
Fryan segera menghubungi anggotanya untuk mengurus tanah tersebut agar bisa secepat mungkin di bangun.
''Kak Dini.. gue harus cari tau siapa laki-laki itu, kak Dini nggak boleh sama laki-laki lain,'' batin Fryan.
.
Sementara itu, Dini membereskan mejanya yang sedikit berantakan karena waktu sudah menunjukkan istirahat makan siang.
''Dini, sudah selesai?'' tanya Ardi.
''Eh Pak, sudah Pak, sudah..'' jawab Dini terkejut.
''Kamu lucu banget sih, gitu aja kaget..'' ujarnya kemudian terkekeh.
''Hehe iya Pak maaf saya tidak lihat Bapak datang..''
''Ada yang bisa saya bantu Pak?'' tanya Dini.
''Oh, tidak, tidak ada.. saya cuma pengen ngajak kamu makan siang.'' ujarnya.
''Tapi Pak..'' jawab Dini ragu.
''Santai aja, kita ke cafe deket sini aja kok, baliknya nggak mungkin telat..''ujarnya lagi.
''Baik Pak..''
Dini tidak enak menolak ajakan seniornya yang memiliki jabatan sebagai manager itu, salah satu orang penting karena masih memiliki hubungan keluarga dengan pemilik perusahaan, pria tampan berusia 27 tahun dan belum menikah.
Dini merasa tidak enak saat berjalan keluar dan mendapat tatapan yang beranekaragam dari beberapa gadis yang melihatnya bersama Ardi.
__ADS_1
Namun, karena ia merasa tak melakukan kesalahan apapun, Dini tetap berusaha menyapa para senior yang ia temui meskipun responnya terlihat tidak mengenakkan.
''Kenapa mereka terlihat aneh? apa di antara mereka ada yang sedang pedekate dengan Bapak?'' tanya Dini polos.
''Apa? hahaha ya nggaklah, mana mungkin,'' jawab Ardi lalu membukakan pintu untuk Dini.
''Aduh Pak maaf, saya bisa buka sendiri kok..'' ucap Dini semakin tidak enak.
''Sudahlah, ayok, jangan buang-buang waktu..'' ujarnya.
''Iya Pak, terimakasih..'' jawab Dini kemudian masuk ke dalam mobil.
Ardi mengajak Dini untuk makan siang di cafe langganannya, sebenarnya di kantor juga memiliki kantin, tetapi, ia selalu mencari di luar karena tidak suka dengan keriuhan para karyawan disana.
Beberapa menit mereka sudah sampai di sebuah cafe dan Ardi langsung memesan makanan serta minuman.
''Belum Pak,''
''Syukurlah,'' batinnya lega.
''Emm, kamu tinggalnya dimana?'' tanyanya lagi.
''Saya ngekos Pak,''
''Oh gitu.. apa kamu bukan asli sini kok ngekos?''
''Sebenarnya tidak sampai sejam dari rumah orangtuanya saya ke kantor, hanya saja saya takut terlambat atau terjadi hal-hal yang tidak terduga, jadinya saya memilih ngekos saja yang dekat sini,'' jelas Dini seraya tersenyum.
''Luar biasa sekali kamu Dini, kamu benar-benar anak yang disiplin dan mandiri.'' pujinya.
__ADS_1
Dini hanya nyengir canggung.
Pesanan datang, mereka langsung menyantap menu makan siang dengan lahap.
Beberapa kali Ardi mencuri pandang kepada gadis cantik di hadapannya, sedangkan Dini hanya fokus pada makanannya.
.
''Terimakasih ya Dini sudah menemani saya makan siang.'' ucap Ardi setelah mereka selesai makan.
''Saya yang harusnya berterima kasih ke Bapak..'' ujar Dini.
''Ya sudah sama-sama terimakasih kalau gitu..''
''Iya Pak hehe,''
''Ya sudah kalau gitu, kita balik ke kantor ya..'' ujarnya.
''Baik Pak,''
Ardi sudah merasakan ketertarikan kepada Dini sejak Dini magang di kantor ini, ia yang sering membimbing Dini dalam mempelajari pekerjaan.
''Terimakasih Pak untuk traktirannya,'' ucap Dini setelah mereka tiba di kantor.
''Sama-sama, sering-sering ya..'' jawabnya lalu berlalu meninggalkan Dini.
Beberapa detik Dini berfikir keras apa maksud kata-kata dari Ardi, tetapi sesaat kemudian memilih mengabaikannya dan kembali ke meja kerja.
''Hey anak baru, sepertinya ada yang senang sekali ya bisa makan siang romantis sama ponakan bos yang tampan itu..'' cibir seorang gadis cantik yang merupakan sekretaris bosnya.
__ADS_1