MENGENANGMU

MENGENANGMU
MENGENANGMU Part : 64 (Kenalan)


__ADS_3

Bayu hanya menoleh kearah orang yang tak sengaja menbraknya barusan. Seketika dia kaget karena orang itu tak lain adalah orang yang tak sengaja ketemu di toilet tadi.


Bayu menautkan alisnya untuk mencoba mengingat. Setelah itu dia tersenyum kearah orang tersebut.


"Maaf, kalau tidak salah Anda kan yang telpon di toilet tadi,?" ucap Bayu.


"Oh iya, Pak. Anda benar, saya tadi yang telpin di toilet dan ketemu sama Anda," jawabnya singkat.


"Maaf ya Pak, saya tidak sengaja karena telah menabrak Anda," ucap Bayu sambil senyum.


"Oh justru sayalah yang harus minta maaf karena memang saya yang menabrak Anda," sahut laki-laki itu.


Tiba-tiba Bayu mengulurkan tangannya untuk mengajak kenalan laki-laki itu.


"Kenalkan, saya Bayu."


"Oh iya, saya Rey. Lebih tepatnya Reynaldi," jawabnya.


"Emm., Anda temannya Pak Robert,?" tanya Bayu.


"Oh kebetulan Pak Robert mempercayakan kepada kantor kami dalam hal perlindungan hukum. Ya lebih tepatnya saya penasehat hukum di kantor Pak Robert," jelas Rey.


"Oh gitu, kalau saya adalah salah satu rekan bisnisnya. Saya mewakili perusahaan seluler tempat saya bekerja," jawab Bayu.


"Oh perusahaan seluler terbesar di Indonesia yang pernah Pak Robert ceritakan sama saya itu,?" tanya Rey.


"Iya betul, Pak."


Tak lama kemudian Windy menghampiri mereka berdua untuk bergabung. Rey langsung terpukau dengan kecantikan Wanita yang kini berdiri di hadapannya kali ini.


"Hay Pak Bayu, apa perlu saya ambilkan makanan,?" tanya Windy.


"Oh nggak usah, Bu Windy. Nanti biar saya ambil sendiri."


"Oh ya sudah kalau gitu," jawab Windy santai.


"Oh iya Bu, kenalkan ini Pak Rey pengacaranya Pak Robert. Pak Rey ini rekan saya Bu Windy."


"Windy," ucap Windy.


"Reynaldi," jawabnya.

__ADS_1


Mereka saling bersalaman satu sama lain. Windy melemparkan senyum begitu pula Rey. Akhirnya mereka bertiga ngobrol-ngobrol seputar pekerjaan.


"Oh iya Pak Bayu, Pak Rey. Saya tinggal sebentar, ya,?" ucap Windy.


Bayu dan Rey menganggukan kepalanya. Lalu mereka kembali melanjutkan ngobrol lagi.


"Oh iya Pak Rey, apa saya boleh tanya sesuatu,?" ucap Bayu memberanikan diri.


"Oh iya Pak Bayu, silakan apa ada yang bisa saya bantu," jawabnya.


"Saat di toilet kalau tidak salah dengar Pak Rey berbicara di telpon menyebut nama Fatih, Apa Fatih yang Bapak maksud itu Fatih bramantyo,?" tanya Bayu.


"Iya benar, Fatih bramantyo. Pak Bayu kenal dengan beliau,?" kini Rey balik bertanya.


"Kalau kenal dekat sih, enggak. Kebetulan calon istri saya itu yang kenal dengan beliau. Dan saat ini kesehatannya lagi terganggu," jawab Bayu pelan.


"Iya Pak Bayu, saya kasihan sama beliau. Almarhum Ayahnya kan membuat surat wasiat, Pak Fatih itu harus menikah dengan perempuan yang dulu pernah dijodohkan dengannya supaya bisa menggunakan harta peninggalan yang di bank. Tapi, perempuan tersebut tidak bersedia. Sekarang keadaan Pak Fatih sudah mulai lemah, jadi saya disuruh membuat surat wasiat kembali yang baru," jelas Rey.


"Oh gitu, pelik juga ya,?" ucap Bayu.


"Iya juga sih, Pak. Tapi, tadi saat ditelpon saya disuruh Pak Fatih buat surat wasiat baru. Tapi belum tahu isinya. Makanya besok pagi saya berangkat ke Surabaya," jawab Rey.


"Ya mudah-mudahan permasalahannya cepat selesai, dan Pak Fatih segera sembuh dari penyakitnya."


"Sama-sama, Pak."


Tak lama kemudian Rey pamitan untuk ke menemui Pak Robert. Kini Bayu sendirian berdiri di tempat semula. Pikirannya kembali teringat apa yang diceritakan Aulia. Ternyat memang benar adanya soal kondisi Fatih.


Bayu jadi kasihan sama Fatih, bagaimanapun juga dia punya hati. Memang sebelumnya dia jengkel sekali sama laki-laki itu. Mentang-mentang dia sedang sakit, seolah memanfaatkan keadaan.


"Ya Allah, mudah-mudahan masalah Fatih segera selesai. Agar Aulia tidak lagi dilibatkan dalam masalah itu terus," ucap Bayu pelan.


Tak terasa ternyata sudah mendekati akhir acara tersebut. Bayu dan Windy memutuskan untuk pulang. Setelah berpamitan dengan Pak Robert, mereka berdua langsung meninggalkan tempat tersebut.


(***)


Keesokan harinya, di rumah Aulia dia sedang membatu Ibunya seperti biasa. Tak lama kemudian Adikny Aulia berlari dari luar dengan tergesa-gesa.


"Aha..hah.., Kak, diluar ada yang mencari Kakak," ucapnya dengan sedikit tersengal.


"Kamu kenapa, kok sampai gitu. Bicara itu pelan-pelan. Memangnya siapa yang mencari Kakak,?" jawab Aulia.

__ADS_1


"Itu Kak, asistennya Kak Fatih."


"Asistennya Mas Fatih, ada apa lagi dia," ucap Aulia pelan.


Kemudian dia melangkah keluar menuju teras rumah. Dan ternyata benar disitu sudah ada asistennya Fatih yang tengah duduk di kursi teras.


"Eh, Mbak Aulia. Maaf kalau saya datang tidak mengabari Anda. Mbak Aulia dimohon datang ke rumahnya bos Fatih. Penting, Mbak.!"


"Untuk apa lagi, Pak. Kan kemarin saya sudah bilang sama Mas Fatih kalau saya tidak bisa menerima tawaran tersebut," jawab Aulia.


"Mbak, untuk kali ini saya mohon ketulusan hati Mbak Aulia untuk datang. Keadaan bos Fatih sudah melemah. Dan Mbak Aulia segera dimohon untuk datang," ucap laki-laki itu memohon.


"Tapi untuk keperluan apa, Pak.?"


"Saya secara detail kurang faham, tadi pengacaranya bos Fatih bilang saya disuruh memanggil Anda."


"Pengacara,! Kok pakai pengacara segala,? Ada apa sebenarnya ini Pak,?" tanya Aulia cemas.


"Kalau Mbak Aulia ingin tahu lebih jelas, sebaiknya Mbak Aulia ikut saya segera."


Aulia melihat kearah halaman rumahnya yang nggak behitu luas, namun masih cukup kalau di masuki satu dua mobil. Kali ini asistennya Fatih memang membawa mobil untuk menjemput Aulia.


Aulia sedikit bingung mau apa enggak. Sedangkan dia masih memikirkan omongan asistennya Fatih barusan kalau Fatih sekarang keadaannya sudah melemah.


"Baiklah Pak, saya mau. Tunggu sebentar saya ambil tas dulu."


"Oh iya Mbak. Ajak sekalian Ibu dan Adik Mbak Aulia," ucap laki-laki itu.


"Kenapa mereka disuruh ikut,?" tanya Aulia.


"Saya nggak tahu, Mbak. Yang jrlas perintahnya seperti itu."


Aulia masuk untuk mengambil tasnya dan memanggil Ibu dan Adiknya. Akhirnya mereka berdua ganti baju dengan yang lebih rapi.


Aulia, Ibu serta Adiknya langsung masuk mobil yang sudah terparkir dihalaman rumahnya. Dan melajulah mobil tersebut menyusuri jalan raya kota Surabaya menuju rumah Fatih.


Sekitar tiga puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai di rumah Fatih yang besar itu. Ada dua mobil yang terpakir di halaman rumah tersebut. Kemudian Aulia dan Ibu serta Adiknya masuk diantar asistennya tersebut.


Dan ketika sudah sampai di dalam rumah, ada beberapa orang yang tidak ia kenal. Mereka rata-rata berpakaian rapi layaknya pekerja kantoran. Aulia semakin bingung ada apa sebenarnya ini.


----------------------------

__ADS_1


Next...


__ADS_2