Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 10 : Anak Bayi


__ADS_3

"Mau kemana kamu??!"


Anita sudah terlihat naik pitam ketika Dini sudah tidak berada di ruangannya lagi, ia melihat Fryan beranjak dari kursinya.


"Mau ikutin Kak Dini,'' jawab Fryan sambil menunjuk pintu.


"DUDUK!'' seru Nita sambil menunjuk kursi.


"Tapi Kak..''


''Nggak ada tapi-tapian, sekarang jelaskan ada apa diantara kamu sama Dini?'' Nita sudah kesusahan mengontrol amarahnya sendiri, meskipun suaminya sudah berusaha menenangkan dengan mengusap lengannya.


''Aku keluar aja,'' ucap Aldo.


Aldo merasa ini urusan istri dan adik iparnya, ia tak ingin ikut campur terlebih dahulu, selain bukan urusannya, tentu saja jika ada Aldo di ruangan ini, Fryan bisa canggung.


Nita hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus pada adiknya.


''Kak, dengarkan dulu, jangan langsung marah-marah,'' pinta Fryan.

__ADS_1


Nita langsung menghela nafasnya.


''Apa yang mau kamu jelaskan ke Kakak?''


''Kak, ini memang salahku, aku terlalu terbawa perasaan.. aku.. a-aku sudah bilang ke Kak Dini tentang perasaanku waktu antar pulang setelah resepsi pernikahan Kakak dan yah responnya begitu, seperti yang kakak lihat,'' jelas Fryan lesu.


''Apa? Serius? kenapa sih kamu nggak mau denger omongan Kakak hah?? sekarang kamu lihat, Dini semakin menjauh, dia tidak mau gabung sama kita lagi, kakak bilang jangan buru-buru Fryaann...'' omel Nita.


''Kakak bilang aku buru-buru?? bukankah Kakak sendiri yang menjadi saksi semua ini? sejak pertama kali aku cerita, dari kita masih sama-sama sekolah dan bahkan sekarang kalian sudah lulus kuliah, apa itu waktu yang singkat Kak? sudah berapa lama aku menunggu? bahkan Kakak memintaku buat mengikhlaskan kak Dini untuk menerima laki-laki lain terlebih dahulu agar tidak curiga..'' jelas Fryan dengan sorot matanya yang pilu.


"Dan satu lagi, tanyakan pada bang Aldo, bagaimana menunggu seseorang yang dicintainya dengan waktu yang tidak sebentar?? apakah dia mau menunggu kakak ngejar karir dulu tanpa mau dinikahi? nggak kan? bang Aldo juga nungguin Kakak sejak dulu karena dia benar-benar serius sama kakak, tapi bedanya kalian memiliki status yang jelas, sedangkan aku??'' tunjuk Fryan pada dirinya.


Anita tak bisa membendung air matanya, ia begitu menyayangi kedua sosok ini, kata demi kata yang disampaikan Fryan benar-benar menusuk hatinya.


''Maafin Kakak, Fryan'' Nita langsung memeluk Fryan.


''Nggak seharusnya Kakak langsung marah-marah sama kamu, Kakak sangat menyayangi kalian berdua, Kakak nggak mau kita harus seperti ini, mending lihat kalian berantem setiap ketemu daripada harus seperti ini, Kakak bingung kalau sampai Dini benar-benar marah dan tidak mau dekat dengan kita lagi,'' jelas Nita sedih.


''Kak, kakak jangan khawatir ya, aku pasti akan membawa kak Dini ke keluarga kita.

__ADS_1


Mungkin saat ini Kak Dini masih shock, yang penting Kakak jangan terlalu ikut campur, bila perlu jangan sampai ikut campur deh, pura-pura nggak tau aja, permasalahan ini antara aku dan kak Dini, aku akan bertanggungjawab mengembalikan persahabatan kalian..'' ujar Fryan optimis.


''Bener dek?'' tanya Nita.


Fryan mengangguk semangat.


''Kakak tunggu,'' Nita kembali berbinar.


''Jangan panggil aku dek lagi Kak, aku bukan anak kecil..'' gerutu Fryan.


''Hmmm iye KAPRII...'' ledek Nita.


''Hey jangan ikut-ikutan anda.. itu khusus panggilan sayang dari calon bini..'' protes Fryan.


Begitulah kakak beradik, kalau tidak ada adegan berantem sepertinya kurang greget.


''Apa?? calon bini?? oke deh mulai sekarang Kakak akan mendeklarasikan untuk tidak ikut campur, kakak akan melihat seberapa kerennya anak bayi ini berusaha mendapatkan cintanya hahahaha'' ledek Nita.


''Enak aja anak bayi!! udah bisa bikin bayi nih,'' celetuk Fryan lalu menutup mulutnya karena keceplosan dan langsung disambut gelak tawa dari kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2