
Asistennya Fatih mendekati Fatih yang terbaring lemah namun masih bisa diajak komunikasi. Disampingnya ada laki-laki yang usianya sekitar tiga puluhan sambil membawa beberapa berkas.
"Bos, ini Mbak Aulia sudah datang."
Fatih menoleh kearah Aulia lalu tersenyum. Wajahnya sudah pucat tapi masih bisa bicara. Aulia kaget dengan keadaan Fatih yang semakin memburuk.
"Mas Fatih, ini aku Aulia, Mas," ucap Aulia sambil memegang kepala Fatih.
"Terima kasih, Lia. Kamu sudah datang," ucapnya lirih.
"Iya Mas. Sudahlah jangan banyak bicara dulu."
"Ibu sama Adik kamu mana.?"
"Ibu sama Adik ada di ruang tengah, apa perlu saya panggil,?" ucap Aulia.
"Iya, tolong panggilkan mereka."
Aulia keluar kamar lalu memanggil Ibu dan Adiknya untuk masuk. Tak lama kemudian masuklah mereka berdua ke dalam kamar Fatih yang begitu luas.
Disitu ada enam orang termasuk Fatih. Asistennya, pengacara, lalu Aulia dan keluarganya tadi. Setelah itu masuklah seorang lagi dengan pakaian rapi sambil membawa tas dan duduk di sebelah pengacara Fatih.
"Makasih Pak, karena Anda sudah menguruskan surat-surat saya, maafkan kalau mendadak sekali, karena memang ini urgent," ucap Fatih lemah.
"Iya nggak apa-apa Mas Fatih, saya maklumi karena memang keadaannya mendesak," jawab laki-laki itu.
Aulia semakin bingung ada apa ini sebenarnya. Dia memandangi Ibunya lalu mengangkat kedua bahunya.
"Lia, maaf kalau aku memanggilmu. Aku mohon kali ini kamu bisa menerima tawaranku yang tempo hari, ya? Aku mohon Lia,?" ucap Fatih sambil meneteskan air matanya.
"Tapi Mas, kok mendadak seperti ini, sih? Aku belum bisa menjawab apa-apa," jawab Aulia panik.
"Maaf Mbak Aulia, kenalkan saya Reynaldi kusuma. Saya pengacara pribadi Pak Fatih. Begini Mbak, setelah saya mendengar cerita dari Pak Fatih tentang semuamya, lalu saya pelajari maka saya menyarankan kalau sebaiknya Mbak Aulia menerima tawaran ini," jelas Rey.
"Tapi Pak, saya sudah bertunangan. Dan saya sudah berencana mau menikah," jawab Aulia.
Ibu dan Adiknya seketika langsung saling menoleh. Mereka juga kaget dengan kejadian ini. Lalu Ibunya menoleh kearah Aulia dan mencoba berbicara.
__ADS_1
"Lia, coba kamu pikirkan sekali lagi. Mungkin Nak Fatih tidak ada pilihan lagi, Nak," ucap Ibunya.
"Tapi Bu, aku belum bicara sama Mas Bayu, dia masih di Semarang," jawab Aulia.
"Coba kamu telpon dulu, siapa tahu dia bisa mengerti."
"Tapi Bu, aku takut mengganggu dia. Katanya kemarin dia mendadak balik ke Semarang lagi lantaran disuruh atasannya untuk mewakili perusahaannya di hotel Mulia, kali saja masih sibuk, Bu," jawab Aulia.
Reynaldi mengerutkan dahinya setelah mendengar Aulia menyebut acara di hotel Mulia Semarang. Bukannya dia kemarin juga nerada di acara tersebut.
"Kenapa wanita ini menyebut hotel Mulia dan Nama Bayu,? Apa Bayu yang dimaksud itu adalah Bayu yang aku temui di acara kemarin malam. Bukankah Bayu semalam juga bilang kalah kenal juga sama Fatih," ucap Rey dalam hati.
"Maaf Mbak Aulia. Apa calon suami Mbak yang bernama Bayu itu bekerja di perusahaan seluler ternama di negeri ini,?" tanya Rey.
"Iya Pak. Namanya Bayu anggara. Kok, Bapak kenal Mas Bayu,?" tanya Aulia balik.
"Kebetulan semalam saya bertemu Pak Bayu di acara lounching produk baru di hotel Mulia yang Mbak Aulia maksud," jawab Rey.
"Oh iya. Berarti Anda kenal Mas Bayu,?" tanya Aulia lagi.
"Kalau kenal dekat nggak juga, cuma kebetulan saja saya ketemu dengan beliau kemarin itu," jawab Rey.
Reynaldi mengajak Aulia keluar kamar sebentar untuk membicarakan sesuatu. Rey menuju ruang tengah yang sudah tidak ada siapa-siapa.
"Mbak, keadaan Pak Fatih itu sudah sangat mengkawatirkan. Dia sangat membutuhkan Mbak Aulia," ucap Rey memohon.
"Terus kalau memang saya mau menerima ini, lantas status pernikahan kami seperti apa? Apa sah dimata hukum dan agama. Atau hanya nikah siri,?" tanya Aulia.
"Tenang saja, pernikahan ini sah dimata hukum dan agama."
"Tapi, kan saya belum pernah mengurus apapun persyaratan pernikahan.?"
"Semuanya sudah saya urus, data yang saya gunakan adalah data Mbak Aulia dulu yang mau menikah dengan Pak Fatih. Semuanya masih disimpan sama Pak Fatih, jadi saya mudah mengurusnya. Kini tinggal menjalankan ijab qobul saja," jelas Rey.
Aulia kini ingat, kalau dulu dia memang sempat mau menikah dengan Fatih dan saat itu Fatih memang sempat meminta beberpa data dan identitas dirinya untuk mengurus pernikahan. Tapi dia tidak menyangka kalau semuanya itu masih disimpan Fatih.
"Baiklah Pak Rey, saya akan menghubungi Mas Bayu dulu," ucap Aulia lirih.
__ADS_1
Aulia membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Kemudian dia mencari nama Bayu lalu memencetnya. Dia sedikit menjauh dari Rey agar bisa berbicara dengan leluasa.
Sudah hampir setengah jam Aulia melakukan pembicaraan dengan Bayu di telpon. Tak lama kemudian Aulia mendekati Rey dan memberikan ponselnya kepada pengacara Fatih tersebut.
Kini Rey dan Bayu terlibat pembicaraan serius di telpon. Aulia melihat begitu seriusnya Rey bicara di telpon. Tak lama kemudian Rey mengembalikannya lagi kepada Aulia.
"*Ya sudah Mas, saya tutup telponnya, ya,?"
"Iya sayang. Hati-hati dan ingat pesan aku tadi."
"Baik Mas, makasih atas pengertiannya*."
Aulia menutup ponselnya dan kini dia masuk ke dalam kamar mengikuti Rey yang sudah masuk duluan. Rey tersenyum kepada Fatih dan membisikan sesuatu. Fatih langsung tersenyum dan menoleh kearah Aulia.
"Makasih Aulia, kamu sudah membantuku keluar dalam masalah ini," ucap Fatih pelan.
"Iya Mas, selama aku mampu melakukannya, aku akan melakukan untuk membantu kamu," jawab Aulia.
Tak lama kemudian acara ijab qobul pun dimulai. Pak penghulu serta Adik Aulia selaku wali kini duduk berdampingan. Aulia duduk bersebelahan dengan Ibunya dan Rey sebagai saksi.
Tak butuh waktu lama dan tanpa kendala akhirnya ijab qobulpun selesai. Meskipun kondisinya lemah tapi Fatih lancar mengucapkan ijab qobul dengan baik meskipun pelan.
Setelah menandatangi buku nikah masing-masing, Pak penghulu menyerahakan semuanya kepada Aulia agar disimpan.
Kini Fatih kelihatan senang karena Aulia sudah membantu dia memenuhi amanah almarhum Ayahnya. Kemudian Rey mengeluarkan beberapa berkas dari tasnya dan diberikannya kepada Fatih.
Setelah diterima Fatih, kemudian dia menyerahkannya kepada Aulia yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
"Lia, tolong kamu simpan semuanya ini, ya,?" ucap Fatih pelan.
"Iya Mas, aku akan menjaga dan menyimpan semua ini," jawab Aulia.
"Oh iya Mbak Aulia, di dalam sini ada dua surat wasiat. Tolong Mbak Aulia jaga dengan baik dan benar," ucap Rey.
Aulia kini tidak berkata apa-apa, hatinya sedih bercampur senang. Sedih karena saat ini dia sudah menjadi istri Fatih meskipun sudah mendapat ijin dari Bayu. Senangnya karena dia juga bisa membantu Fatih.
-------------------------------
__ADS_1
Next...