
''Sayang..''
Fryan membuka pintu kamar lalu menutup kembali dengan pelan.
Melihat istrinya duduk terdiam di tepi ranjang dengan wajah di tekuk, lalu ia melanjutkan langkahnya menghampiri Dini.
''Sayang, jangan marah, Salma itu temen aku.'' ujar Fryan.
''Temen pake peluk-pelukan!'' sungut Dini.
''Bukan peluk-pelukan, dia yang tiba-tiba meluk sayang..'' jelas Fryan.
''Iya asik ngobrol berdua kangen-kangenan sampai istrinya sendiri di cuekin, mungkin kalau nggak ada aku sudah lanjut kencan! MEWUJUDKAN PERJODOHAN AYAH!'' sungut Dini semakin kesal sendiri.
Bukannya marah, Fryan malah semakin mengulumkan senyumnya karena yakin sang istri tengah menyimpan cemburu yang ditutupi rasa gengsi.
''Udahan cemburunya, sini.. aku cuma milik kamu dan kamu milik aku.'' Fryan merentangkan tangannya hendak memeluk istrinya, tetapi Dini bergeser semakin menjaga jarak.
''Siapa juga yang cemburu! jangan kepedean!!''
''Masa sih? yakin??'' goda Fryan.
Dini kembali melengos.
''Yaudah deh aku temuin Salma.''
Fryan pura-pura keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan, namun tidak terlalu rapat agar bisa mengintip istrinya.
Sementara di dalam, tiba-tiba air mata Dini sudah mengalir karena sedari tadi tertahan di pelupuk matanya.
''JAHAT!! KAPRI JAHAT!!'' Dini memukul-mukul bantalnya kesal.
''DASAR NGGAK PEKA!!''
''Siapa yang nggak peka hem?'' Fryan sudah kembali lagi dan berada di belakang istrinya.
''Hah?!'' Dini langsung gelagapan melihat suaminya.
''Sana pergi temui Salma, sana!'' usir Dini.
''Udah, udah..'' Fryan langsung memeluk istrinya yang masih menangis sesenggukan.
''Kamu jahat!'' kata Dini sela-sela tangisannya.
''Maafin aku ya.. aku juga cemburu kalau sampai ada yang meluk kamu.''
''Itu kamu tau!'' gerutu Dini.
Fryan tersenyum karena secara tidak menyadari, Dini mengungkapkan rasa cemburunya.
''Sebagai permintaan maaf dari si kacang kapri, aku akan memasak untuk istriku, spesial.'' ucap Fryan.
__ADS_1
''Kamu tunggu disini, biar aku yang melakukan semuanya.'' ujar Fryan lalu mengusap rambut istrinya gemas.
Fryan kembali melangkah keluar dari kamar dan memulai menyiapkan bahan-bahan masakannya.
Sedangkan di kamar, Dini masih memikirkan kenapa dirinya bisa semarah ini dan kenapa Fryan malah senyum-senyum.
''Kenapa sih aku harus marah? terus si Kapri ngapain malah senyum-senyum gitu?'' gumamnya.
''Masa sih aku cemburu? Ishh bisa kepedean dia.'' gerutu Dini.
''Kenapa pas dipeluk jadi lebih tenang? sekarang kok jadi sepi di tinggal sendirian..''
Dini melihat di sekitarnya, Fryan sudah ke bawah.
Karena merasa kesepian, akhirnya Dini ikut turun ke bawah menyusul sang suami. Meskipun masih dalam mode ngambek.
''Loh sayang kok udah turun?'' tanya Fryan sambil menuangkan potongan ayam ke minyak yang sudah panas.
''Emang nggak boleh?!''
''Biar di temenin Salma? atau sekalian Felly gitu?!!'' ketus Dini.
Fryan yang masih menatap wajan langsung menoleh ke arah istrinya yang hendak berbalik arah ke atas.
''Eeeeiittss mau kemana? aku kan cuma nanya sayang.. kirain masih ngambek jadi belum mau turun.'' kejar Fryan langsung menggendong tubuh istrinya dan mendudukkan di kursi.
''Udah ngomongnya jangan kemana-mana, ngomongin kita berdua aja ya..'' Fryan mengecup kening Dini lama, lalu berpindah ke bibir sekilas.
''Bentar ya nanti gosong.'' ucap Fryan lalu kembali menghadap wajan.
''Ya ampun cucianku..'' Dini langsung menepuk keningnya.
''Kenapa sayang?'' tanya Fryan melihat Dini berdiri.
''Cucian.'' jawab Dini langsung berjalan ke belakang dan menyelesaikan cuciannya.
''Ooohh..''
Fryan fokus menyelesaikan menggoreng ayam dan membuat tumisan simpel untuk makan siang bersama istri tercinta.
..
Setelah selesai memasak, Fryan menyajikan hasil masakannya di atas meja, menyiapkan satu piring dan juga gelas berisi air mineral.
''Sayang, ayok makan dulu..'' ajak Fryan di belakang karena Dini masih menjemur pakaian.
''Bentar.'' jawab Dini.
Karena tidak mau menunggu lebih lama, Fryan membantu Dini menjemur pakaian yang sebetulnya tinggal sedikit, tetapi ia yang pengen cepat-cepat makan bareng istri.
''Wahh wanginya.. hmm gimana ya kalau isinya?'' ujar Fryan tanpa rasa canggung sambil mencium sesuatu.
__ADS_1
''FRYAAN!!''
Dini langsung merebut sesuatu yang di pegang oleh Fryan, yaitu segitiga pelindung aset.
''Ehehehe''
Fryan hanya cengengesan mendapat teriakan dan plototan dari istrinya.
''Sudah selesai kan sayang? ayok makan mumpung masih anget.''
Dini tidak menjawab, ia berjalan mendahului suaminya lalu menuangkan air minum ke dalam gelas.
''Sini duduk, sebagai permintaan maaf.. aku mau nyuapin kamu.''
''Bisa makan sendiri.'' sahut Dini.
''Sssttt dilarang nolak.''
Fryan mengambil nasi, sayur dan juga lauk, lalu menyuapi istrinya.
''Aaaa emmm.. pinternya cintaku.'' kata Fryan lalu mengambil nasi yang tersisa di sudut bibir Dini.
Dini yang awal-awalnya menolak akhirnya mau menerima suapan dari suaminya dengan menunduk malu.
''Enak.'' batin Dini.
''Enak kan masakanku?'' tanya Fryan yakin.
''Hemm, makasih.'' jawab Dini.
Bagaimana pun juga, Dini harus mengakui dan menghargai suaminya.
''Sama-sama, maafin aku ya..'' ucap Fryan.
''Nggak boleh loh yang lama-lama marah..'' lanjutnya sambil memberikan suapan lagi.
''He'em..'' jawab Dini yang mulutnya terasa penuh.
''Kamu juga makan.'' ujar Dini setelah menelan makanannya.
''Tapi, syaratnya kamu maafin aku dulu, jangan marah lagi..'' ujar Fryan.
''Iya aku nggak marah.'' jawab Dini.
''Senyum dong kalau nggak marah.'' pinta Fryan.
''Hiiiiiiiiiii...'' Dini meringis memperlihatkan giginya membuat Fryan langsung terkekeh gemas.
Makan siang yang seharusnya bisa lebih cepat di selesaikan, tetapi karena terjadi drama dan adegan jahil dari Fryan, terpaksa waktu selesai lebih lambat.
''Fryan ih, bisa jalan sendiri..''
__ADS_1
''Pengen gendong.''
Fryan mengangkat tubuh istrinya di depan membuat Dini langsung reflek mengalungkan tangannya di leher Fryan karena takut kejengkang.