MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 81 (Kawatir)


__ADS_3

Windy tidak langsung mengangkat telpon itu karena yang menelpon adalah Brian. Dia sebenarnya sudah nggak suka lagi sama laki-laki itu, tapi Brian masih saja ngejar-ngejar dirinya.


"Kenapa Nak Windy, kok nggak diangkat,?" tanya Bu Santy.


"Nggak apa-apa, Bu. Lagi nggak pingin aja terima telpon," jawabnya asal.


Bu Santy menangkap ada ketidak senangan pada raut wajah Windy saat melihat ada telpon masuk. Tapi, dia tidak mau ikut campur.


Akhirnya di rijek oleh Windy dan meletakan ponselnya diatas meja. Dia kembali ngobrol dengan Mamanya Bayu. Tak lama kemudian Bayu keluar dan bergabung dengan mereka.


Ketika Bayu hendak mendaratkan tubuhnya di kursi, tiba-tiba posel Windy berdering lagi. Ada nama Brian tertera di ponselnya itu. Bayu sempat melihat tulisan tersebut.


"Bu Windy angkat dulu, siapa tahu penting," ucap Bayu.


"Biarkan saja Pak."


"Iya Nak Windy, angkat saja dulu. Siapa tahu penting," sahut Bu Santy.


"Nggak apa-apa Bu. Nanti saja saya telpon balik," jawabnya sambil melirik Bayu.


"Memangnya dari siapa Nak? Kok kelihatannya penting gitu," tanya Bu Santy.


"Biasa Ma, itu dari pacarnya Bu Windy. Bener kan Bu,?" sahut Bayu dengan sedikit meledek Windy.


"Ah Pak Bayu bisa saja, malu kan ada Bu Santy," jawab Windy sambil tersipu malu.


Seketika muka Bu Santy mengkerut setelah Bayu bilang kalau itu dari pacarnya Windy. Sepertinya dia hendak menjodohkan Bayu dengan Windy, makanya dia langsung kecewa saat Windy ada telpon dari laki-laki.


"Oh iya Nak Windy, Ibu juga belum sholat Ashar, ditemani Bayu dulu ya?"


"Iya silakan Bu, makasih sudah menemani saya," jawabnya.


Bu Santy berjalan ke dalam dengan wajah yang ditekuk. Kemudian dia masuk ke kamar mencari suaminya. Lalu dia pasang muka cemberut.


"Kenapa Ma, kok mukanya ditekut gitu. Berantem lagi sama Bayu,?" tanya Pak Ridwan.


"Sebel, ternyata Windy sudah punya pacar," jawabnya sewot.


"Kenapa memangnya kalau dia punya pacar? Masalah buat Mama,?" kini pertanyaan Pak Ridwan seolah menyudutkannya.


"Papa ini gimana sih! masa ya nggak peka juga. Mama kan mau menjodohkan Bayu dengan Windy,!" jawabnya sambil mendelik kearah Pak Ridwan.

__ADS_1


"Loh,! Mama kok gitu sih? Belum-belum kok sudah main jodoh-jodohkan. Bayu itu cintanya sama Aulia bukan sama Windy," jawab suaminya.


"Iya Mama tahu, tapi Mama nggak setuju kalau dia balik sama Aulia. Windy itu mirip sekali dengan Dini. Pastinya nantinya dia timbul rasa cinta," tukas Bu Santy.


"Ya ampun Ma, kok sampai segitunya niatan Mama menjodohkan mereka. Sudahlah Ma, itu urusan anak muda. Bayu sudah dewasa, biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri. Kita sebagai orang tua tinggal mendoakan yang terbaik," jelas Pak Ridwan.


Bu Santy terdiam dan masih pasang muka cemberut. Dia hanya pasrah, tapi dalam hatinya dia nggak setuju kalau Bayu kembali sama Aulia.


"Mama mau tidur, capek,!" ucapnya pelan.


"Mama..Mama, jek sore kok wes mapan turu, ora ilok Ma.., Ma..(Masih sore kok sudah siap tidur, pamalih Ma..Ma..)" jawab Pak Ridwan.


(***)


Keesokan harinya Pak Ridwan dan Bu Santy balik Surabaya. Pagi-pagi Bayu mengantarkan kedua orang tuanya ke stasiun. Mereka tidak mau naik pesawat, jadi akhirnya mereka naik kereta biar agak santai.


Setibanya kembali ke mess Bayu menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Dia masih heran dengan sikap Mamanya kemarin. Kalau Bu Santy tidak merestui hubungnya kembali dengan Aulia, dia tidak bisa apa-apa.


Bayu tergolong anak yang penurut dan patuh sama orang tuanya, terutama sama Mamanya dia tidak bisa menolak atau melawan. Cuma kali ini dia harus bisa tegas karena bagaimanapun dia harus memperjuangkan cintanya.


"Den Bayu mau sarapan apa,?" tanya Bu Sumi pelan.


"Nanti saja Bu, saya masih belum nafsu makan."


"Iya Bu gampang nanti saya ambil sendiri. Masih jam setengah tujuh, saya mau siap-siap dulu," jawabnya sembari melangkah ke kamarnya.


"Baik Den."


(***)


SURABAYA


Siang harinya sekitar pukul dua siang Bu Santy dan Pak Ridwan sudah sampai stasiun Gubeng Surabaya. Kemudian mereka naik taksi menuju rumahnya yang terletak di tengah kota.


"Pa, Mama hari ini malas Masak. Kita nanti mampir beli makanan di temat langganan kita saja," ucap Bu Santy.


"Terserah Mama saja," jawab Pak Ridwan datar.


"Oh iya Pak, nanti di depan mampir bentar di rumah makan RAHAYU, ya Pak,?" ucap Bu Santy pada sopir taksi tersebut.


"Siap Bu.!"

__ADS_1


Sesampainya di rumah makan tersebut, Bu Santy turun sendiri karena memang makanannya dibungkus dibawa pulang.


"Siang Bu Lukman, saya pesen seperti biasanya, ya," ucap Bu Santy pada pemilik rumah makan langganannya itu.


"Eh Bu Santy, siang juga. Ayam panggang sama urap-urap, ya."


"Iya Bu. Tapi pakai nasi soalnya baru datang jadi nggak sempat masak nasi," jawabnya.


"Memangnya dari mana.?"


"Dari Semarang, anak saya kan dilindah kerja disana. Kemarin saya dan Papanya datang untuk menghadiri kenaikan jabatan," jelas Bu Santy.


"Oh jadi Mas Bayu pindah ke sana. Lalu istrinya juga dibawa kesana,?" tanya Bu Lukman.


"Bayu belum menikah, Bu," jawab Bu Santy lirih.


"Oh maaf, kirain yang Ibu ajak kesini itu istri Bayu. Soalnya dulu Bayu kadang kesini sama gadis itu," ucap Bu Lukman.


"Oh tidak, belum Bu. Nggak tahu kapan anak-anak itu," jawabnya asal.


"Oh iya, ini pesanannya Bu. Semuanya enam puluh ribu," ucap Bu lukman.


"Makasih Bu. Permisi," ujar Bu Snaty sambil berlalu.


Bu Santy masuk taksi dengan wajah ditekuk lagi. Pak Ridwan heran dengan istrinya ini. Bawaannya cemberut saja.


"Kenapa lagi sih, Ma,?" tanya Pak Ridwan saat dijalan menuju pulang.


"Gara-gara Aulia yang selalu mengulur-ulur waktu untuk diajak nikah Bayu, sekarang semua yang tahu hubungan mereka pada tanya. Malu kan, Mama.!"


"Sudahlah Ma, nanti kalau memang sudah saatnya Bayu menikah, pasti ada jalannya," jawab Pak Ridwan menghibur.


"Kenapa dulu Aulia pakai mau menerima tawaran mantan tunangannya. Dia kan sudah berkomitmen sama Bayu."


"Masalah ini kesalahan bukan pada Aulia saja, Ma. Bayu juga punya andil. Seharusnya dia nggak keburu emosi dan cemburu. Dia juga harus tegas dan tidak membiarkan Aulia menerima semua itu. Tapi, kalau Papa ambil sisi positifnya, mungkin Bayu juga nggak tega dengan keadaan Fatih, jadi dia mengijinkan Aulia melakukan hal ini," jelas Pak Ridwan.


"Bayu itu terlalu naif, dia kok nggak mikir efek dari semua ini. Mama jadi sebel sama anak itu,!" runtuk Bu Santy.


Ciiiiiitttt..!


Mobil tiba-tiba berhenti mendadak. Pak Ridwan dan Bu Santy saling pandang karena taksi tiba-tiba berhenti.

__ADS_1


---------------------------


Next...


__ADS_2