
Bayu semakin penasaran ketika melihat Ibunya Dini tengah menangis sendiri di rumah makan ini. Ingin rasanya dirinya menghampiri untuk menanyakan sesuatu apa yang tengah terjadi, tapi niatan itu diurungkan lantaran ada seseorang yang tidak dia kenal sedang menghampiri Bu Heny.
Kini Bayu kembali duduk di kursinya sambil menunggu Aulia. Tak lama kemudian Aulia datang dan langsung menuju meja dimana Bayu tengah menunggunya.
"Sudah lama, Mas? Maaf, tadi macet di jalan raya darmo. Ada perbaikan gorong-gorong," ucap Aulia.
"Nggak apa-apa, Lia. Aku juga baru sampai kok. Kamu tadi naik apa.?"
"Aku naik taksi Mas. Tadi habis dari bank urus rekening buat rumah singgah itu. Semua yang awalnya masuk ke rekeningku sekarang aku buatkan rekening sendiri. Jadi kedepannya untuk urusan keuangan anak-anak, langsung bisa diambilkan dari rekening tersebut," jelas Aulia.
"Oh iya, aku sudah transfer uang catering. Coba kamu cek," ucap Bayu.
"Loh,! Aku belum lihat, kenapa buru-buru sih, Mas. Kan sama aja acara itu buat aku juga. Ya saling bantu satu sama lain," jawab Aulia.
Bayu menatap wanita pujaannya itu laku memegang tangannya sambil tersenyum.
"Sayang, inilah yang dari dulu nggak berubah dari kamu. Aku makin sayang sama kamu, Lia. Kamu memang wanita yang sangat pengertian banget. Soal uang catering, nggak usah dibahas lagi. Kamu simpan saja untuk nanti jika ada keperluan mendesak," jelas Bayu pelan.
"Iya Mas. Terserah kamu saja," jawab Aulia lirih.
"Tadi aku sudah pesan dua nasi krawu sama es teh manis. Kamu belum makan, kan?" ucap Bayu.
"Iya Mas, aku belum sempat makan. Sarapan tadi hanya minum susu saja."
"Ya ampun Lia, kamu jangan sampai telat makan. Nanti kalau kamu sakit gimana? Tolong, jangan sampai lalai gitu, ya,?" ucap Bayu sambil memegang pipi Aulia.
Aulia menatap calon suaminya itu dengan tatapan yang lembut. Dia sangat beruntung karena sudah dipertemukan dengan laki-laki yang baik seperti Bayu. Bagaimana dia tidak baik, seorang laki-laki bujangan yang belum pernah menikah sama sekali masih mau menerima pacarnya yang sudah pernah menikah dengan orang lain.
__ADS_1
Bayu membalas tatapan lembut Aulia dengan senyuman yang manis. Sejenak keduanya tenggelam dalam pikurannya masing-masing. Benih-benih cinta yang kini tengah mekar-mekarnya membuat keduanya dimabuk asmara.
Memang tidak butuh pendidikan tinggi untuk mengerti apa itu cinta. Karena kalau cinta sudah mereka, tidak peduli itu siapa, karena setiap insan berhak merasakannya. Baik itu pengemis, orang biasa bahkan pejabat sekalipun kalau sudah meraskaan cinta, pasti semua menjadi indah.
Sebagai manusia biasa, Bayu dan Aulia juga bagian dari orang-orang yang berhak merasakan apa itu cinta. Mereka berusaha menyatukan perbedaan yang ada sebagai satu tujuan yaitu pernikahan.
Sudah hampir dua tahun mereka mengenal satu sama lain, bahkan hubungannya sempat terhalang karena suatu hal yang memang tidak bisa di lawan.
Kini keduanya tengah menyiapkan semuanya guna menjalankan separuh agamanya yaitu menikah. Pertengahan bulan depan adalah hari dimana mereka berdua sepakat mengikat janji seumur hidup.
"Gimana Lia, sekarang kamu sudah kenyang, kan?" ucap Bayu saat setelah selasai makan.
"Ya ampun Mas, aku kenyang banget. Makasih, ya?" jawab Aulia.
"Sama-sama sayang. Karena itu juga bagian dari tanggung jawabku. Itung-itung aku belajar menjadi suami idaman," sahut Bayu dengan menatap Aulia.
"Amin., aku beruntung sekali karena sudah mempunyai kamu, Mas. Aku sangat berterima kasih sekali sama Allah karena masih sempat memiliki kamu, dulu saat aku menikah dengan Mas Fatih, aku merasa separuh jiwaku pergi karena aku merasa sudah tidak ada harapan lagi bisa bersama kamu. Tapi, Allah mendengarkan doa-doaku, jika memang kita ditakdirkan berjodoh, maka suatu hari nanti kesempatan itu pasti datang kepadaku, dan saat ini kesempatan itu sudah menghampiriku," jelas Aulia dengan mata yang mulai berembun.
"Iya Mas. Aku senang sekali akhirnya kita bisa bersama-sama lagi. Dan aku akan ikut kemanapun kamu pergi," jawab Aulia.
"Makasih sayang, kamu memang pengertian banget. Setelah menikah nanti, kamu akan aku bawa ke Semarang. Disana kita akan memulai hidup baru sebagai pasangan yang halal," ucap Bayu dengan tersenyum.
"Iya Mas. Aku sudah siap jika harus ikut tinggal dengan kamu di Semarang," ucap Aulia lembut.
"Oh iya sayang, ngomong-ngomong jika nanti kamu ikut ke Semarang, Ibu dan adik kamu gimana? Mereka setuju jika kamu pindah ke Semarang,?" tanya Bayu.
"Mereka setuju saja Mas, nanti Ibu dan Rafi akan aku suruh tinggal di rumahku saja. Soalnya di rumah itu ada Bibi dan Pak Udin, jadi mereka pasti nggak kesepian," jawab Aulia.
__ADS_1
"Lantas rumah Ibu kamu kamu gimana.?"
"Kalau memang ada yang ngontrak ya nggak apa-apa, Mas. Lumayan uangnya bisa ditabung."
"Baguslah kalau gitu. Untuk warungnya gimana.?"
"Warung akan aku pindahkan saja. Aku akan mencarikan tempat yang lebih layak buat usaha rumah makannya Ibu. Rafi nanti aku kasih tugas urus usahanya Mas Fatih yang selama ini aku jalankan. Kan masih ada dua asistennya Mas Fatih, biar mereka yang bantu Rafi," jelas Aulia.
"Syukurlah kalau memang kamu sudah mempersiapkan semuanya. Jadi, setelah ini kamu fokus jadi istri Bayu Anggara. Soal aktivitas, aku serahkan kamu saja. Kalau kamu mau usaha apa gitu, nanti pasti aku dukung," jawab Bayu.
"Mungkin sementara aku akan fokus jadi Ibu rumah tangga saja, Mas. Karena aku tidak akan menunda untuk punya momongan," jawab Aulia malu-malu.
Bayu nampak sumringah setelah mendengar Aulia yang tidak ingin menunda punya anak. Dia sendiri juga tidak sabar untuk segera menikah dan punya anak.
Usianya saat ini memang mendekati kepala tiga, jadi seharusnya dia sudah punya anak. Jika Aulia sudah bersedia langsung punya momongan, semua itu membuat Bayu senang.
"Kamu serius, sayang? Kamu sudah siap jika langsung punya momongan,?" tanya Bayu nggak percaya.
"Iya Mas. Tujuan menikah selain menyempurnakan separuh agama, kan memang untuk mendapatkan keturunan yang sholeh dan sholeha, jadi aku siap Mas," jelas Aulia.
"Jujur aku dulu merasa kalau kamu nanti setelah menikah bakal menunda untuk punya momongan. Karena memang usia kamu masih muda, aku pikir kamu belum siap," ucap Bayu pelan.
"Enggaklah Mas, memang usiaku masih menginjak dua puluh dua tahun, tapi insyaAllah aku siap untuk punya anak," jawab Aulia.
"Alhamdulilah kalau gitu sayang, sekali lagi aku katakan kalau aku beruntung sekali punya kamu, pengertian banget," ucap Bayu.
"Iya Mas, disamping memang aku siap jika nanti langsung punya anak, aku juga harus ngertiin kamu. Usia kamu saat ini sudah seharusnya punya anak. Maka dari itu aku akan berikan kamu keturunan yang baik," batin Aulia.
__ADS_1
----------------------------------
Next....