti ini."
"Mas Bayu tahu semuanya kok Mbak. Bahkan dia pernah saya ajak ke warungnya Ibu."
"Oh gitu, heran dengan Mas Bayu. Kenapa kok mau bergaul dengan orang-orang seperti ini," gumamnya pelan.
Samar-samar Aulia mendengar apa yang barusan Dinda gumamkan. Dia nggak ambil pusing karena dia percaya sama Bayu.
"Mbak Dinda kenapa.?"
Ibunya Aulia sangat kaget mendengar omongan Dinda barusan. Dia nggak nyangka kalau anaknya hanya sebagai tempat pelarian saja.
"Maaf Mbak Dinda, kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi masuk dulu. Keburu hari semakin gelap," ucap Aulia.
"Oh silakan.!"
Flashback off*
"Lia., Lia,!" ucap Bayu.
"Iya Mas."
"Kamu belum jawab pertanyaanku, malah bengong."
"Pertanyaan apa Mas,?" jawab Aulia.
__ADS_1
"Kamu tatap mataku dan bilang kalau kamu nggak cinta sama aku.!"
Aulia langsung kaget, dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri soal ini. Dia juga sayang sama Bayu, tapi omongan Dinda saat itu bikin dia sedikit ragu.
"Sudahlah Mas, kenapa harus bertanya seperti itu. Aku yakin Mas Bayu pasti sudah tahu jawabannya," jawab Aulia mengelak.
"Baiklah untuk saat ini aku tidak akan memaksa kamu, aku akan beri kamu waktu untuk memikirkan semua ini. Cuma ingat Lia, sampai kapanpun aku akan memenuhi janjiku di depan Ayahmu dulu," jawab Bayu tegas.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya Mas. Salam sama Bu Santy daan Pak Ridwan. Maaf masih belum bisa mampir karena Ibu sudah menunggu," ucap Aulia sambil menyalakan mesin motornya.
"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan ya.?"
"Iya Mas. Assalamualaikum.," ucapnya.
"Waalaikumsalam.," jawab Bayu.
Setelah Aulia menghilang di tikungan jalan, kini Bayu juga menyalahkan mesin motornya dan menuju rumahnya. Nggak ada lima menit dia sampai rumahnya.
"Aaaaah,!" ucapnya kesal sambil mendaratkan tubuhnya di kursi.
Kini punggungnya disandarkan ke kepala kursi dan matanya menatap keatas. Dia masih nggak habis pikir dengan Aulia sekarang. Dia merasa kalau Aulia sedang menjauhinya.
"Bay, kamu kapan datangnya kok Mama nggak dengar suara motor kamu,?" tanya Bu Santy sambil tangannya memegang sapu.
"Eh Mama, Bayu baru saja sampai rumah."
"Kok kamu kelihatan kesal gitu, ada apa,?" kini Bu Santy ikut duduk di dekat putranya.
"Aulia, Ma."
"Kenapa Aulia, sayang.?"
"Bayu merasa kok sepertinya dia menghidar. Setiap aku ajak jalan jawabnya pasti bantu Ibunya di warung," ucapnya kesal.
"Ya mungkin memang dia lagi bantu Ibunya, Nak. Kan kamu tahu sendiri, Ayahnya baru saja meninggal, wajar saja kalau dia menggantikan Ayahnya untuk bantu Ibunya," jawab Bu Santy menghibur anaknya.
"Tapi, Ma. Masak dia bilang kalau aku deketin dia cuma sebagai pelarian saja. Dia tiba-tiba punya pikiran seperti itu. Padahal sebelumnya dia nggak pernah bilang seperti itu. Aku tahu Aulia anaknya nggak mungkin punya pikiran macem-macem," jelas Bayu.
"Iya juga sih, Mama juga merasa kalau Aulia itu memang anaknya baik. Atau jangan-jangan dia--" Bu Santy nggak berani melanjutkan omongannya.
__ADS_1
----------------------------
Next..