Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 20 : Jangan Sok Keras!


__ADS_3

Fryan tidak peduli, bahkan ia bisa melihat ekspresi keterkejutan Dini dan rasa ingin marah dari gadis itu yang tertahan.


''Cepet masuk Kak.'' bisiknya.


Fryan langsung menutup pintu setelah Dini masuk ke dalam mobil, dan kembali menatap Dito lalu mendekat dengan langkah yang gagah.


''JANGAN PERNAH GANGGU DIA LAGI!'' pekik Fryan tepat di depan wajah Dito dan kemudian berbalik arah.


''Cih! bocah ingusan jangan sok keras!''


Fryan tidak menggubris dan langsung masuk ke dalam mobil.


Tanpa ada percakapan di antara dirinya dan Dini, keadaan hening, Fryan melihat Dini terus menatap ke arah luar.


Sesekali Fryan melirik, tetapi Dini masih dengan posisinya yang belum berubah.


''Kenapa rasanya masih sakit melihat Dito? dulu aku sangat mencintainya sebelum rasa cinta itu berubah jadi benci, dan kenapa tiba-tiba dia hadir lagi disini..'' batin Dini.


Saking seriusnya dalam bayangan, Dini tidak menyadari kemana arah tujuan saat ini.


''Dimana ini? kamu mau nyulik Kakak?'' tanya Dini setelah menyadari mobil tidak berjalan lagi.


Mereka berada di depan satu bangunan rumah yang sudah rapi berada paling ujung, sedangkan di sampingnya tampak banyak sekali material bangunan.


''Hmm nuduh lagi.. proyek baru Kakak .'' Fryan langsung turun dan membukakan pintu untuk Dini.


''Proyek baru?'' tanya Dini sambil turun dari mobil, kedua matanya mengitari semuanya.


''Iya, do'ain lancar ya Kak, aku sengaja bangun rumah dulu kecil-kecilan disini, biar bisa untuk istirahat pas kontrol para pekerja.'' jawab Fryan sambil menuntun Dini untuk masuk ke rumahnya.


''Terus sekarang kemana para pekerjanya?'' tanya Dini heran melihat keadaan yang sepi.


''Hari Minggu libur.'' jawabnya.

__ADS_1


''Oohh..''


''Selamat datang Kakak.. yah begini masih seadanya, tapi sudah ada perlengkapannya dikit-dikit, kita istirahat dulu..'' ajak Fryan.


Fryan mengajak Dini memasuki rumahnya, Dini memutar pandangan untuk melihat isi rumah tersebut.


''Duduk dulu Kak, aku ambilkan minuman dulu..''


Dini mengangguk dan langsung duduk di sofa ruang keluarga.


Beberapa saat kemudian, Fryan kembali dengan membawa dua botol minuman dingin dan beberapa cemilan yang ia beli beberapa hari yang lalu.


''Makasih.'' ucap Dini.


''Sama-sama.'' jawab Fryan dengan senyuman mengembang.


Dini dan Fryan langsung meneguk minuman dingin tersebut, karena pertemuan tak sengaja mereka dengan Dito membuat tenggorokan menjadi seperti musim kemarau.


Setelah menyisakan setengah botol, Fryan menutup kembali dan menyandarkan kepalanya.


''Apa?''


''Apa Kakak masih menganggapku anak kecil?''


''Iya.''


Fryan langsung kembali menegakkan posisi duduknya sambil menatap Dini.


''Apa selama ini Kakak tidak menyadari kalau aku menyukai Kakak?''


Dini juga langsung menghadap ke arah Fryan.


''Fryan, maaf untuk hari ini, karena Dito kamu harus ikut berkorban.''

__ADS_1


''Aku sedang tidak mengungkit cowok brengs*k itu Kak.''


''Kakak sudah menganggap kamu seperti adik sendiri Fryan, tidak lebih, maaf..'' ucap Dini lirih.


''Kamu bisa mencari perempuan yang seusia denganmu.'' imbuhnya.


''Apa salah jika aku menyukai wanita yang umurnya diatasku? toh usia kita nggak terlalu jauh.''


Dini menghela nafas.


''Fryan, bukan begitu maksud Kakak.. kakak sayang banget sama kamu, tapi, untuk menjadi pasangan rasanya sulit.'' jawab Dini.


''Apa Kak Dini sudah punya pacar baru?'' selidik Fryan.


Dini menggeleng cepat.


''Apa teman laki-laki di tempat kerja Kak Dini itu pacar Kakak sekarang?''


Dini memicingkan matanya tidak mengerti dengan pertanyaan konyol dari Fryan.


''Kakak nggak ngerti maksud kamu Fryan, bahkan Kakak belum banyak akrab dengan orang-orang disana, Kakak berteman dengan semuanya.''


Fryan menghembuskan nafasnya.


''Iya aku percaya, maaf.'' ucap Fryan lirih.


Fryan meraih kedua bahu Dini agar menghadapnya.


''Kakak pasti tau, aku belum pernah memiliki hubungan dengan gadis manapun, aku yakin Kakak bisa membuktikan itu, selama ini aku lebih memilih menjadi pengawal kalian karena gadis incaranku adalah Kakak, aku tidak mau Kakak kenapa-kenapa, saat kakak dekat dengan pria brengs*k itu, aku hanya bisa bersabar.


Nggak bisakah Kakak lihat aku sekarang yang bukan anak kecil lagi?''


Dini tidak bergeming, ia memperhatikan tatapan sendu Fryan yang selama ini ternyata menyimpan rasa sedih.

__ADS_1


Dini tidak menemukan titik kebohongan pada ungkapan Fryan, ia merasakan ketulusan itu, tetapi rasanya masih sulit untuk menerima Fryan menjadi pasangannya.


__ADS_2