
Setelah kejadian di rumah Dinda, Bayu sekarang banyak diam dan lebih sering menyendiri di kamar. Seperti halnya hari ini, Bayu menyendiri di kamarnya sambil melihati foto-foto Dini.
Tak terasa matanya mengembun karena dia lagi rindu dengan wanita yang selama ini memberi warna dalam hidupnya, tapi dia sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Bayu meneteskan air mata yang selama ini sudah nggak mau menetes, entah hari ini tadi dia tidak bisa membendung air matanya. Apalagi dia selalu mendengarkan lagunya Blackout yang judulnya Selalu ada.
**Betapa hancur hati, hilang gairah hidup.
Serasa hampa selimuti di jiwa.
Tak ada lagi tawa, dan tak ada ceria.
Semua hilang terkubur dalam duka.
Dia kini telah pergi jauh.
Terbang tinggi tinggalkanku disini.
Tuhan Engkau tahu aku mencintainya.
Dan tak ada yang bisa mengganti dirinya.
Tuhan hanya dia yang selalu ada, dalam anganku, dalam benakku.
Bayu memandangi fotonya dengan Dini. Dia kalau kangen dengan almarhumah tunangannya itu selalu melihati foto-foto tersebut. Sebenarnya dia sudah sedikit bisa membuka hati saat dia bertemu dengan Aulia. Cuma dia hanya sebatas kagum saja, karena keanggunannya mirip dengan Dini.
Tapi, sebelum dia berani mendekati Aulia. Dia dapat kabar kalau dia sudah dilamar orang. Ya mungkin kini dia kembali terhanyut dengan situasi seperti sebelumnya.
Apalagi ketika dia merasa dibohongi Dinda dengan memaksa untuk minta dinikahi olehnya. Dia semakin sulit untuk membuka hati buat wanita lain. Disaat dia mulai membuka hati tapi keadaan yang membuatnya kembali tenggelam dalam kenangan Dini.
Hari ini dia ambil cuti tiga hari. Karena memang jatah cutinya masih banyak sebelum ganyi tahun harus sudah habis. Pagi harinya dia turun ke meja makan untuk sarapan bersama dengan orang tua dan Gani adik angkatnya.
"Pagi Ma, Pa, dan kamu si bawel Gani.!" sapanya sambil mengambil tempat duduk.
"Pagi juga, Nak."
"Pagi juga, Kak Bayu."
"Kamu nggak kerja, Bay?" tanya Papanya.
"Hari ini Bayu cuti, Pa!"
__ADS_1
"Oh cuti. Gimana keadaan kamu sekarang.?" tanya Bu Santy.
"Nggak apa-apa, Ma." jawab Bayu.
Pak Ridwan dan Bu Santy saling pandang. Kayaknya anaknya ini sedikit bisa pulih larena sebelumnya dia menyendiri dan diam.
"Oh iya, Gani. Hari ini kamu bareng Bapak sama Ibu aja." ucap Bu Santy.
"Iya, Bu. Gani nurit saja."
"Oh iya, Ma, Pa. Hari ini Bayu minta ijin mau keluar. Mau ke tempat teman." ucap Bayu.
"Kamu sama siapa, Bay.?" tanya Mamanya.
"Sendiri aja, Ma. Mungkin nanti sore baru balik." jawab Bayu.
"Oke sayang, hati-hati ya."
"Baiklah, Ma."
Tak lama kemudian Bayu meninggalkan meja makan setelah menyalami kedua orang tuanya. Gani hanya senang saja kalau melihat Kakaknya sudah nggak murung dan sedih lagi.
Bayu menuju garasi untuk mengambil mobilnya lalu mengemudikannya meninggalkan rumahnya. Dia menyusuri jalan raya Surabaya sudah mulai padat merayap.
Ketika mendekati sebuah daerah, tepatnya Surabaya bagian selatan yang terkenal dengan kerajinan sepatunya. Dia memilih tempat untuk memarkirkan mobilnya.
Akhirnya dia menemukan sebuah tanah kosong dekat rumah temannya itu. Temannya kali ini adalah pemilik usaha sepatu tersebut.
"Bayu.,!" serunya saat Bayu berkalan mendekati rumahnya.
Bayu tersenyum lalu duduk disamping temannya itu. "Hai Rud, apa kabar?"
"Tumben kamu kesini.?"
"Iya, nih. Aku mau ajak kerja sama nih."
"Oh iya, benarkah itu Bay.?" sahut Rudy.
"Aku mau buka outlet di salah satu Mall, kira-kira sepatu dan sandal-sandal kamu bisa nggak aku ambil buat aku jual."
"Wooow, boleh banget Bay. Dengan senang hati aku mau membantunya." Rudi dengan semangatnya merespon.
__ADS_1
"Aku ingin barang-barang kamu nantinya bisa terkenal dan punya nilai jual tinggi jika sudah dipromosikan dan masuk Mall." jawab Bayu.
Ketika Bayu dan Rudi sedang berdiskusi tentang join untuk bisnis sepatu dan sandal, tiba-tiba Bayu menangkap seorang laki-laki keluar dari rumah yang lumayan bagus dan besar.
Rumah itu pas dihadapan rumah Rudi cuma selisih dua rumah, jadi dia masih bisa melihat dengan jelas siapa yang keluar dari rumah itu.
"Rud, laki-laki yang keluar dari rumah itu siapa?" tanya Bayu dengan matanya yang masih menatap kearah laki-laki tersebut.
"Oh itu, dia Pak Fatih suaminya Bu Maya.!" jawab Rudi dengan santai.
"Apa.,! Suaminya Bu Maya? Jadi dia sudah menikah.?" tanya Bayu kaget.
"Iya, ang kenapa, Bay.?"
Bayu langsung teringat dengan Aulia, gadis manis dan anggun yang sempat menyita perhatiannya itu. Masak dia akan menikah dengan laki-laki yang sudah menikah.
Rudi yang melihat perubahan sikap temannya itu langsung bingung, kenap dia tiba-tiba jadi diam dan menatap laki-laki yang kini sudah masuk mobil.
"Bay, apa kamu kenal dengan Pak Fatih.?"
"Kenal sih enggak, cuma dia itu mau dijodohkan dengan temanku."
"Aduh Bay, kalau bisa batalin saja. Kasihan temanmu itu. Dia memang kaya, istrinya sudah dua. Ini Bu Maya istri kedua. Dia terkenal trempamen sama istri-istrinya. Bu Maya saja sering kena tampar bahkan pukul. Orang-orang sini nggak berani melawan karena takut." jelas Rudi.
"Ya ampun, Rud. Beneran.?"
"Iya, sudah kalau bisa kasih tahu temanmu itu untuk membatalkannya." jawab Rudi.
"Tapi, gimana caranya ya. Sedangkan alasannya kenapa dia berani menerima lamaran Pak Fatih itu karena apa, aku juga belum tahu.!" jawab Bayu.
"Yang pasti rata-rata soal uang. Bapaknya Pak Broto kan terkenal sebagai lintah darat. Pasti korban yang kena jeratan hutangnya itu biasanya kalau nggak dinikahkan sama anaknya Fatih itu, ya dia nikahi sendiri." jelas Rudi.
"Beneran Rud, kamu nggak mengada-ada, kan.?"
"Sumpah, Bay. Buat apa aku harus bohong sama kamu. Kalau saran aku sih, kamu kasih tahu temanmu itu untuk membatalkannya. Kalau memang urusannya soal hutang, bantulah dia. Karena aku kasihan melihatnya. Sudah sering aku menyaksikan Bu Maya di bentak dan ditampar." jawab Rudi.
Bayu semakin gelisa dengan infi yang didapat dari temannya ini. Dia memang ingin kalau Aulia tidak jadi menikah dengan laki-laki itu. Tapi, bagaimana cara memberitahukan Aulia dan keluarganya soal berita ini.
Kini Bayu terhanyut lagi dalam belenggu hatinya yang mulai diselimuti rasa kekawatiran. Jiwa ingin melindungi berontak. Dan bagaimanapun juga dia harus memperjuangkan hatinya untuk mendapatkan Aulia.
Andai saja laki-laki itu baik dan biaa membahagiakan Aulia dan melindunginya, maka dia tidak akan sepanik ini untuk menolongnya.
__ADS_1
----------------------------
Next....