MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 80 (Pesona Windy di mata Bu Santy)


__ADS_3

Bayu akhirnya ketiduran di kursi itu. Tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul empat sore. Bu Santy dan Pak Ridwan sudah bangun dan mandi, sekarang mereka duduk di teras depan.


Bayu membuka matanya lalu memperhatikan sekelilingnya. Sepi tidak ada siapa-siapa. Bu Sumi juga nggak kelihatan di dapur. Lalu Bayu berdiri melihat orang tuanya masih tidur apa sudah bangun.


Setelah sampai di kamar ternyata pintunya kebuka dan dia tidak mendapati kedua orang tuanya. Lalu dia menuju teras kemungkinan mereka lagi santai di di depan.


"Loh, Ma..Pa, kok disini. Masuk aja di dalam," ucap Bayu sesampainya dia di depan.


"Enakan disini, Bay. Sore-sore sambil menikmati udara sore," jawab Papanya.


Bayu masih mendapati sikap Mamanya yang masih dingin terhadapnya. Kemudian dia mendekati perempuan yang menjadi cinta pertamanya itu. Bayu menurunkan badannya dan berjongkok di hadapan Bu Santy yang duduk di kursi.


Pak Ridwan hanya memandangi kedua insan yang menjadi semangat hidupnya selama ini. Bayu perlahan meraih tangan Mamanya dan menciumnya.


"Ma, maafkan Bayu jika telah membuat Mama kecewa. Bayu janji tidak akan membuat Mama seperti ini lagi," ucapnya pelan.


Bu Santy hanya menatap sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia masih terdiam dan tanpa merespon anaknya kali ini.


"Ma, itu anaknya sudah minta maaf. Masa nggak kasihan," ucap Pak Ridwan.


"Mama mau ke belakang dulu bantu Bu Sumi," jawabnya sambil berdiri lalu meninggalkan Bayu dan Pak Ridwan.


Bayu hanya menundukan wajahnya dan masih dengan posisi jongkok. Kemudian Pak Ridwan menepuk pundaknya untuk menyuruhnya duduk di kursi yang tadinya di tempati Bu Santy.


"Sabar Bay, mungkin Mama kamu masih terpukul dengan masalah kamu dan Aulia. Sudah jangan terlalu dipikirkan, pasti nanti dia akan kembali bersikap seperti biasanya," ucap Pak Ridwan menghibur.


"Iya Pa, tapi Bayu tidak pernah berselisih dengan Mama sampai seperti ini. Padahal kan tadi Bayu menjawab belum tahu soal Papa yang menanyakan apa Bayu akan balik sama Aulia lagi. Tapi, Mama keburu salah pengertian," ucap Bayu melas.


"Iya nggak apa-apa. Nanti Papa bantu bicara sama Mama kamu."


"Iya makasih Pa."


"Oh iya, Papa ingin tanya sama kamu. Apa kamu memang berniat balikan sama Aulia,?" tanya Pak Ridwan.


"Kalau boleh jujur, Bayu mau Pa. Tapi, Bayu masih perlu waktu dan mental untuk kembali mendekati Aulia."


"Kamu masih cinta sama dia.?"


Bayu mengangguk pelan sambil menatap Papanya. " Iya Pa."

__ADS_1


"Kalau memang kamu masih cinta sama dia, perjuangkan dia. Papa akan dukung kalian," ucap Pak Ridwan sambil memegang tangan Bayu.


"Makasih Pa, Bayu sangat senang mendengar perkataan Papa," jawab Bayu dengan mata berbinar.


"Iya Nak. Bagi Papa, kebahagiaan kamu yang utama."


"Iya Pa, sekali lagi terima kasih. Tapi, Bayu masih belum bisa lakukan itu sekarang. Selain memang Bayu perlu waktu, Bayu juga masih fokus dengan jabatan Bayu yang baru ini. Bayu harus profesional dan fokus," jelas Bayu.


"Sippp...! Bagus itu. Kamu memang kebanggaan Papa."


Ketika Bayu dan Pak Ridwan sedang ngobrol-ngobrol, tiba-tiba ada mobil masuk ke pelataran mess. Ketika si empunya turun dari mobil ternyata Windy.


"Selamat sore Pak Bayu, Pak Ridwan," sapanya dengan sopan.


"Sore juga Nak Windy," jawab Pak Ridwan.


"Sore juga Bu Windy," kini Bayu menyauti.


"Bu Santy mana, Pak. Ini saya bawakan bolu kukus khas kota ini. Pasti beliau suka," ucap Windy sembari menunjukkan paper bag yang berisikan kue tersebut.


"Oh Mama ada di dalam. Silakan masuk dulu Bu. Biar saya panggilkan Mama," ujar Bayu sambil membawa bingkisan ke dalam.


Windy masuk langsung duduk di ruang tamu. Sedangkan Bayu ke dalam untuk memanggil Mamanya. Pak Ridwan ikut duduk sambil menemani Windy.


"Ma, ada Bu Windy. Ini kue buat Mama dari dia," ucap Bayu sambil menyerahkan oleh-oleh dari Windy.


Seketika mata Bu Santy langsung berbinar setelah Bayu menyebut nama Windy. Kemudian dia menerima apa yang diberikan oleh Bayu.


"Anaknya sekarang dimana,?" tanya Bu Santy.


"Lagi di ruang tamu sama Papa."


"Baiklah kalau gitu, Mama temui Windy sekarang," ucapnya antusias.


Bu Santy langsung berjalan mrnuju ruang tamu dimana Windy sudah menunggu. Bayu meminta tolong sama Bu Sumi untuk memindahkan kue ke piring serta buatin minum.


"Hy Nak Windy, Ibu senang deh Nak Windy jadi main kesini," ucap Bu Santy sambil menyalami gadis itu.


"Iya Bu, ini tadi urusan saya selesai sekalian mampir. Lalu saya membeli bolu kukus tadi buat Ibu biar tahu rasanya," jawab Windy.

__ADS_1


Tak lama kemudian Bu Sumi keluar sambil membawakan minuman dan kue yang dibawakan oleh Windy tadi. Bu Santy kelihatan senang sekali dengan kedatangn Windy.


"Makasih ya, Nak Windy sudah repot-repot bawakan kue buat Ibu," ucap Bu Santy.


"Sama-sama Bu, nggak ngerepotin kok. Kebetulan saja searah sama jalan pulang," jawab Windy pelan.


"Oh iya Bu Windy, saya tinggal sholat dulu ya," ucap Bayu.


"Iya, Bapak juga mau ke belakang," sahut Pak Ridwan.


Windy hanya mengangguk pelan, kini hanya tinggal berdua saja di ruang tamu. Bu Santy tak henti-hentinya memperhatikan Windy. Sepertinya Bu Santy sudah jatuh hati sama Windy.


"Oh iya, Nak Windy ini tinggal sama sama orang tua apa gimana,?" tanya Bu Santy.


"Oh kebetulan saya sudah tidak punya orang tua. Lalu keluarga yang lain tinggalnya jauh-jauh. Ada yang di Surabaya, ada juga yang diluar Jawa," jawab Windy.


"Ya ampun maafin Ibu ya, saya nggak tahu kalau Nak Windy ini tinggal sendiri," jawab Bu Santy.


"Nggak apa-apa, Bu. Santai saja," jawab Windy datar.


"Oh iya, kuenya Ibu cicipi, ya.?"


"Silakan, Bu."


Bu Santy mengambil kue yang tadi dibawakan oleh Windy. Setelah dia mencicipinya, seketika dia tersenyum.


"Hmmm.., ini enak sekali Nak Windy, rasanya pas, manisnya juga mantap," seru Bu Santy.


"Iya Bu, bolu ini memang terkenal disini. Saya sering beli untuk camilan di rumah," jawab Windy.


Ketika mereka sedang ngobrol-ngobrol, tiba-tiba ponsel Windy berdering. Kemudian Windy mengambil ponselnya itu lalu membukanya.


Seketika matanya membulat karena melihat nama yang tertera di ponselnya itu. Tiba-tiba wajahnya memerah dan seperti ketakutan.


"Nak Windy ada apa? Nak Windy nggak apa-apa, kan,?"


------------------------------


Next...

__ADS_1


__ADS_2