
Malam harinya Bayu mulai packing baju-bajunya lagi. Kali ini dia membawa banyak baju lantaran memang dia akan menetap di Jogja. Bu Santy membantu anaknya dalam membereskan barang-barangnya.
"Bay, apa kamu tidak ungin menemui Aulia lagi. Hubungan kalian gimana? Kapan hari Mama ke tempat kerjanya ternyata dia sudah pulang," ucap Bu Santy.
"Sudahlah gampang itu, Ma. Nanti Bayu akan bicara di telpon saja. Mungkin saat ini Aulia masih sibuk dengan membantu Ibunya di warung. Lumayang usaha pesanan kue basahnya lancar," jelas Bayu asal.
Bu Santy merasa ada yang disembunyikan anaknya ini. Tapi dia masih belum berani menanyakan karena dia tahu karakter anaknya kalau dipaksa cerita pasti nantinya dia akan marah.
"Oh iya, apa tidak perlu Mama dan Papa antar supaya tahu dimana kamu tinggal."
"Lain waktu saja Ma, atau kalau pas Bayu pindah ke Jogja saja. Sekarang kan Bayu masih di Semarang," jawabnya sambil tangannya membereskan baju-bajunya.
"Ya sudah kalau gitu, kamu kabari saja nanti Mama dan Papa menyusul kesana," ucap Bu Santy.
"Ma, lapar. Masakin udang asam manis dong. Ya itung-itung besok kan Bayu sudah tidak bisa menikmati masakan Mama lagi," rajuknya sambil bergelayut manja di pundak Mamanya.
"Baiklah, Mama akan masakin buat kamu."
"Asyiik.. Mama cantik dech,!" ucapnya asal.
Bu Santy hanya geleng-geleng saja melihat sikap anaknya yang tiba-tiba manja. Bu Santy berjalan menuruni anak tangga menuju dapur.
Pak Ridwan di ruang tengah sambil menonton televisi heran yang melihat istrinya yang senyum-senyum sendiri. Kemudian dia mengikuti istrinya ke dapur.
"Mama kenapa kok senyum-senyum sendiri,?" tanya Pak Ridwan tiba-tiba.
"Eh Papa, itu loh. Bayu minta dimasakain udang asam manis. Katanya kan mulai besok dia sudah tidak bisa merasakan masakan Mama," jawab Bu Santy.
"Oh kirain apa kok senyum-senyum sendiri," jawab Pak Ridwan sambil berjalan kembali ke ruang tengah.
"Eh tunggu Pa,!" teriak Bu Santy.
"Ada apa Ma.?"
__ADS_1
"Mama kok curiga sama hubungan Bayu dan Aulia ini pasti ada apa-apa. Masak dua hari di Surabaya Mama tidak melihat dia ketemu Aulia," ujar Bu Santy sambil tangannya beraktivitas di dapur.
"Iya ya, Papa juga heran. Aulia kok sudah lama nggak kesini."
"Apalagi mulai depan Bayu sudah naik jabatan sebagai menejer dan ditempatkan di Jogja. Terus rencana pernikahannya gimana.?"
"Mama sudah coba tanya ke anaknya.?"
"Sudah Pa, tapi jawabnya "santai saja Ma, nanti Bayu akan bicarakan di telpon saja. Aulia masih sibuk mungkin." Gitu Pa jawabnya," ucap Bu Santy.
"Iya juga, tapi kita percaya saja sama anak kita Ma. Mungkin memang benar seperti itu," jawab Pak Ridwan.
"Oh iya Pa, bulan depan kalau Bayu pindah ke Jogja, kita kesana ya? Mama juga ingin tahu tempat yang akan ditinggali anak semata wayang Mama," tukas Bu Santy.
"Iya Papa ngikut saja."
Akhirnya sekitar pukul delapan malam mereka baru makan malam. Bu Sanry dan Pak Ridwan menemani Bayu anak semata wayangnya untuk makan malam. Mungkin ini makan malam terakhir sebelum Bayu kembali ke Semarang dan nanti juga akan menetap di Jogja.
"Bay, selamat ya, kamu sudah diangkat menjadi menejer. Papa bangga sama kamu, Nak," ucap Pak Ridwan.
"Oh iya Dinda sudah melahirkan, Bay. Anaknya laki-laki. Mama lupa kasih tahu kamu," ucap Bu Santy antusias.
"Wuaah Ma, Bayu brlum bisa melihat. Mama baru bilang sekarang," jawab Bayu sedikit kecewa.
"Iya Mama minta maaf. Mama lupa kasih tahu, sayang," ucap Bu Santy dengan pasang muka bersalah.
"Ya udah nggak apa-apa, Ma. Mungkin kalau pas Bayu libur saja kesana. Pulang ke rumah orang tuanya, kan Ma,?" tanya Bayu meyakinkan.
"Iya sayang. Dia pulang ke rumah Ibunya. Di rumahnya Irwan kan nggak ada yang merawat."
"Iya juga sih, memang sebaiknya pulang ke rumah Ayah Arman saja," timpal Bayu.
"Ya sudah Ma, Bayu naik dulu ya. Besok subuh kan harus berangkat," ucap Bayu sambi berdiri lalu menuju kamarnya.
__ADS_1
"Iya sayang. Selamat beristirahat."
Bayu melangkah naik keatas dimana kamarnya berada. Gani ada kegiatan di sekolahnya jadi dia harus menginap di rumah temannya yang dekat dengan sekolah. Jadi kali ini Bayu tidur sendirian. Biasanya kalau Bayu pulang, Gani selalu ikut tidur sama Kakaknya itu.
Bayu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan matanya masih belum bisa terpejam. Dia masih memikirkan keadaan dan kabar Aulia. Bisa saja dia pergi ke rumah Ibunya untuk menanyakan kabarnya. Tapi, keadaannya sekarang sudah beda.
Saat dia memiringkan badannya, dia tiba-tiba kaget seolah terlintas dia melihat wajah Almarhumah Dini. Seketika Bayu langsung bangun dari tidurnya dan matanya begerilya mencari bayangan itu.
"Astaghfirulloh.. Din, tumben kamu melintas dalam pandanganku. Kamu tahu kalau aku lagi sedih. Dulu aku kira Aulia bisa menggantikan sosok dirimu yang sudah meninggalkanku. Tapi ternyata keadaannya sudah beda. Maafkan aku Din jika memang saat itu aku terlalu cepat mencari pengganti kamu, tapi kalau aku terus berlarut-larut dalam kesedihan, kamu pasti juga tidak suka. Dini, aku gelisah sekali karena Aulia tidak memberi kabar sama sekali," ucap Bayu pelan.
(***)
Keesokan harinya Bayu berangkat ke Semarang pagi-pagi sekali dengan naik kereta. Habis subuh dia diantar Papanya ke stasiun karena dia naik kereta yang keberangkatan pertama.
Bayu memang sengaja naik kereta supaya bisa santai dengan menikmati pemandangan pagi hari di jalan menuju Semarang.
"Maaf Nak, apa disini masih kosong. Boleh saya duduk,?" ucap seseorang di sebelahnya.
Bayu sontak mendongakan kepalanya dan mencari sumber suara tersebut. Dia mendapati seorang wanita paruh baya yang sudah berdiri dengan membawa tasnya. Bayu buru-buru berdiri dan membantu wanita itu untuk meletakan tasnya diatas.
"Oh iya silakan Bu, kebetulan kursi ini memang saya pesan yang tadinya buat naruh tas-tas yang saya bawa. Tapi ternyata semua sudah cukup masuk diatas sini," jawab Bayu dengan menujukkan tas-tasnya di rak atas.
"Makasih ya Nak."
"Iya Bu sama-sama. Silakan duduk, Ibu sebelah jendela saja biar nanti nggak kesenggol-senggol sama penumpang lain yang lewat. Biar saya saja duduk yang di pinggir," tawar Bayu dengan mempersilakan Ibu itu untuk duduk di dekat jendela.
"MashaAllah kamu baik Nak, Ibu senang sekali bertemu dengan anak muda sebaik kamu dan masih peduli dengan orang tua," ucap Ibu itu sambil memegang tangan Bayu.
"Oh iya Bu, kenalkan nama saya Bayu. Lengkapnya Bayu anggara," ucap Bayu sambil mengulurkan tangannya.
"Bayu anggara,?"
---------------------------
__ADS_1
Next...